Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri a. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri a. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Agustus 2015

PT Trada Maritime Tbk ( TRAM.JK ) - Membukukan Kerugian Usaha Sebesar USD 62,05 Juta - Semester I 2015

Image result for PT Trada Maritime Tbk

Emiten pelayaran yang dulu sangat hot transaksi sahamnya, PT Trada Maritime Tbk (TRAM) melaporkan kerugian pada Semester I 2015 yang mencapai USD62,05 juta (asumsi kurs saat ini adalah Rp13.500, maka kerugian Perseroan mencapai Rp837,68 miliar) atau USD0,00638 per saham. Kinerja TRAM pada Semester I tahun 2015 tersebut anjilok dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama tahun 2014 yang masih membukukan Laba bersih sebesar USD4,21 juta atau USD0,000433 per saham.

Terpuruknya kinerja TRAM pada Semester I 2015 tersebut disebabkan oleh Penurunan nilai aset Perseroan dan Pendapatan Pokok Perseroan. Kerugian dari Penurunan nilai aset Perseroan mencapai USD57,41 juta pada Semester I 2015, sedangkan pada periode yang sama tidak ada. Pendapatan Pokok Perseroan mengalami penurunan dari USD30,09 juta menjadi USD16,88 juta atau turun 43,90%. Pendapatan Perseroan pada Semester I 2015 dan Semester I 2014 terdiri dari:

  1. Penyewaan dan Pengoperasian kapal – USD16,43 juta dan USD29,37 juta.
  2. Keangena Kapal – USD92,14 ribu dan USD97,15 ribu.
  3. Pengelolaan kapal – USD196,00 ribu dan USD306,42 ribu.
  4. Jasa Logistik – USD121,09 ribu dan USD234,69 ribu.
  5. Demurrage – USD- dan USD11,96 ribu.
  6. Jasa Handling – USD2,93 ribu dan USD9,08 ribu.
  7. Jasa Katering – USD32,18 ribu dan USD57,09 ribu.

Beban usaha Perseroan menurun dari USD1,53 juta menjadi USD1,21 juta. Sedangkan Beban Keuangan Perseroan meningkat dari USD3,90 juta menjadi USD4,03 juta, dan Pendapatan Operasional lainnya meningkat dari USD0,07 juta menjadi USD2,13 juta.

Akhir Juni 2015, aset TRAM mencapai USD218,52 juta, turun 23,49% dari aset tahun 2014 yaitu USD285,61 juta (aset turun karena manajemen menilai ulang aset, untuk memastikan aset tidak melambung terlalu tinggi), utang Perseroan menurun dari USD180,48 juta tahun 2014 menjadi USD175,44 miliar pada Semester I 2015.



Baca Juga: http://bursajkse.blogspot.com/search?q=tram.jk&max-results=20&by-date=true


Catatan:

Trada Maritime Tbk (TRAM) didirikan tanggal 26 Agustus 1998 dengan nama PT Panji Adi Samudera dan memulai usahanya secara komersial pada bulan September 2000. Kantor pusat TRAM terletak di gedung Trada, Jl. Kyai Maja No. 4, Kebayoran Baru, Jakarta.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham TRAM, antara lain: PT Trada Resources Indonesia (21,76%) dan PT Trada International (16,25%), Bank Julius Baer and Co Ltd S/A Baywater Capital Resources Pte Ltd (7,40) dan Barclays Bank Plc, Singapore-Wealth Management (5,06%)..

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan TRAM adalah dalam bidang pelayaran dan penyelenggaraan angkutan laut. Saat ini keigatan usaha TRAM meliputi angkutan muatan cair (liquid cargo), muatan curah kering (bulk carrier), gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), armada akomodasi (self propelled accommodation barge), serta sejumlah kapal penunjang seperti kapal tunda dan tongkang (tug and barge).

