Selasa, 04 Agustus 2015

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk ( TLKM.JK ) - Laba Bersih Bertumbuh Sebesar 2,19% - Semester I 2015


Perusahaan telekomunikasi terbesar dan terkemuka di Indonesia PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mencetak laba bersih pada laporan Semester I 2015 mencapai Rp7,45 triliun atau Rp75,85 per saham, Laba bersih tersebut meningkat 2,19% dari Laba bersih pada periode yang sama tahun 2014 yaitu Rp7,29 triliun atau Rp74,95 per saham.

Pencapaian kinerja TLKM tersebut didukung oleh Pendapatan perseroan pada Semester I 2015 mengalami pertumbuhan sebesar 12,17% menjadi Rp48,84 triliun dari pendapatan pada Q1 2014 sebesar Rp43,54 triliun. Pendapatan Telkom terdiri dari Pendapatan Telepon, pendapatan interkoneksi (interkoneksi domestik dan international), pendapatan data, internet, dan jasa teknologi informatika, pendapatan sewa jaringan, pendapatan jasa telekomunikasi lainnya (Customer Premise Equipment (CPE) dan terminal pendapatan Sewa, E-paymnet, dan lainnya). Di bawah ini adalah rincian Pendapatan TLKM pada Semester I 2015 dan Semester I 2014 yaitu:

  1. Pendapatan telepon – Rp22,05 triliun dan Rp21,02 triliun.
  2. Pendapatan Interkoneksi – Rp2,24 triliun dan Rp2,38 triliun.
  3. Pendapatan data, internet, jasa IT – Rp22,01 triliun dan Rp18,27 triliun.
  4. Pendapatan sewa jaringan – Rp0,48 triliun dan Rp0,59 triliun.
  5. Pendapatan Jasa telekomunikasi lainnya – Rp2,07 triliun dan Rp1,28 triliun.

Beban Usaha perseroan pada Semester I 2015 mencapai Rp33,72 triliun, tumbuh 12,84% dari beban usaha pada Semester I 2014 yaitu Rp29,47 triliun. Beban usaha perseroan terdiri dari Beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi (Rp14,03 triliun pada Semester I 2015 dan Rp10,77 triliun pada Semester I 2014), Beban Penyusutan dan Amortisasi (Rp8,79 triliun dan Rp8,16 triliun), Beban Karyawan (Rp5,89 triliun dan Rp4,79 triliun), dan Beban Interkoneksi (Rp1,95 triliun dan Rp2,55 triliun), serta Beban Umum dan Pemasaran (Rp3,43 triliun dan Rp3,31 triliun, dan Pendapatan (Beban) Lainnya (Rp0,35 triliun dan Rp0,25 triliun). Beban Keuangan Perseroan meningkat dari Rp0,86 triliun menjadi Rp1,00 triliun.

Total aset Telkom hingga Semester I 2015 mencapai Rp154,05 triliun naik dari Rp141,82 triliun pada tahun 2014. Total utang perseroan mengalami meningkat dari Rp55,69 triliun tahun 2014 menjadi Rp71,79 triliun pada Semester I 2015.








Catatan:

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk / (Telkom) (TLKM) pada mulanya merupakan bagian dari "Post en Telegraafdienst", yang didirikan pada tahun 1884. Pada tahun 1991, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1991, status Telkom diubah menjadi perseroan terbatas milik negara ("Persero"). Kantor pusat Telkom berlokasi di Jalan Japati No. 1, Bandung, Jawa Barat.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Persero) biasa disebut Telkom Indonesia atau Telkomsaja (IDX:TLKM ,LSE: TKID, NYSE: TLK) adalah perusahaan informasi dan komunikasiserta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap di Indonesia. Telkom mengklaim sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, dengan jumlah pelanggan telepon tetap sebanyak 15 juta dan pelanggan telepon seluler sebanyak 104 juta.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Telkom adalah menyelenggarakan jaringan dan jasa telekomunikasi, informatika, serta optimalisasi sumber daya perusahaan, dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, TLKM menjalankan kegiatan yang meliputi: (a) Usaha Utama: Merencanakan, membangun, menyediakan, mengembangkan, mengoperasikan, memasarkan atau menjual, menyewakan, dan memelihara jaringan telekomunikasi dan informatika (b) Usaha Penunjang: 1).Menyediakan jasa transaksi pembayaran dan pengiriman uang melalui jaringan telekomunikasi dan informatika. 2).Menjalankan kegiatan dan usaha lain dalam rangka optimalisasi sumber daya yang dimiliki Perusahaan, yang antara lain meliputi pemanfaatan aktiva tetap dan aktiva bergerak, fasilitas sistem informasi, fasilitas pendidikan dan pelatihan, dan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan.

Jumlah saham TLKM sesaat sebelum penawaran umum perdana (Initial Public Offering atau IPO) adalah 8.400.000.000, yang terdiri dari 8.399.999.999 saham Seri B dan 1 saham Seri A Dwiwarna yang seluruhnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 14 November 1995, Pemerintah menjual saham Telkom yang terdiri dari 933.333.000 saham baru Seri B dan 233.334.000 saham Seri B milik Pemerintah kepada masyarakat melalui IPO di Bursa Efek Indonesia ("BEI") (dahulu Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya), dan penawaran dan pencatatan di Bursa Efek New York ("NYSE") dan Bursa Efek London ("LSE") atas 700.000.000 saham Seri B milik Pemerintah dalam bentuk American Depositary Shares ("ADS"). Terdapat 35.000.000 ADS dan masing-masing ADS mewakili 20 saham Seri B pada saat itu.

Telkom hanya menerbitkan 1 saham Seri A Dwiwarna yang dimiliki oleh Pemerintah dan tidak dapat dialihkan kepada siapapun, dan mempunyai hak veto dalam RUPS Telkom berkaitan dengan pengangkatan dan penggantian Dewan Komisaris dan Direksi, penerbitan saham baru, serta perubahan Anggaran Dasar Perusahaan.

Telkom merupakan salah satu BUMN yang sahamnya saat ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia(52,47%), dan 47,53% dimiliki oleh Publik, Bank of New York, dan Investor dalam Negeri.[1]Telkom juga menjadi pemegang saham mayoritas di 13 anak perusahaan, termasuk PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

Direktur Utama Telkom saat ini adalah Alex Janangkih Sinaga, menggantikan Arief Yahya yang telah menjadi Menteri Pariwisata di Kabinet Kerja Jokowi[2][3].


Sejarah

Era kolonia

Pada tahun 1882, didirikan sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegraf. Layanan komunikasi kemudian dikonsolidasikan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke dalam jawatan Post Telegraaf Telefoon (PTT). Sebelumnya, pada tanggal 23 Oktober 1856, dimulai pengoperasian layanan jasa telegraf elektromagnetik pertama yang menghubungkan Jakarta (Batavia) dengan Bogor (Buitenzorg).[4] Pada tahun 2009 momen tersebut dijadikan sebagai patokan hari lahir Telkom.

Perusahaan negara

Pada tahun 1961, status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Kemudian pada tahun 1965, PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro) dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).

Perumtel

Pada tahun 1974, PN Telekomunikasi diubah namanya menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional. Tahun 1980 seluruh saham PT Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat) diambil alih oleh pemerintah RI menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel. Pada tahun 1989, ditetapkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi, yang juga mengatur peran swasta dalam penyelenggaraan telekomunikasi.

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero)

Pada tahun 1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1991.

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk

Pada tanggal 14 November 1995 dilakukan Penawaran Umum Perdana saham Telkom. Sejak itu saham Telkom tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) (keduanya sekarang bernama Bursa Efek Indonesia (BEI)), Bursa Saham New York (NYSE) dan Bursa Saham London (LSE). Saham Telkom juga diperdagangkan tanpa pencatatan di Bursa Saham Tokyo. Jumlah saham yang dilepas saat itu adalah 933 juta lembar saham.

Tahun 1999 ditetapkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Sejak tahun 1989, Pemerintah Indonesia melakukan deregulasi di sektor telekomunikasi dengan membuka kompetisi pasar bebas. Dengan demikian, Telkom tidak lagi memonopoli telekomunikasi Indonesia.

Tahun 2001 Telkom membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara Telkom dan Indosat. Sejak bulan Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.

Pada 23 Oktober 2009, Telkom meluncurkan "New Telkom" ("Telkom baru") yang ditandai dengan penggantian identitas perusahaan.

Komposisi kepemilikan Saham

Pada Penawaran saham pada 14 November 1995 dan block sale Desember 1996, komposisi saham Telkom menjadi:

Pemerintah Indonesia: 75,80%
Publik free-float: 24,2%

Per 7 Mei 1999, komposisi saham Telkom menjadi:

Pemerintah Indonesia: 66,20%
Publik free-float: 33,80%

Per 8 Desember 2001, Saham Telkom berubah menjadi:

Pemerintah Indonesia: 54,30%
Publik free-float: 45,70%

Per 16 Juli 2002, saham Telkom berubah kembali menjadi:

Pemerintah Indonesia: 51,19%
Publik free-float: 40,21%
Bank of New York dan Investor dalam Negeri: 8,79%

Sebelum Penawaran saham perdana, Telkom 100% dimiliki Pemerintah Indonesia




saham . bursajkse
#TLKM

PT Adira Dinamika Multi Tbk ( ADMF.JK ) - Laba bersih Turun Sebesar 60% - Semester I 2015

Image result for PT Adira Dinamika Multi Tbk

Emiten pembiayaan konsumen dari anak usaha Bank Danamon PT Adira Dinamika Multi Tbk (ADMF) membukukan penurunan laba bersih sebesar 60% YoY (Year on Year) menjadi Rp197,96 miliar atau Rp198 per saham dibandingkan Rp541,58 miliar atau Rp542 per saham pada Semester I tahun 2014.

Penurunan kinerja ADMF pada semester I 2015 tersebut disebabkan oleh penurunan pendapatan usaha Perseroan pada Semester I 2015 yaitu sebesar 3,68% menjadi Rp3,93 triliun dibandingkan dengan Pendapatan usaha Semester I 2014 yaitu Rp4,08 triliun. Di bawah ini adalah rincian pendapatan usaha Perseroan pada Semester I 2015 dan Semester I 2014 yaitu

  1. Pembiayaan konsumen – Rp2,82 triliun dan Rp2,80 triliun.
    • Kendaraan roda 2 / Motor – Rp2,02 triliun dan Rp2,03 triliun
    • Mobil – Rp0,80 triliun dan Rp0,78 triliun
  2. Sewa pembiayaan – Rp0,14 triliun dan Rp0,11 triliun.
  3. Lain-lain – Rp0,97 triliun dan Rp1,17 triliun.

Beban Keuangan dan Bunga Perseroan meningkat dari Rp1,06 triliun menjadi Rp1,13 triliun, sedangkan Beban usaha dan lainnya mengalami penurunan sedikit dari Rp2,57 triliun menjadi Rp2,57 miliar.

Total aset Adira pada SemesterI 2015 mencapai Rp29,86 triliun, turun sedikit dari Total aset pada tahun 2014 yaitu Rp29,93 triliun. Total Utang perseroan mencapai Rp25,94 triliun naik sedikit dari total utang pada tahun 2014 yaitu Rp25,90 triliun.



Catatan:

Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) (ADMF) yang didirikan pada tanggal 13 Nopember 1990 dan memulai operasi secara komersial tahun 1991. Kantor pusat ADMF berdomisili di The Landmark I Lantai 26-31, Jl. Jend. Sudirman No.1, Jakarta Selatan. Saat ini, Adira Finance memiliki 645 jaringan usaha yang terdiri dari kantor cabang, kantor perwakilan, kios dan dealer outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Sejak Januari 2004, Bank Danamon Indonesia Tbk / BDMN menjadi pemegang saham pengendali di ADMF, yakni dengan persentase kepemilikan sebesar 95% saham yang ditempatkan dan disetor penuh Adira Finance.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ADMF dalam bidang pembiayaan meliputi sewa guna usaha, anjak piutang, pembiayaan konsumen dan usaha kartu kredit serta kegiatan dengan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah (mulai tahun 2012). Saat ini kegiatan utama Adira Finance adalah bergerak dalam bidang pembiayaan konsumen.

Pada tanggal 23 Maret 2004, ADMF memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ADMF (IPO) kepada masyarakat melalui pasar modal sejumlah 100.000.000 saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham, dengan harga penawaran perdana sebesar Rp2.325,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 31 Maret 2004.



saham . bursajkse
#ADMF

PT Adhi Karya Tbk ( ADHI.JK ) - Mencetak Kenaikan Laba Bersih Sebesar 17,58% - Semester I 2015

Image result for PT Adhi Karya Tbk

Emiten Konstruksi dan properti PT Adhi Karya Tbk (ADHI) membukukan laba bersih pada Semester I 2015 mencapai Rp70,44 miliar atau Rp39,10 per saham. Laba bersihtersebut meningkat 17,58% bila dibandingkan dengan Laba bersih pada Semester I 2014 sebesar Rp59,91 miliar atau Rp33,26 per saham.

kinerja ADHI pada Semester I 2015 meingkat, hal tersebut didukung oleh pertumbuhan Pendapatan Pokok Perseroan pada Semester I 2015 sebesar 0,63% menjadi Rp3,21 triliun dari Pendapatan pokok pada periode yang sama tahun 2014 yaitu Rp3,19 triliun. Pendapatan pokok usaha pada Semester I 2015 dan Semester I 2014 terdiri dari:

  1. Jasa Konstruksi – Rp2,59 triliun dan Rp2,38 triliun.
  2. EPC (Engineering, Procurement, Construction) – Rp327,30 miliar dan Rp480,90 miliar.
  3. Properti – Rp276,22 miliar dan Rp70,28 miliar.
  4. Real Estat – Rp- dan Rp180,45 miliar.
  5. Investasi Infrastruktur – Rp23,30 miliar dan Rp78,15 miliar.

Pendapatan dari proyek bersama mengalami pertumbuhan dari Rp2,97 miliar menjadi Rp4,82 miliar.

Beban pokok pendapatan ADHI pada Semester I 2015 mengalami penurunan sebesar 1,03% menjadi Rp2,89 triliun dari Beban pokok pendapatan pada periode yang sama tahun 2014 sebesar Rp2,92 triliun, dan Beban usaha dan lainnya mengalami penurunan sedikit dari Rp66,35 miliar menjadi Rp95,46 miliar, sedangkan Pendapatan (beban) Keuangan mengalami kenaikan dari Rp(48,60) miliar menjadi Rp(68,97) miliar pada Semester I 2015.

Aset ADHI mengalami peningkatan dari Rp10,46 triliun tahun 2014 menjadi Rp11,61 triliun pada Semester I 2015. Utang Perseroan meningkat dari Rp8,82 triliun menjadi Rp9,99 triliun.


Baca Juga: http://bursajkse.blogspot.com/search?q=adhi.jk&max-results=20&by-date=true



Catatan:


Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) didirikan tanggal 1 Juni 1974 dan memulai usaha secara komersial pada tahun 1960. Kantor pusat ADHI berkedudukan di Jl. Raya Pasar Minggu KM.18, Jakarta. Nama Adhi Karya untuk pertama kalinya tercantum dalam SK Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja tanggal 11 Maret 1960. Kemudian berdasarkan PP No. 65 tahun 1961 Adhi Karya ditetapkan menjadi Perusahaan Negara Adhi Karya. Pada tahun itu juga, berdasarkan PP yang sama Perusahaan Bangunan bekas milik Belanda yang telah dinasionalisasikan, yaitu Associate NV, dilebur ke dalam Perusahaan.