Pada tanggal 27 Agustus 2008, TRAM memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham TRAM (IPO) kepada masyarakat sebanyak 4.000.000.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham saham dengan harga penawaran Rp125,- per saham disertai dengan Waran Seri I yang diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif sebanyak 1.000.000.000 dengan pelaksanaan sebesar Rp135,- per saham. Setiap pemegang saham Waran berhak membeli satu saham perusahaan selama masa pelaksanaan yaitu mulai tanggal 10 Maret 2009 sampai dengan 9 September 2011. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 10 September 2008.


saham . bursajkse
#TRAM

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk ( TLKM.JK ) - Laba Bersih Bertumbuh Sebesar 2,19% - Semester I 2015


Perusahaan telekomunikasi terbesar dan terkemuka di Indonesia PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mencetak laba bersih pada laporan Semester I 2015 mencapai Rp7,45 triliun atau Rp75,85 per saham, Laba bersih tersebut meningkat 2,19% dari Laba bersih pada periode yang sama tahun 2014 yaitu Rp7,29 triliun atau Rp74,95 per saham.

Pencapaian kinerja TLKM tersebut didukung oleh Pendapatan perseroan pada Semester I 2015 mengalami pertumbuhan sebesar 12,17% menjadi Rp48,84 triliun dari pendapatan pada Q1 2014 sebesar Rp43,54 triliun. Pendapatan Telkom terdiri dari Pendapatan Telepon, pendapatan interkoneksi (interkoneksi domestik dan international), pendapatan data, internet, dan jasa teknologi informatika, pendapatan sewa jaringan, pendapatan jasa telekomunikasi lainnya (Customer Premise Equipment (CPE) dan terminal pendapatan Sewa, E-paymnet, dan lainnya). Di bawah ini adalah rincian Pendapatan TLKM pada Semester I 2015 dan Semester I 2014 yaitu:

  1. Pendapatan telepon – Rp22,05 triliun dan Rp21,02 triliun.
  2. Pendapatan Interkoneksi – Rp2,24 triliun dan Rp2,38 triliun.
  3. Pendapatan data, internet, jasa IT – Rp22,01 triliun dan Rp18,27 triliun.
  4. Pendapatan sewa jaringan – Rp0,48 triliun dan Rp0,59 triliun.
  5. Pendapatan Jasa telekomunikasi lainnya – Rp2,07 triliun dan Rp1,28 triliun.

Beban Usaha perseroan pada Semester I 2015 mencapai Rp33,72 triliun, tumbuh 12,84% dari beban usaha pada Semester I 2014 yaitu Rp29,47 triliun. Beban usaha perseroan terdiri dari Beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi (Rp14,03 triliun pada Semester I 2015 dan Rp10,77 triliun pada Semester I 2014), Beban Penyusutan dan Amortisasi (Rp8,79 triliun dan Rp8,16 triliun), Beban Karyawan (Rp5,89 triliun dan Rp4,79 triliun), dan Beban Interkoneksi (Rp1,95 triliun dan Rp2,55 triliun), serta Beban Umum dan Pemasaran (Rp3,43 triliun dan Rp3,31 triliun, dan Pendapatan (Beban) Lainnya (Rp0,35 triliun dan Rp0,25 triliun). Beban Keuangan Perseroan meningkat dari Rp0,86 triliun menjadi Rp1,00 triliun.

Total aset Telkom hingga Semester I 2015 mencapai Rp154,05 triliun naik dari Rp141,82 triliun pada tahun 2014. Total utang perseroan mengalami meningkat dari Rp55,69 triliun tahun 2014 menjadi Rp71,79 triliun pada Semester I 2015.








Catatan:

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk / (Telkom) (TLKM) pada mulanya merupakan bagian dari "Post en Telegraafdienst", yang didirikan pada tahun 1884. Pada tahun 1991, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1991, status Telkom diubah menjadi perseroan terbatas milik negara ("Persero"). Kantor pusat Telkom berlokasi di Jalan Japati No. 1, Bandung, Jawa Barat.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Persero) biasa disebut Telkom Indonesia atau Telkomsaja (IDX:TLKM ,LSE: TKID, NYSE: TLK) adalah perusahaan informasi dan komunikasiserta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap di Indonesia. Telkom mengklaim sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, dengan jumlah pelanggan telepon tetap sebanyak 15 juta dan pelanggan telepon seluler sebanyak 104 juta.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Telkom adalah menyelenggarakan jaringan dan jasa telekomunikasi, informatika, serta optimalisasi sumber daya perusahaan, dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, TLKM menjalankan kegiatan yang meliputi: (a) Usaha Utama: Merencanakan, membangun, menyediakan, mengembangkan, mengoperasikan, memasarkan atau menjual, menyewakan, dan memelihara jaringan telekomunikasi dan informatika (b) Usaha Penunjang: 1).Menyediakan jasa transaksi pembayaran dan pengiriman uang melalui jaringan telekomunikasi dan informatika. 2).Menjalankan kegiatan dan usaha lain dalam rangka optimalisasi sumber daya yang dimiliki Perusahaan, yang antara lain meliputi pemanfaatan aktiva tetap dan aktiva bergerak, fasilitas sistem informasi, fasilitas pendidikan dan pelatihan, dan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan.

Jumlah saham TLKM sesaat sebelum penawaran umum perdana (Initial Public Offering atau IPO) adalah 8.400.000.000, yang terdiri dari 8.399.999.999 saham Seri B dan 1 saham Seri A Dwiwarna yang seluruhnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 14 November 1995, Pemerintah menjual saham Telkom yang terdiri dari 933.333.000 saham baru Seri B dan 233.334.000 saham Seri B milik Pemerintah kepada masyarakat melalui IPO di Bursa Efek Indonesia ("BEI") (dahulu Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya), dan penawaran dan pencatatan di Bursa Efek New York ("NYSE") dan Bursa Efek London ("LSE") atas 700.000.000 saham Seri B milik Pemerintah dalam bentuk American Depositary Shares ("ADS"). Terdapat 35.000.000 ADS dan masing-masing ADS mewakili 20 saham Seri B pada saat itu.

Telkom hanya menerbitkan 1 saham Seri A Dwiwarna yang dimiliki oleh Pemerintah dan tidak dapat dialihkan kepada siapapun, dan mempunyai hak veto dalam RUPS Telkom berkaitan dengan pengangkatan dan penggantian Dewan Komisaris dan Direksi, penerbitan saham baru, serta perubahan Anggaran Dasar Perusahaan.

Telkom merupakan salah satu BUMN yang sahamnya saat ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia(52,47%), dan 47,53% dimiliki oleh Publik, Bank of New York, dan Investor dalam Negeri.[1]Telkom juga menjadi pemegang saham mayoritas di 13 anak perusahaan, termasuk PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

Direktur Utama Telkom saat ini adalah Alex Janangkih Sinaga, menggantikan Arief Yahya yang telah menjadi Menteri Pariwisata di Kabinet Kerja Jokowi[2][3].


Sejarah

Era kolonia

Pada tahun 1882, didirikan sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegraf. Layanan komunikasi kemudian dikonsolidasikan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke dalam jawatan Post Telegraaf Telefoon (PTT). Sebelumnya, pada tanggal 23 Oktober 1856, dimulai pengoperasian layanan jasa telegraf elektromagnetik pertama yang menghubungkan Jakarta (Batavia) dengan Bogor (Buitenzorg).[4] Pada tahun 2009 momen tersebut dijadikan sebagai patokan hari lahir Telkom.

Perusahaan negara

Pada tahun 1961, status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Kemudian pada tahun 1965, PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro) dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).

Perumtel

Pada tahun 1974, PN Telekomunikasi diubah namanya menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional. Tahun 1980 seluruh saham PT Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat) diambil alih oleh pemerintah RI menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel. Pada tahun 1989, ditetapkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi, yang juga mengatur peran swasta dalam penyelenggaraan telekomunikasi.