Pemegang saham pengendali Adhi Karya adalah Negara Republik Indonesia, dengan persentase kepemilikan sebesar 51%.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, Ruang lingkup bidang usaha ADHI meliputi:

Konstruksi,
Konsultasi manajemen dan rekayasa industri (Engineering Procurement and Construction/EPC),
Perdagangan umum, jasa pengadaan barang, industri pabrikasi, jasa dalam bidang teknologi informasi, real estat dan agro industri.

Saat ini kegiatan utama ADHI dalam bidang konstruksi, EPC, real estat dan jasa pengadaan barang.Adhi Karya memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1960.

Pada tanggal 8 Maret 2004, ADHI memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan penawaran umum kepada masyarakat atas 441.320.000 saham biasa dengan nilai nominal Rp100,- per saham dan harga penawaran Rp150,- per saham. Dari jumlah saham yang ditawarkan dalam penawaran umum kepada masyarakat tersebut sebesar 10% atau sebanyak 44.132.000 saham biasa atas nama baru dijatahkan secara khusus kepada manajemen (Employee Management Buy Out / EMBO) dan karyawan Perusahaan melalui program penjatahan saham untuk pegawai Perusahaan (Employee Stock Allocation/ESA). Kemudian pada tanggal 18 Maret 2004 seluruh saham ADHI telah tercatat pada Bursa Efek Jakarta (sekarang menjadi Bursa Efek Indonesia).



saham . bursajkse
#ADHI

PT Ciputra Surya Tbk ( CTRS.JK ) - Kinerja Semester I 2015 : Laba Bersih Bertumbuh 23,61%

Image result for PT Ciputra Surya Tbk

Ciputra Surya Tbk (CTRS) membukukan laba bersih pada Semester I 2015 sebesar Rp307,89 miliar atau Rp156 per saham, meningkat 23,61% dari Laba bersih Semester I 2014 yaitu Rp248,43 miliar atau Rp126 per saham.

Pencapaian kinerja CTRS pada Semester I 2015 didukung oleh Pendapatan Pokok perseroan mencapai Rp963,97 miliar pada Semester I 2015, tumbuh 33,87% dari Pendapatan pokok CTRS pada Semester I 2014 yaitu sebesar Rp720,07 miliar. Pendapatan pokok perseroan terdiri dari penjualan properti dan penyewaan, dengan pendapatan terbesar diatribusikan dari Penjualan yaitu Rp826,27 miliar pada Semester I 2015 dan Rp604,62 miliar Semester I 2014, sedang pendapatan sewa yaitu Rp137,70 miliar dan Rp115,45 miliar. Di bawah ini adalah rincian pendapatannya tahun Semester I 2015 dan Semester I 2014:

  1. Penjualan
    • Rumah Hunian dan Ruko – Rp654,79 miliar dan Rp544,30 miliar.
    • Apartemen, Kondotel, dan SOHO – Rp137,32 miliar dan Rp36,95 miliar.
    • Kapling Tanah – Rp33,66 miliar dan Rp23,38 miliar.
  2. Pendapatan sewa
    • Sewa unit pusat niaga – Rp88,88 miliar dan Rp84,14 miliar.
    • Lapangan Golf dan Club Keluarga – Rp21,43 miliar dan Rp21,00 miliar.
    • Hotel – Rp19,50 miliar dan Rp0.
    • Rekreasi Keluarga – Rp7,89 miliar dan Rp10,31 miliar.

Beban pokok pendapatan mengalami kenaikan dari Rp370,39 miliar menjadi Rp494,57 miliar, dan beban usaha mengalami kenaikan juga dari Rp120,49 miliar menjadi Rp132,05 miliar, serta pendapatan keuangan mengalami penurunan dari Rp28,11 miliar menjadi Rp18,90 miliar.

CTRS pada Semester I 2015 mencatat aset sebesar Rp6,28 triliun, naik dari Rp6,12 triliun pada tahun 2014, Utang mencapai Rp3,01 triliun di Semester I 2015 turun dari Rp3,11 triliun di tahun 2014.




Baca Juga: http://bursajkse.blogspot.com/search?q=ctrs.jk&max-results=20&by-date=true


Catatan:

PT Ciputra Surya Tbk (CTRS) didirikan tanggal 21 Nopember 1989 dengan nama PT Bumi Citrasurya dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tanggal 1 Maret 1993. Kantor pusat CTRS berlokasi di Ciputra World 1 DBS Bank Tower Lantai 39 Jl. Prof. DR. Satrio Kav. 3-5 Jakarta 12940. Sedangkan proyek berlokasi di Citra Raya Kav. 1, Jl. Citraraya Utama, Lakarsantri, Surabaya.

Pada tanggal 28 Desember 1990, nama PT Bumi Citrasurya diubah menjadi PT Citraland Surya. Selanjutnya tanggal 18 Pebruari 1997, nama perusahaan diubah menjadi PT Ciputra Surya.

Induk usaha dari CTRS adalah PT Ciputra Development Tbk ( CTRA,.JK ), sedangkan induk usaha terakhir dari CTRS adalah PT Sang Pelopor.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan CTRS mencakup antara lain, perencanaan, pelaksanaan pembangunan dan penjualan kawasan perumahan (real estat), perkantoran, pertokoan, pusat niaga beserta fasilitas-fasilitasnya.

Pada tanggal 29 Desember 1998, CTRS memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk menjadi perusahaan publik tanpa Penawaran Umum atas seluruh saham biasa atas nama Perusahaan sebanyak 420.188.000 dengan nilai nominal Rp500,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 15 Januari 1999.




saham . bursajkse
#CTRS

PT Ciputra Property Tbk ( CTRP.JK ) - Laba bersih Menurun 84,08% - Semester I 2015

Image result for PT Ciputra Property Tbk

Ciputra Property Tbk (CTRP) membukukan laba bersih pada Semester I 2015 sebesar Rp20,17 miliar atau Rp3 per saham, terkoreksi 84,08 % dari Laba bersih Semester I2014 yaitu Rp126,67 miliar atau Rp21 per saham.

Penurunan kinerja atau Laba bersih CTRP pada Semester I 2015 disebabkan oleh peningkatan bahan baku Perseroan yang tercermin dari penurunan laba kotor sebesar 6,36% menjadi Rp306,49 miliar dari Laba kotor pada periode yang sama tahun 2014 yaitu Rp327,30 miliar. Laba kotor tersebut dari pendapatan pokok dikurangi Beban Pokok Perseroan. Pendapatan Pokok Perseroan menurun dari Rp688,66 miliar menjadi Rp679,88 miliar, dan Beban Pokok meningkat dari Rp361,36 miliar menjadi Rp364,39 miliar.

Beban Usaha Perseroan juga mengalam peningkatan dari Rp118,91 miliar menjadi Rp168,39 miliar, serta Beban keuangan mengalami kenaikan cukup tinggi yaitu sebesar 62,68% menjadi Rp120,11 miliar dari Beban Keuangan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp73,83 miliar.

Pendapatan usaha CTRP terdiri dari Penjualan Kondominium dan Residential, Sewa pusat niaga, hotel, sewa kantor, penjualan perkantoran, pelayanan apartemen. Pusat niaga atau Mall yang memberikan konstribusi terbesar ke pendapatan Perseroan dengan Pendapatan Semester I 2015 dan Semester I 2014 masing-masing sebesar Rp260,56 miliar dan Rp211,71 miliar, selain itu antara lain

  1. Penjualan Kondominium dan residential – Rp180,23 miliar dan Rp120,56 miliar.
  2. Hotel – Rp110,43 miliar dan Rp72,19 miliar.
  3. Sewa kantor – Rp53,39 miliar dan Rp48,91 miliar.
  4. Penjualan Perkantoran – Rp51,28 miliar dan Rp235,30 miliar.
  5. Pelayanan apartemen – Rp14,98 miliar dan Rp0.

Aset CTRP / Ciputra Property Tbk mencapai Rp9,50 triliun di Semester I 2015, tumbuh 7,22% dari aset di tahun 2014 yaitu Rp8,86 triliun, dan total utang Semester I 2015 mencapai Rp4,60 triliun, naik dari Rp3,97 triliun tahun 2014.