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero)

Pada tahun 1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1991.

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk

Pada tanggal 14 November 1995 dilakukan Penawaran Umum Perdana saham Telkom. Sejak itu saham Telkom tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) (keduanya sekarang bernama Bursa Efek Indonesia (BEI)), Bursa Saham New York (NYSE) dan Bursa Saham London (LSE). Saham Telkom juga diperdagangkan tanpa pencatatan di Bursa Saham Tokyo. Jumlah saham yang dilepas saat itu adalah 933 juta lembar saham.

Tahun 1999 ditetapkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Sejak tahun 1989, Pemerintah Indonesia melakukan deregulasi di sektor telekomunikasi dengan membuka kompetisi pasar bebas. Dengan demikian, Telkom tidak lagi memonopoli telekomunikasi Indonesia.

Tahun 2001 Telkom membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara Telkom dan Indosat. Sejak bulan Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.

Pada 23 Oktober 2009, Telkom meluncurkan "New Telkom" ("Telkom baru") yang ditandai dengan penggantian identitas perusahaan.

Komposisi kepemilikan Saham

Pada Penawaran saham pada 14 November 1995 dan block sale Desember 1996, komposisi saham Telkom menjadi:

Pemerintah Indonesia: 75,80%
Publik free-float: 24,2%

Per 7 Mei 1999, komposisi saham Telkom menjadi:

Pemerintah Indonesia: 66,20%
Publik free-float: 33,80%

Per 8 Desember 2001, Saham Telkom berubah menjadi:

Pemerintah Indonesia: 54,30%
Publik free-float: 45,70%

Per 16 Juli 2002, saham Telkom berubah kembali menjadi:

Pemerintah Indonesia: 51,19%
Publik free-float: 40,21%
Bank of New York dan Investor dalam Negeri: 8,79%

Sebelum Penawaran saham perdana, Telkom 100% dimiliki Pemerintah Indonesia




saham . bursajkse
#TLKM

PT Jasa Marga Tbk ( JSMR.JK ) - Laba Bersih Menurun Jadi Rp. 670,03 Miliar

Image result for PT Jasa Marga Tbk

PT Jasa Marga Tbk (JSMR) membukukan laba bersih pada semester pertama 2015 sebesar Rp670,03 miliar atau turun sekitar 17,44 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp811,59 miliar.

Dalam laporan keuangan Jasa Marga Tbk kepada Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (30/7), menyebutkan hasil laba bersih itu seiring dengan kinerja pendapatan usaha Jasa Marga yang tercatat turun menjadi Rp4,09 triliun pada semester I 2015, dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp4,48 triliun.

Disebutkan bahwa menurunnya pendapatan usaha perseroan itu menyusul hasil pendapatan konstruksi pada semester I 2015 yang mengalami perlambatan menjadi Rp455,22 miliar, lebih rendah dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp1,05 triliun. Pada pos pendapatan usaha lainnya, juga tercatat turun menjadi Rp229,13 miliar.

Sementara pos pendapatan tol JSMR tercatat mengalami kenaikan menjadi Rp3,41 trilun, dibandingkan semester I 2014 yang sebesar Rp3,17 triliun.

Untuk posisi aset Jasa Marga pada semester I 2015, tercatat mengalami peningkatan menjadi Rp32,67 triliun, naik sekitar 2,57 persen dibandingkan posisi 31 Desember 2014 yang sebesar Rp31,85 triliun.

Sementara itu, Sekertaris Perusahaan JSMR Mohammad Sofyan dalam keterangan resminya memaparkan dengan diakusisinya Ruas Tol Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono dan Cinere-Serpong sepanjang 187 km, maka perseroan telah memiliki konsesi sepanjang 1.000 km.