Catatan:

PT Ciputra Development Tbk (IDX: CTRA) adalah salah satu perusahaan properti Indonesia terkemuka. Didirikan pada tahun 1981, pengembangan properti perumahan skala besar dan komersial adalah keahlian bisnis dan inti perusahaan.

Berkantor pusat di Jakarta, perusahaan telah memperluas operasinya dan saat ini mengembangkan dan mengoperasikan properti perumahan dan komersial dalam kota besar di seluruh Indonesia maupun proyek internasional yang terletak di Cina. Properti komersial Dikembangkan meliputi pusat perbelanjaan, hotel, apartemen dan lapangan golf. Rentang properti luas dan jaringan yang kuat mempromosikan perusahaan untuk menjadi salah satu perusahaan properti yang terdiversifikasi dalam hal produk, lokasi dan segmentasi pasar.

Perusahaan pertama kali terdaftar di pasar saham pada tahun 1994 dan juga telah mencatatkan anak perusahaan, PT Ciputra Surya Tbk ("CTRS") dan PT Ciputra Property Tbk ("CTRP"), yang memiliki bisnis inti yang sama.

Ciputra Property Tbk (CTRP) didirikan dengan nama PT Citraland Property tanggal 22 Desember 1994 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1984. Kantor pusat CTRP berlokasi di Jalan Prof. Dr. Satrio Kav. 34, Jakarta.

Induk usaha dari Ciputra Property Tbk adalah Ciputra Development Tbk (CTRA) (miliki 56,25% sahamCTRP), sedangkan induk usaha terakhir dari Ciputra Property Tbk adalah PT Sang Pelopor.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan CTRP meliputi mendirikan dan menjalankan usaha-usaha pembangunan, pengelolaan, dan penyewaan di bidang perhotelan, rumah susun (apartemen), perkantoran, pertokoan, pusat niaga, dan pusat rekreasi beserta fasilitasnya. Proyek-proyek yang didirikan dan dijalankan oleh CTRP, antara lain: Ciputra World I Jakarta, Ciputra World II Jakarta, Ciputra World II Extention Jakarta, Hotel & Mal Ciputra Jakarta, Hotel & Mal Ciputra Semarang, Somerset Grand Citra Service Residence Jakarta, Dipo Business Center, Ciputra International dan Citradream Budget Hotel, Ciputra Beach Resort Bali.

Pada tanggal 30 Oktober 2007, CTRP memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham CTRP (IPO) kepada masyarakat sebanyak 3.010.000.000 dengan nilai nominal Rp250,- per saham dengan harga penawaran Rp700,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 07 Nopember 2007.

Proyek

Citra Green Dago Bandung
CitraGarden City Jakarta
CitraRaya Tangerang
Citra Grand Cibubur
Citra Indah Jonggol
Citra Sun Garden Semarang
Citra Sun Garden Yogyakarta
CitraLand Surabaya
CitraHarmoni Sidoarjo
CitraGarden Sidoarjo
CitraIndah Sidoarjo
The Taman Dayu Pandaan
CitraGarden Lampung
CitraGarden Banjarmasin
CitraLand Banjarmasin
CitraLand City Samarinda
Citra BukitIndah Balikpapan
CitraGrand City Palembang
CitraLand Celebes Makassar
CitraGarden Makassar
CitraSun Garden Semarang
CitraLand NGK Jambi
CitraLand Pekanbaru
CitraLand Kendari


saham . bursajkse
#CTRP

PT Bank Pembangunan Jawa Timur Tbk ( BJTM.JK ) - Kinerja Semester I : Laba bersih Turun menjadi Sebesar 3,49%


Bank Pembangunan Jawa Timur Tbk (BJTM) membukukan penurunan laba bersih pada Semester I 2015 sebesar 3,49% menjadi Rp524,32 miliar atau Rp35,15 per saham dari Laba bersih Semester I 2014 yaitu Rp543,28 miliar atau Rp36,42 per saham.

Penurunan kinerja perseroan disebabkan oleh Beban Bunga dan Beban Operasional mengalami kenaikan. Beban Bunga dan Syariah mengalami kenaikan sebesar 34,94% menjadi Rp717,97 miliar dari Beban bunga dan Syariah pada Semester I 2014 yaitu Rp532,08 miliar, dan Beban Operasional mengalami kenaikan dari Rp849,73 miliar menjadi Rp1,04 triliun.

Pendapatan Usaha (Bunga dan Syariah) mengalami kenaikan meskipun laba bersih pada Semester I menurun. Pendapatan Bunga dan Syariah meningkat dari Rp1,95 triliun menjadi Rp2,29 triliun, sedangkan Pendapatan operasional mengalami penurunan dari Rp181,32 miliar menjadi Rp170,38 miliar. Hampir seluruh Pendapatan usaha dikonstribusikan dari Pendapatan Bunga yaitu Rp2,25 triliun di Semester I 2015 dan Semester I 2014 sebesar Rp1,93 triliun. Di bawah ini adalah rincian pendapatan usaha Semester I 2015 dan Semester I 2014 yaitu antara lain

  1. Pendapatan Bunga
    • Kredit – Rp1,77 triliun dan Rp1,55 triliun.
    • Penempatan pada BI dan Bank Lain – Rp215,72 miliar dan Rp200,21 miliar.
    • Sertifikat bank Indonesia – Rp65,66 miliar dan Rp34,96 miliar.
    • Surat berharga hingga jatuh tempo – Rp115,07 miliar dan Rp74,01 miliar.
    • Surat berharga dijual kembali – Rp0 dan Rp4,62 miliar.
    • Provisi – Rp74,22 miliar dan Rp55,05 miliar.
    • Lainnya – Rp8,25 miliar dan Rp6,44 miliar.
  2. Pendapatan Syariah / Margin dan Pendapatan bagi hasil – Rp37,70 miliar dan Rp17,84 miliar.

Total aset Bank Jatim pada Semester I 2015 mencapai Rp50,23 triliun, naik 32,18% dari Total aset pada tahun 2014 yaitu Rp38,00 triliun. Total Utang perseroan mencapai Rp44,30 triliun naik dari total utang pada tahun 2014 yaitu Rp31,95 triliun.






Catatan:


Bank Jatim (dahulu bernama Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur) IDX: BJTM) adalah sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Provinsi Jawa Timur. Bank ini didirikan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan bentuk perseroan terbatas (PT), kemudian dalam perkembangannya berubah status menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

PT Bank Jatim menjadi bank devisa sejak tanggal 2 Agustus 1990. Pada tanggal 1 Mei 1999, dalam upayanya untuk meningkatkan profesionalitas dan independensi sebagai pelayan masyarakat di bidang jasa keuangan, Bank Jatim mengubah bentuk badan hukum dari BUMD menjadi Perseroan Terbatas (PT).

Komisaris Bank Choirul Djaelani, Direktur Utama Bank Hadi Sukrianto dan Presiden Komisaris Bank Muljanto saat peresmian logo baru di Surabaya, 10 November 2011

Bank Jatim berkantor pusat di Surabaya. Komisaris Utama Bank Jatim adalah Muljanto dan Dirut Bank Jatim saat ini adalah Hadi Sukrianto.

Pada 10 November 2011, Bank ini meluncurkan logo barunya yang berupa sayap berwarna merah.

Kantor pusat Bank Jatim berlokasi di Jl. Basuki Rachmat No.98-104 Surabaya 60271 Jawa Timur. Saat ini Bank Jatim memiliki 40 Kantor Cabang, 1 Kantor Cabang Syariah, 104 Kantor Cabang Pembantu, 3 Kantor Cabang Pembantu Syariah, 176 Kantor Kas, 155 Payment Point, 47 Kantor Layanan Syariah dan 65 Kas Mobil.