Pada tahun ini perseroan juga telah mengoperasikan Ruas Jalan Tol Gempol-Pandaan sepanjang 13,6 km pada Juni 2015. 

Selanjutnya perseroan menargetkan pengoperasian dua ruas tol baru di Jawa Timur (Ruas Gempol-Pasuruan Seksi Gempol-Rembang dan ruas Surabaya-Mojokerto Seksi Krian-Mojokerto), sehingga total keseluruhan penambahan panjang jalan tol operasi pada akhir tahun 2015 adalah sekitar 46 km. 





Catatan:

Jasa Marga (IDX:JSMR ) adalah Badan Usaha Milik Negara Indonesia yang bergerak di bidang penyelenggara jasa jalan tol. Perusahaan ini dibentuk pada tahun 1978 setelah jalan tol pertama, yang menghubungkan Jakarta-Bogor selesai dibangun.

Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) didirikan tanggal 01 Maret 1978 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1978. Kantor pusat JSMR beralamat di Plaza Tol Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 13550.

Pemegang saham mayoritas Jasa Marga adalah Negara Republik Indonesia, dengan persentase kepemilikan sebesar 70,00%.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan JSMR adalah turut serta melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya pembangunan dibidang pengusahaan jalan tol dengan sarana penunjangnya dengan menerapkan prinsip-prinsip perusahaan terbatas. Saat ini, Jasa Marga mengoperasikan 26 ruas jalan tol yang dikelola oleh 9 Kantor Cabang.

Selain itu, Jasa Marga juga menjalankan usaha lain melalui cabang (pengelolaan rest area di jalan tol dan SPBU; penyelenggara pelatihan dan pengembangan SDM) dan anak usaha (melalui PT Jasa Layanan Pemeliharaan menjalankan usaha jasa konstruksi, perdagangan dan persewaan kendaraan; dan PT Jasamarga Properti menjalankan usaha pembangunan, penjualan dan jasa properti).

Pada tanggal 01 Nopember 2007, JSMR memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham JSMR (IPO) kepada masyarakat sebanyak 2.040.000.000 saham Seri B dengan nilai nominal Rp500,- per saham dengan harga penawaran Rp1.700,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 12 Nopember 2007.

Pada JSMR terdapat saham Seri A yang mempunyai hak istimewa tertentu sebagai tambahan atas hak yang diperoleh Pemegang Saham Seri B. Hak istimewa tersebut mencakup hak khusus untuk mencalonkan anggota direksi dan komisaris dan untuk memberikan persetujuan atas: peningkatan modal, perubahan anggaran dasar, penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan, pembubaran dan likuidasi, pengangkatan dan pemberhentian anggota direksi dan komisaris.

Sebagai perusahaan jalan tol pertama di Indonesia, dengan pengalaman lebih dari 37 tahun dalam membangun dan mengoperasikan jalan tol, saat ini Jasa Marga adalah pimpinan dalamindustrinya dengan mengelola lebih dari 531 km jalan tol atau 76% dari total jalan tol di Indonesia.

Sebagai perusahaan infrastruktur penyedia jalan tol keberadaan Jasa Marga sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas. Pertumbuhan penjualan kendaraan yang tinggi serta kebijakan otoritas pengatur jalan tol yang semakin kondusif akan membuat posisi Jasa Marga semakin kuat dalam industri jalan tol di Indonesia.


Pengelolaan

Jalan Tol Jagorawi
Jalan Tol Ulujami-Serpong (bersama Nusantara Infrastructure)
Jalan Tol Cawang-Pluit
Jalan Tol Prof. Dr. Sedyatmo
Jalan Tol Jakarta-Merak (bersama PT Marga Mandalasakti)
Jalan Tol Jakarta-Cikampek
Jalan Tol Purbaleunyi
Jalan Tol Palimanan-Kanci-Pejagan (bersama PT MNC Infrastruktur Utama, anak perusahaan MNC Media)
Jalan Tol Dalam Kota Semarang
Jalan Tol Surabaya-Porong
Jalan Tol Belmera
Jalan Tol Lingkar Dalam Kota Jakarta (bersama PT Citra Marga Nushapala Persada)
Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (bersama JLJ, JLB, dan MLJ)
Jalan Tol Lingkar Luar Bogor (Marga Sarana Jabar, salah satu anak perusahaan PT Jasa Marga bersama PT Citra Marga Nushapala Persada)
Jalan Tol Waru-Juanda (bersama PT Marga Nujyasumo Agung dan PT Citra Margatama Surabaya, anak perusahaan PT Citra Marga Nushapala Persada)
Jalan Tol Semarang-Solo (Trans Marga Jateng)
Jalan Tol Gempol-Pasuruan (Margabumi Adhikaraya)
Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta 2 (perkiraan selesai tahun 2016)

Rencana jalur HOV

Jalan Tol Jagorawi (ruas Sentul Selatan-Cawang)
Jalan Tol Jakarta-Cikampek (ruas Cikarang Utama-Cawang)
Jalan Tol Jakarta-Tangerang
Jalan Tol Lingkar Dalam Kota Jakarta
Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta
Jalan Tol Prof. Dr. Sedyatmo
Jalan Tol Ulujami-Serpong
Jalan Tol Serpong-Balaraja



saham . bursajkse

PT Wijaya Karya Tbk ( WIKA.JK ) - Memutuskan Untuk Menunda IPO Wika Realty

Image result for PT Wijaya Karya Tbk

Emiten konstruksi BUMN, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) akan menunda pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) anak usahanya, PT Wika Realty. 

Direktur Keuangan WIKA Adji Firmantoro, keada pers di Jakarta, Kamis (30/7) mengatakan kondisi perekonomian yang tidak kondusif mendorong perseroan menunda IPO Wika Realty menjadi tahun depan.

"IPO Wika Realty pada tahun depan dari rencana akhir tahun ini. Untuk 
eksekusi, tergantung kondisi di pasar modal dan bisnis," katanya.

Adji menambahkan situasi ekonomi yang sedang melambat tercermin dari kinerja perseroan pada semester I-2015 ini. 

"Semester I tidak terlalu menggembirakan, karena ekonomi lemah, meski demikian kita Optimis semester II akan berjalan sesuai estimasi target," jelas Adji.







Catatan:

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) adalah salah satu perusahaan konstruksi di Indonesia. Dari hasil nasionalisasi perusahaan Belanda, Naamloze Vennotschap Technische Handel Maatschappij en Bouwbedijf Vis en Co atau NV Vis en Co, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1960 dan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL) No. 5 tanggal 11 Maret 1960, WIKA lahir dengan nama Perusahaan Negara Bangunan Widjaja Karja.

Dimulai sebagai sub-kontraktor, di akhir 1960-an WIKA berkembang menjadi pemborong pemasangan jaringan listrik tegangan rendah, menengah, dan tinggi. Di awal tahun 1970, WIKAmemperluas usahanya menjadi perusahaan kontraktor sipil dan bangunan perumahan.

Perusahaan memasuki babak baru pada 20 Desember 1972. Melalui Akta No. 110, dibuat di hadapan Notaris Djojo Muljadi, perusahaan berubah status menjadi Perseroan Terbatas Wijaya Karya (Persero).

Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) didirikan tanggal 29 Maret 1961 dengan nama Perusahaan Negara/PN "Widjaja Karja" dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1961. Kantor pusat perusahaan beralamat di Jl. D.I Panjaitan Kav.9, Jakarta Timur dengan lokasi kegiatan utama di seluruh Indonesia dan luar negeri.