Pemegang saham utama Bank Jatim, antara lain Pemda Tingkat I Provinsi Jawa Timur (pengendali) (51,46%) dan 38 Pemda Kabupaten/Kota Se-Jawa Timur (28,54%). Induk usaha terakhir Bank Jatim adalah Pemerintah Propinsi Jawa Timur.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BJTM adalah menjalankan kegiatan usaha di bidang perbankan, termasuk perbankan berdasarkan prinsip syariah serta kegiatan perbankan lainnya yang lazim sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pada tanggal 29 Juni 2012, BJTM memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM & LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BJTM (IPO) kepada masyarakat sebanyak 2.983.537.000 Saham Seri B dengan nilai nominal Rp250,- per saham dan harga penawaran Rp430,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 12 Juli 2012.


Sejarah

Logo Bank Jatim hingga 10 November 2011

Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, yang dikenal dengan sebutan Bank JATIM, didirikan pada tanggal 17 Agustus 1961 di Surabaya. Landasan hukum pendirian adalah Akte Notaris Anwar Mahajudin Nomor 91 tanggal 17 Agustus 1961 dan dilengkapi dengan landasan operasional Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor BUM.9-4-5 tanggal 15 Agustus 1961.

Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1962 tentang Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan, pada tahun 1967 dilakukan penyempurnaan melalui Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 2 Tahun 1976 yang menyangkut Status Bank Pembangunan Daerah dari bentuk Perseroan Terbatas(PT) menjadi Badan Usaha Milik Daerah(BUMD).

Secara operasional dan seiring dengan perkembangannya, maka pada tahun 1990 Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur meningkatkan statusnya dari Bank Umum menjadi Bank Umum Devisa, hal ini ditetapkan dengan Surat Keputusan Bank Indonesia Nomor 23/28/KEP/DIR tanggal 2 Agustus 1990.

Untuk memperkuat permodalan, maka pada tahun 1994 dilakukan perubahan terhadap Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 1992 tanggal 28 Desember 1992 menjadi Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 26 Tahun 1994 tanggal 29 Desember 1994 yaitu mengubah Struktur Permodalan/Kepemilikan dengan diijinkannya Modal Saham dari Pihak Ketiga sebagai salah satu unsur kepemilikan dengan komposisi maksimal 30%.

Dalam rangka mempertahankan eksistensi dan mengimbangi tuntutan perbankan saat itu, maka sesuai dengan Rapat Umum Pemegang Saham Tahun Buku 1997 telah disetujui perubahan bentuk Badan Hukum Bank Pembangunan Daerah menjadi Perseroan Terbatas. Berdasarkan Pasal 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1998 tentang Bentuk Badan Hukum Bank Pembangunan Daerah, maka pada tanggal 20 Maret 1999 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur telah mensahkan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur dari Perusahaan Daerah (PD) menjadi Perseroan Terbatas (PT) Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur.

Sesuai dengan Akte Notaris R. Sonny Hidayat Yulistyo, S.H. Nomor 1 tanggal 1 Mei 1999 yang telah ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman Nomor C2-8227.HT.01.01.Th tanggal 5 Mei 1999 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal25 Mei 1999 Nomor 42 Tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 3008, selanjutnya secara resmi menjadi PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur.

Pada tanggal 12 Juli 2012, Bank Jatim mencatatkan saham perdana di papan utama Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai emiten ke-13 dengan kode saham BJTM.[1]

Prestasi

2011 - Investor Best Bank 2011
2011 - BUMD & CEO BUMD award
2011 - Banking Service Excellence Awards 2011
2011 - Penghargaan Prestasi Ekonomi - PWI
2011 - Infobank Award 2011
2011 - Annual Report Award
2011 - BUMD & CEO BUMD award 



saham . bursajkse
#BJTM

PT Bank Bukopin Tbk ( BBKP.JK ) - Kredit Bertumbuh Sebesar 15,31%

Image result for PT Bank Bukopin Tbk

PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) pada semester I-2015 mencatatkan pertumbuhan kredit 15,31% menjadi Rp58,69 triliun, dibandingkan penyaluran kredit pada periode yang sama 2014 senilai Rp50,89 triliun.

Direktur Utama BBKP, Glen Glenardi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (31/7) mengatakan pertumbuhan kredit pada paruh pertama tahun ini dipicu oleh segmen mikro yang meningkat 28,21%, disusul UKM tumbuh 9,74%.

"Pertumbuhan kredit Bank Bukopin hingga paruh pertama 2015 terjadi baik pada segmen ritel maupun komersial," katanya.

Ditambahkan, dari total kredit yang disalurkan, sebesar 60,83% diserap oleh kredit ritel, yang terdiri dari segmen UKM (40,05%), mikro (12,07%) dan konsumer (11,79%), sisanya 36,09% merupakan kredit komersial. 

‎"Situasi ini sejalan dengan strategi perseroan untuk fokus pada segmen ritel dengan tetap menjaga pertumbuhan pada segmen komersial," ujarnya.

Glen menambahkan, pada periode yang sama perseroan juga berhasil menarik Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp70,74 triliun, meningkat 16,04% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu.

"Peningkatan DPK ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat kepada kami masih terus terjaga," urainya.

Adapun dari total DPK yang dibukukan, hingga Juni 2015, posisi tabungan Bank Bukopin tercatat Rp15,42 triliun, deposito Rp46,52 triliun, sedangkan giro Rp8,81 triliun.

Peningkatan kinerja juga terlihat dari aset yang tumbuh 16,49% menjadi Rp84,67 triliun dibandingkan dengan periode yang sama 2014 senilai Rp72,68 triliun.

Kinerja kredit mendorong pendapatan bunga pada semester I-2015 menjadi Rp3,99 triliun atau tumbuh 17,47% dibandingkan pencapaian pada semester I-2014. 

Disisi lain, pendapatan dari fee based income pada periode yang sama juga meningkat 28,95% menjadi Rp600 miliar.

Meski demikian, karena biaya dana yang masih tinggi, laba perseroan per Juni 2015 secara otomatis juga masih ikut tertekan. Posisi laba sebelum pajak pada semester I-2015 sebesar Rp629 miliar dan laba setelah pajak senilai Rp509 miliar.









Catatan:

Bank Bukopin (IDX: BBKP) (sebelumnya bernama Bank Umum Koperasi Indonesia pada1970 sampai 1989) adalah bank swasta kelas menengah di Indonesia dan memfokuskan bisnis intinya pada 4 sektor, yaitu UKM, mikro, konsumer, dan komersial.

Bank Bukopin Tbk (BBKP) didirikan di lndonesia pada tanggal 10 Juli 1970 dengan nama Bank Umum Koperasi Indonesia (disingkat Bukopin) dan mulai melakukan usaha komersial sebagai bank umum koperasi di Indonesia sejak tanggal 16 Maret 1971. Kantor pusat BBKP beralamat di Jalan M.T. Haryono Kav. 50-51, Jakarta 12770, Indonesia. Saat ini (31/03/2015), Bank Bukopin memiliki 40 kantor cabang, 121 kantor cabang pembantu, 86 kantor fungsional, 143 kantor kas, dan 39 payment centers.

Dalam perkembangannya, Bank telah melakukan penggabungan usaha dengan beberapa bank umum koperasi. Kemudian pada 02 Januari 1990 dalam Rapat Anggota Bank Umum Korporasi Indonesia memutuskan menganti nama Bank menjadi Bank Bukopin.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Bank Bukopin Tbk (30/04/2015), antara lain: PT Bosowa Corporindo (pengendali) (30%), Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia (KOPELINDO) (18,09%) dan Negara Republik Indonesia (11,43%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Bank, usaha BBKP mencakup segala kegiatan bank umum dengan tujuan utama memperhatikan dan melayani kepentingan gerakan koperasi di Indonesia.

Pada tanggal 30 Juni 2006, BBKP memperoleh pernyataan efektif BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BBKP (IPO) kepada masyarakat sejumlah 843.765.500 saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham dan harga penawaran sebesar Rp350,- per saham. Saham-saham tersebut telah dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 10 Juli 2006.