Pada tanggal 11 Oktober 2007, WIKA memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham WIKA (IPO) kepada masyarakat atas 1.846.154.000 lembar saham seri B baru, dengan nilai nominal Rp100,- per saham dan harga penawaran Rp420,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 29 Oktober 2007.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.64, perusahaan bangunan bekas milik Belanda yang bernama Naamloze Vennootschap Technische Handel Maatschappij en Bouwbedrijf Vis en Co. yang telah dikenakan nasionalisasi, dilebur ke dalam PN Widjaja Karja. Kemudian tanggal 22 Juli 1971, PN. Widjaja Karja dinyatakan bubar dan dialihkan bentuknya menjadi Perusahaan Perseroan (PERSERO). Selanjutnya pada tanggal 20 Desember 1972 Perusahaan ini dinamakan PT Wijaya Karya.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, maksud dan tujuan WIKA adalah berusaha dalam bidang industri konstruksi, industri pabrikasi, industri konversi, jasa penyewaan, jasa keagenan, investasi, agro industri, energi terbarukan dan energi konversi, perdagangan, engineering procurement, construction, pengelolaan kawasan, layanan peningkatan kemampuan di bidang jasa konstruksi, teknologi informasi jasa engineering dan perencanaan.

WIKA selalu melakukan terobosan. Berevolusi menjadi perusahaan infrastruktur yang terintegrasi melalui pengembangan sejumlah anak perusahaan. Diantaranya WIKA Beton, WIKA Intrade, danWIKA Realty.

Pertumbuhan WIKA sebagai perusahaan infrastruktur terintegrasi yang kuat semakin mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Perseroan sukses dalam melaksanakan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) sebanyak 35% kepada public pada 29 Oktober 2007, di Bursa Efek Indonesia. Setelah IPO, pemerintah Republik Indonesia memegang 68,4%, sementara sisanya dimiliki oleh masyarakat, termasuk karyawan, melalui Management Stock Ownership Program (MSOP), Employee Stock Allocation (ESA), dan Employee/ Management Stock Option (E/MSOP).

Perolehan dana segar dari IPO dipergunakan untuk mendukung pertumbuhan dan inovasi yang dilakukan oleh WIKA. Posisi WIKA menjadi kuat, dimana saat itu krisis ekonomi dunia mulai memperlihatkan dampaknya di dalam negeri. Struktur permodalan yang kuat sangat mendukungWIKA dalam meluaskan operasinya ke luar negeri dan terus mengembangkan Engineering Procurement and Construction (EPC), serta berinvestasi dan mengembangkan sejumlah proyek infrastruktur, khususnya proyek-proyek yang menjadi program pemerintah terkait dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

WIKA saat ini memiliki 6 Strategic Business Unit (SBU) yang meliputi konstruksi (Kontruksi sipil dan konstruksi Bangunan Gedung), Mekanikal elektrikal, Industri Beton Pra cetak, Real Estate dan Industri Lainnya yang ke depannya akan semakin terintegrasi menjadi perusahaan Engineering Procurement Construction (EPC) dan Investasi.


Konstruksi Sipil

SBU Konstruksi Sipil dikelola dibawah Departemen Sipil Umum dan Departemen Wilayah & Luar Negeri yang terdiri dari sub-sub bidang usaha: jalan dan jembatan, pengairan, prasarana perhubungan, dan ketenagaan. Saat ini, kegiatan usaha SBU Konstruksi Sipil tidak sekadar kontraktor. Didukung oleh Tim Enjinering yang mumpuni, SBU ini berkemampuan mengerjakan rancang bangun (design and build) dari mulai proses perencanaan sampai proses konstruksi. Beberapa proyek yang telah dikerjakan diantaranya adalah Jetty Batubara PLTU Cilacap, Jetty Wood Chip Pulau Laut, serta Removable Trashrack Banjir Kanal Manggarai.

Untuk sub bidang usaha jalan, jalan tol, dan jembatan, SBU ini telah berhasil menyelesaikan berbagai proyek berskala besar dan berteknologi tinggi, diantaranya:• 

Jembatan Layang Sudirman dan KS Tubun dengan menggunakan teknologi Incremental Launching Method (ILM).