Sejarah

Bank Bukopin didirikan pada tanggal 1 Juli 1970, sebelumnya dikenal sebagai Bank Umum Koperasi Indonesia. Pada 1989, perusahaan berganti nama menjadi Bank Bukopin. Selanjutnya, pada 1993 status perusahaan berubah menjadi perseroan terbatas.

Bank Bukopin menfokuskan diri pada segmen UMKMK, saat ini telah tumbuh dan berkembang menjadi bank yang masuk ke kelompok bank menengah di Indonesia dari sisi aset. Seiring dengan terbukanya kesempatan dan peningkatan kemampuan melayani kebutuhan masyarakat yang lebih luas, Bank Bukopin telah mengembangkan usahanya ke segmen komersial dan konsumer.

Ketiga segmen ini merupakan pilar bisnis Bank Bukopin, dengan pelayanan secara konvensional maupun syariah, yang didukung oleh sistem pengelolaan dana yang optimal, kehandalan teknologi informasi, kompetensi sumber daya manusia dan praktek tata kelola perusahaan yang baik. Landasan ini memungkinkan Bank Bukopin melangkah maju dan menempatkannya sebagai suatu bank yang kredibel.

Berkantor pusat di Gedung Bank Bukopin, Jl MT Haryono Kav 50-51 Jakarta Selatan, operasional Bank Bukopin kini didukung oleh lebih dari 425 outlet yang tersebar di 22 provinsi di seluruh Indonesia yang terhubung secara real time online. Bank Bukopin juga telah membangun jaringan micro-banking yang diberi nama "Swamitra", yang kini berjumlah 543 outlet, sebagai wujud program kemitraan dengan koperasi dan lembaga keuangan mikro.

Dengan struktur permodalan yang semakin kokoh sebagai hasil pelaksanaan Initial Public Offering (IPO) pada bulan Juli 2006, Bank Bukopin terus mengembangkan program operasionalnya dengan menerapkan skala prioritas sesuai strategi jangka pendek yang telah disusun dengan matang. Penerapan strategi tersebut ditujukan untuk menjamin dipenuhinya layanan perbankan yang komprehensif kepada nasabah melalui jaringan yang terhubung secara nasional maupun internasional, produk yang beragam serta mutu pelayanan dengan standar yang tinggi. Keseluruhan kegiatan dan program yang dilaksanakan pada akhirnya berujung pada sasaran terciptanya citra Bank Bukopin sebagai lembaga perbankan yang terpercaya dengan struktur keuangan yang kokoh, sehat dan efisien. Keberhasilan membangun kepercayaan tersebut akan mampu membuat Bank Bukopin tetap tumbuh memberi hasil terbaik secara berkelanjutan.




saham . bursajkse
#BBKP

PT Astra International Tbk ( ASII.JK ) - Membukukan Penurunan Laba Bersih Sebesar 18%

Image result for astra tbk

PT Astra International Tbk (ASII) membukukan penurunan laba bersih pada semester I 2015 sekitar 18% menjadi Rp8,052 triliun dari Rp9,820 triliun pada periode serupa tahun lalu.

Direktur Utama Astra Prijono Sugiarto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (31/7), menuturkan kondisi ini dipicu oleh melemahnya pendapatan usaha perseroan sekitar 8,88% dari Rp101,528 triliun pada periode yang berakhir 30 Juni 2014 menjadi Rp92,505 triliun periode serupa tahun ini. 

Kendati demikian, perseroan berhasil menurunkan beban pokok pendapatan sekitar 9,4% menjadi 74,587 triliun per Juni 2015 dari Rp82,384 triliun periode serupa tahun lalu. Walaupun beban dapat menyusut, namun laba bruto menurun dari Rp19,144 triliun menjadi Rp17,918 triliun.

Kerugian selisih kurs juga berhasil ditekan dari Rp305 miliar, kini menjadi Rp74 miliar. Perseroan juga mampu memeroleh peningkatan penghasilan lain-lain dari Rp1,463 triliun menjadi Rp1,6 triliun. 

Hingga periode Juni 2015, total aset perusahaan otomotif ini tercatat Rp242 triliun, dengan ekuitasnya Rp123,631 triliun dan liabilitas Rp119,122 triliun.



Catatan:

Astra International (IDX: ASII) merupakan perusahaan multinasional yang memproduksi otomotif yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1957 dengan nama PT Astra International Incorporated. Pada tahun 1990, perseroan mengubah namanya menjadi PT Astra International Tbk. Perusahaan ini telah tercatat di Bursa Efek Jakarta sejak tanggal 4 April 1990. Saat ini mayoritas kepemilikan sahamnya dimiliki oleh Jardine Cycle & Carriage's sebesar 50,1%.

Perseroan berdomisili di Jakarta, Indonesia, dengan kantor pusat di JI. Gaya Motor Raya No. 8, Sunter II, Jakarta. Ruang lingkup kegiatan Perseroan seperti yang tertuang dalam anggaran dasarnya adalah perdagangan umum, perindustrian, jasa pertambangan, pengangkutan, pertanian, pembangunan dan jasa konsultasi. Ruang lingkup kegiatan utama entitas anak meliputi perakitan dan penyaluran mobil, sepeda motor dengan suku cadangnya, penjualan dan penyewaan alat berat, pertambangan dan jasa terkait, pengembangan perkebunan, jasa keuangan, infrastruktur dan teknologi informasi.

Astra International Tbk (ASII) didirikan pada tanggal 20 Februari 1957 dengan nama PT Astra International Incorporated. Kantor pusat ASII berdomosili di Jl. Gaya Motor Raya No. 8, Sunter II, Jakarta.

Pemegang saham terbesar Astra International Tbk adalah Jardine Cycle & Carriage Ltd (50,09%), perusahaan yang didirikan di Singapura. Jardine Cycle & Carriage Ltd merupakan entitas anak dari Jardine Matheson Holdings Ltd, perusahaan yang didirikan di Bermuda.

Saat ini, Astra International Tbk memiliki anak usaha yang juga tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), antara lain: Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Astra Graphia Tbk (ASGR), Astra Otoparts Tbk (AUTO) dan United Tractors Tbk (UNTR).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ASII bergerak di bidang perdagangan umum, perindustrian, jasa pertambangan, pengangkutan, pertanian, pembangunan dan jasa konsultasi. Ruang lingkup kegiatan utama entitas anak meliputi perakitan dan penyaluran mobil (Toyota, Daihatsu, Izusu, UD Trucks, Peugeot dan BMW), sepeda motor (Honda) berikut suku cadangnya, penjualan dan penyewaan alat berat, pertambangan dan jasa terkait, pengembangan perkebunan, jasa keuangan, infrastruktur dan teknologi informasi.

Pada tahun 1990, ASII memperoleh Pernyataan efektif BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ASII (IPO) kepada masyarakat sebanyak 30.000.000 saham dengan nominal Rp1.000,- per saham, dengan Harga Penawaran Perdana Rp14.850,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 04 April 1990.

Divisi Usaha dan Anak Perusahaan

Otomotif

PT Toyota Astra Motor (Toyota dan Lexus)
PT Toyota Auto2000 (Auto 2000)
PT Astra Daihatsu Motor (Daihatsu)
PT Isuzu Astra Motor Indonesia (Isuzu)
PT Astra Nissan Diesel Indonesia (Truk Nissan Diesel)
PT Tjahja Sakti Motor (BMW dan Peugeot)
PT Serasi Autoraya (TRAC)
PT Serasi Auto Raya (Mobil 88)
PT Astra Honda Motor (Honda)
PT Astra Otoparts Tbk
PT Tunas Mobilindo Perkasa (Daihatsu)

Agro industri

PT Astra Agro Lestari Tbk

Pelayanan Finansial

PT Astra Credit Company
PT Toyota Astra Financial Services
PT Asuransi Astra Buana (Garda Oto)
PT Federal International Finance
PT Surya Artha Nusantara Finance
PT Bank Permata
PT Astra Aviva Life (Astra Life)

Alat-alat Berat

PT United Tractors Tbk (Scania)
PT Traktor Nusantara
PT Pamapersada Nusantara
PT Kalimantan Prima Persada

Teknologi Informasi

PT Astragraphia Tbk
PT Astra Graphia Information Technologies-AGIT

Infrastruktur

PT Astratel Nusantara
PT Intertel Nusaperdana

Sejarah

1957

Astra memulai usaha sebagai perusahaan dagang

1969

Astra menjadi distributor kendaraan Toyota di Indonesia

1970

Astra ditunjuk sebagai distributor tunggal sepeda motor Honda di Indonesia
Astra ditunjuk sebagai distributor tunggal mesin perkantoran Xerox di Indonesia

1971

Astra di tunjuk sebagai distributor tunggal Daihatsu
Mendirikan PT Federal Motor, agen tunggal sepeda motor Honda
Mendirikan PT Toyota Astra Motor (TAM), agen tunggal Toyota
Peluncuran produk sepeda motor Honda 90 Z (90cc)

1972

Mendirikan PT United Tractors (UT) yang mengelola bidang usaha alat berat

1973

Mendirikan PT Multi Agro Corporation yang mengelola divisi agribisnis Astra

1974

Mendirikan Yayasan Toyota & Astra yang bergerak di bidang pendidikan
TAM meluncurkan Toyota Corolla

1977

Toyota meluncurkan mobil Kijang pertama
Mendirikan PT Daihatsu Indonesia

1980

Astra mendirikan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) untuk membantu perusahaan kecil dan menengah

1981

Toyota meluncurkan mobil Kijang sebagai mobil keluarga

1982

Astra mendirikan PT Raharja Sedaya, sebuah perusahaan kredit konsumen

1983

Mendirikan PT Astra Agro Niaga, cikal bakal PT Astra Agro Lestari

1986

Daihatsu meluncurkan Zebra, sebagai mobil niaga andalan
Toyota menyempurnakan Kijang-nya yang dikenal dengan Super Kijang

1988

Menerbitkan obligasi berjangka waktu 5 tahun senilai Rp 60 miliar dan tercatat di Bursa Efek Surabaya
Mengambil alih PT Pantja Motor, Distribtor kendaraan Isuzu

1989

Mendirikan Astra Executive Training Centre (AETC) yang kemudian menjadi Astra Management Development Institute (AMDI) pada tahun 1993

1990

Menerbitkan 30 juta lembar saham dan tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya
Mendirikan Koperasi Astra International untuk menyediakan fasilitas simpan pinjam bagi karyawan

1991

Mendirikan PT Astra Dian Lestari yang mengelola bidang usaha komponen
PT Pantja Motor meluncurkan Isuzu Panther
Tahun 1991 Astra mendirikan PT.Astra Microtronics Technology di Muka Kuning Batam yang bergerak di Semiconductor Manufacturing
Mendirikan Astra Mitra Ventura yang menyediakan fasilitas pinjaman modal bagi UKM

1994

Daihatsu meluncurkan Zebra Espass yang merupakan hasil penyempurnaan dari Zebra sebelumnya

1995

Mendirikan Politeknik Manufaktur Astra yang menyediakan pendidikan formal tingkat diploma di bidang manufaktur

1997

Toyota kembali menyempurnakan Kijang-nya

1999

Astra menandatangani kesepakatan restrukturisasi hutang tahap pertama
Daihatsu meluncurkan SUV Daihatsu Taruna

2000

Isuzu menyempurnakan Panther-nya
Merestrukturisasi bisnis sepeda motor
Merestrukturisasi bisnis BMW

2001

Menerbitkan Panduan dalam Etika Bisnis dan Etika Kerja

2002

Astra menandatangani kesepakatan restrukturisasi hutang tahap kedua
Merestrukturisasi bisnis Daihatsu
Menyelenggarakan Penawaran Saham Terbatas sebanyak 1,4 miliar lembar saham
Mendivestasi perusahaan infrastruktur telekomunikasi Astra, PT Pramindo Ikat Nusantara
Mendivestasi bisnis perkayuan Astra yang dikelola oleh PT Sumalindo Lestari Jaya

2003

Menyelenggarakan Penawaran Saham Terbatas II
Merestrukturisasi bisnis Toyota
Toyota dan Daihatsu meluncurkan MPV keluarga Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia yang merupakan produk bersama, dan dipasarkan awal 2004

2004

Melakukan percepatan pembayaran restrukturisasi hutang Astra
Mengambilalih 31,5% kepemilikan di PT Bank Permata Tbk

2006

Mendirikan Toyota Astra Financial Services yang menawarkan fasilitas pembiayaan mobil Toyota
Astra Honda Motor meluncurkan Vario, produk skuter otomatis
Toyota dan Daihatsu meluncurkan Toyota Rush dan Daihatsu Terios yang merupakan kelanjutan Daihatsu Taruna

2007

Astra Honda Motor meluncurkan Revo

2008

PT Astra Daihatsu Motor (ADM) memulai ekspor kendaraan komersil Gran Max ke Jepang dalam bentuk CBU, setelah sebelumnya Gran Max diluncurkan awal tahun 2008
PT Astra International Tbk, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia dan Isuzu Motors Limited melakukan reorganisasi atas PT Pantja Motor menjadi PT Isuzu Astra Motor Indonesia
Astra canangkan program 'Go Green With Astra: Satu Karyawan Satu Pohon' untuk menanam 116.867 pohon sepanjang tahun
Museum dan Perpustakaan Astra dibuka secara resmi
PT Astra Honda Motor meluncurkan Beat

2009

Astra Group luncurkan SATU (Semangat Astra Terpadu Untuk) Indonesia yang menjadi payung program seluruh kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk membangun semangat kebangsaan dan persatuan demi pembangunan bangsa
PT Astra Honda Motor memproduksi sepeda motor yang ke-25 juta
PT Toyofuji Serasi Indonesia—anak perusahaan PT Serasi Autoraya—luncurkan kapal yang ketiga, MV SERASI III
PT United Tractors Pandu Engineering, anak usaha PT United Tractors Tbk, operasikan PT Patria Maritime Lines

2010

Toyota perkenalkan 5 varian baru Toyota Dyna
Penerbitan obligasi PT Astra Sedaya Finance XI
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Astra International Tbk
PT United Tractors Tbk luncurkan ekskavator dengan teknologi KOMTRAX
PT Astra Agro Lestari Tbk bangun pabrik baru di Kalimantan Timur
Penerbitan obligasi PT Federal International Finance X
PT Isuzu Astra Motor Indonesia luncurkan Isuzu Bison
Yayasan Astra Bina Pendidikan (YABP) secara resmi mengubah namanya menjadi Yayasan Pendidikan Astra-Michael D.Ruslim
PT Astra Honda Motor perkenalkan skutik retro modern, Honda Scoopy
PT Astra Graphia Tbk luncurkan mesin cetak multifungsi yang ramah lingkungan Fuji Xerox Color
UT selesaikan akuisisi atas PT Agung Bara Prima
PT Astra Honda Motor (AHM) umumkan `One Heart` sebagai slogan barunya
Satu Indonesia Jelajahi Dunia Astra pecahkan rekor MURI
Astra Daihatsu Motor capai produksi dua juta unit mobil
Kepemilikan Astra di Astra Sedaya Finance (ASF) meningkat menjadi 100%
Peresmian kapal MV Serasi V milik TFSI
PermataBank selesaikan akuisisinya yang pertama di Indonesia
Astra tingkatkan kepemilikan saham di PALYJA menjadi 49%

2011

PT Astra Honda Motor meluncurkan skutik Honda Spacy
Toyota dan Daihatsu menyempurnakan Avanza dan Xenia-nya menjadi Toyota New Avanza dan Daihatsu Xenia All New

2012

PT United Tractors Pandu Engineering, anak usaha PT United Tractors Tbk, mengambil alih galangan PT Perkasa Melati (PT Patria Maritim Perkasa) sebagai penguat industri maritim bagi Astra dan Indonesia

2013

Toyota dan Daihatsu meluncurkan Toyota Agya dan Daihatsu Ayla, mobil kecil yang hemat dan ekonomis



saham . bursajkse
#ASII

PT Indofood Sukses Makmur Tbk ( INDF.JK ) - Laba Bersih Anjlok 25,3%

Image result for PT Indofood Sukses Makmur Tbk

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatat penurunan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada semester I 2015 sekitar 25,3% menjadi Rp1,73 triliun dari Rp2,32 triliun periode serupa tahun lalu. 

"Hal ini disebabkan oleh rugi selisih kurs yang belum terealisasi sebagai akibaat melemahnya nilai tukar rupiah," tutur Direktur Utama Anthoni Salim melalui publikasi BEI, Jumat (31/7).

Menurut dia, penurunan laba bersih membuat marjin laba bersih turun menjadi 5,3% dari 7,4%. Core profit yang mencerminkan kinerja operasional turun 8,2% menjadi Rp2,08 triliun dari Rp2,27 triliun.

Kendati demikian, perseroan mencatat penjualan pada periode yang berakhir 30 Juni 2015 sekitar Rp32,63 triliun, lebih tinggi 3,7% dari Rp31,48 triliun periode serupa tahun lalu. 

Pencapaian ini didukung oleh kelompok usaha strategis (grup) produk konsumen bermerek (CBP), Bogasari, Agribisnis dan Distribusi masing-masing sekitar 50%, 24%, 18%, dan 8% terhadap penjualan neto konsolidasi. 

Laba usaha naik sedikit sebesar 0,5% menjadi 3,85 triliun dari Rp3,83 triliun, sedangkan marjin laba usaha turun 40 basis poin menjadi 11,8%, terutama karena melemahnya kinerja Agribisnis sebagai akibat dari penurunan harga jual rata-rata produk sawit. 

"Model bisnis kami yang tangguh telah memberikan pondasi yang kokoh di tengah perkembangan konsidi makro yang kurang menggembirakan. Kami akan terus menjalankan strategis kami untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan serta menghadapi tantangan ke depannya," papar dia.





Catatan:

PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. (IDX:INDF ) merupakan produsen berbagai jenis makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 14 Agustus 1990 oleh Sudono Salimdengan nama PT. Panganjaya Intikusuma yang pada tanggal 5 Februari1994 menjadi Indofood Sukses Makmur. Perusahaan ini mengekspor bahan makanannya hingga Australia, Asia, dan Eropa.

Dalam beberapa dekade ini Indofood telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan total food solutions dengan kegiatan operasional yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di rak para pedagang eceran.

Sejarah

1968 - PT Lima Satu Sankyu (selanjutnya berganti nama menjadi PT Supermi Indonesia) didirikan, pertama kali memproduksi Supermi sebagai mi instan pertama di Indonesia.
1970 - PT Sanmaru Foods Manufacturing Co Ltd (PT Sanmaru) didirikan sebagai salah satu anak perusahaan Jangkar Jati Group.
1972 - PT Sanmaru mulai memproduksi Indomie.
1982 - PT Sarimi Asli Jaya didirikan dan mulai memproduksi Sarimi.
1984 - PT Sarimi Asli Jaya diakuisisi oleh PT Sanmaru dan bersama dengan Salim Group membentuk perusahaan dengan nama PT Indofood Interna Corporation.
1986 - PT Supermi Indonesia diakuisisi oleh PT Indofood Interna Corporation melalui anak perusahaannya PT Lambang Insan Makmur.
1987 - PT Sanmaru meluncurkan mi instan dalam bentuk cup bermerek Pop Mie.
1989 - PT Sanmaru mengakuisi PT Sari Pangan Nusantara, yang memproduksi makanan bayi bermerek SUN.
1990 - PT Sanmaru membentuk perusahaan patungan dengan PepsiCo, Inc yang memiliki merek FritoLay yang pada tahun 1994 bernama PT Indofood Fritolay Makmur dan mulai memproduksi makanan ringan seperti Chitato, Chiki, Cheetos dan Jetz yang kemudian pada tahun 2000an disusul dengan Lay's dan Qtela.
1990 - Indofood didirikan oleh Sudono Salim dengan nama PT Panganjaya Intikusuma.
1992 - PT Sanmaru melalui anak perusahaan Jangkar Jati Group diambil alih seluruh sahamnya oleh Salim Group.
1993 - PT Panganjaya Intikusuma dan PT Sanmaru membentuk perseroan dengan nama PT Indomie Sukses Makmur Tbk.
1994 - PT Panganjaya Intikusuma berganti nama menjadi PT Indofood Sukses Makmur Tbk.
1995 - Mengakuisisi pabrik penggilingan gandum Bogasari.
1997 - Mengakuisisi 80% saham perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan, agribisnis serta distribusi.
2005 - PT Indosentra Pelangi sebagai produsen bumbu, kecap dan sambal bermerek Indofood membentuk perusahaan patungan dengan Nestlé bernama PT Nestlé Indofood Citarasa Indonesia, mengakuisisi perusahaan perkebunan di Kalimantan Barat.
2006 - Mengakuisisi 55% saham perusahaan perkapalan Pacsari Pte. Ltd.
2007 - Mencatatkan saham Grup Agribisnis di Bursa Efek Singapura dan menempatkan saham baru.
2008 - Mengakuisisi 100% saham Drayton Pte. Ltd. yang memiliki secara efektif 68,57% saham di PT Indolakto, sebuah perusahaan dairy terkemuka.
2009 - Memulai proses restrukturisasi internal Grup CBP melalui pembentukan PT. Indofood CBP Sukses Makmur dan pemekaran kegiatan usaha mi instan dan bumbu yang diikuti dengan penggabungan usaha seluruh anak perusahaan di Grup Produk Konsumen Bermerek (CBP), yang seluruh sahamnya dimiliki oleh Perseroan, ke dalam ICBP.
2010 - Menyelesaikan restrukturisasi internal Grup CBP melalui pengalihan kepemilikan saham anak perusahaan di Grup CBP dengan jumlah kepemilikan kurang dari 100% ke ICBP dan melakukan Penawaran Saham Perdana yang dilanjutkan dengan pencatatan saham ICBP di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 7 Oktober 2010. Peningkatan kepemilikan di Pacsari Pte. Ltd sebesar 10% menjadi pemilik 100%.
2011 - Pada bulan Januari 2011, PT Indofood CBP Sukses Makmur, PT Gizindo Primanusantara, PT Indosentra Pelangi, PT Indobiskuit Mandiri Makmur dan PT Ciptakemas Abadi digabung sepenuhnya dengan status perusahaan terbuka (Tbk.) menjadi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. PT Salim Ivomas Pratama (SIMP), anak perusahaan langsung dan tidak langsung Perseroan, melakukan IPO diikuti dengan pencatatan saham di BEI pada 9 Juni 2011.
2012 - Sudono Salim, pendiri ICBP meninggal dunia di Singapura pada tanggal 10 Juni 2012. Tidak lama sesudah meninggalnya, salah satu produk mi instan dari Indofood, Indomie, menyelenggarakan program ulang tahunnya yang ke-40 tahun, pada bulan Agustus 2012 di Jakarta.
2013 - Menyelesaikan akuisisi PT Pepsi-Cola Indobeverages, perusahaan yang memproduksi minuman ringan bermerek Pepsi, 7 Up dan sebagainya. Akuisisi ini dilakukan oleh PT Indofood Asahi Sukses Beverage dan PT Asahi Indofood Beverage Makmur, yang masing-masing adalah 51% dan 49% dimiliki oleh ICBP.
2014 - Indofood masuk ke bisnis minuman bernama Indofood Asahi dan mulai mengimpor dua merek minuman dari Malaysia, yaitu Ichi Ocha dan Caféla Latte dan mengakuisisi merek air mineral Club dari PT Tirta Bahagia.


saham . bursajkse

#INDF