• Jembatan Layang Pasupati Bandung yang merupakan jembatan layang terpanjang di Indonesia dengan teknologi Cable Stayed.

• Jembatan Layang Cikubang-Tol Cipularang Jawa Barat yang merupakan jembatan dengan pilar tertinggi di Indonesia.

• Jembatan Surabaya Madura

Sub bidang pengairan meliputi pembangunan prasarana dan sarana dasar bidang pengairan antara lain bendung, bendungan/dam, saluran irigasi, penyediaan air baku, instalasi pengolahan air bersih, dan penanggulangan banjir.

Di bidang ini, WIKA berhasil merampungkan sejumlah proyek antara lain:

• Bendung Gerak Klambu Barrage dan Bendung Gerak Serayu di propinsi Jawa Tengah.

• Banjir Kanal Timur, Normalisasi Sungai Bengawan Solo, Bendung Amandit di Kalimantan, dan Waduk Jatigede di Jawa Barat.

Sub bidang usaha prasarana perhubungan meliputi jasa konstruksi prasarana perhubungan darat, laut, dan udara, seperti bandara, pelabuhan laut, termasuk jetty dan terminal peti kemas, dan stasiun kereta api. Beberapa proyek yang telah diselesaikan antara lain:

• Pelabuhan Peti Kemas dan Car Terminal Tanjung Priok.

• Double Track Parujakan Cirebon.

• Jalan Tol Surabaya - Mojokerto.


Konstruksi Bangunan Gedung

SBU Konstruksi Bangunan Gedung dikelola oleh Departemen Bangunan Gedung untuk pasar Pemerintah dan BUMN, sedangkan untuk pasar swasta dikelola oleh anak perusahaan tersendiri,WIKA Gedung. SBU konstruksi bangunan gedung meliputi Sub Bidang Usaha Bangunan Hunian dan Bangunan Fasilitas. Saat ini, dengan dukungan kemampuan di bidang enjinering, telah melakukan pekerjaan rancang bangun atau design and build, yaitu melakukan pekerjaan sejak proses perencanaan sampai proses konstruksi.

Sub bidang usaha jasa konstruksi bangunan hunian, meliputi pembangunan apartemen, kondominium, hotel, rumah susun, dan kompleks perumahan. Sejumlah proyek yang dikerjakan diantaranya:

• Bangunan Hunian: Asrama Universitas Negeri Semarang.

• Bangunan Hotel: Hotel Paragon City, Semarang.


Sub bidang usaha bangunan fasilitas menggarap bangunan fasilitas seperti rumah sakit, terminal penumpang bandara dan stasiun, sarana pendidikan, sarana olahraga, perkantoran, mal dan sarana rekreasi lainnya. Sejumlah proyek yang dikerjakan antara lain:

• Terminal Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II Pekan Baru, Terminal Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin Palembang.

• Terminal Bandar Udara Ngurah Rai, Bali dan Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan.

• Gedung Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Yogyakarta, Perpustakaan Universitas Medan, Manufacturing Research Center UI Depok.


Mekanikal Elektrikal

SBU Mekanikal Elektrikal dikelola oleh Departemen Industrial Plant yang meliputi sub bidang usaha Minyak & Gas, Sarana Industri, dan Pabrik Fabrikasi Baja. Sub bidang usaha Minyak & Gas meliputi EPC Mekanikal Elektrikal di sektor hulu, sektor hilir, dan distribusi dari kegiatan operasi di sektor minyak & gas. Di sektor hulu terkait dengan pekerjaan processing gas plant, crude oil & gas pipeline distribution. Di sektor hilir terkait dengan pekerjaan kilang minyak, pipanisasi, dan tank terminal. Sejumlah Proyek EPC yang sedang dikerjakan saat ini antara lain:

• Proyek EPC Pembangunan Terminal LPG Pressurized di Tanjung Sekong -Banten

• Proyek EPC Pembangunan DPPU Kualanamu – Medan

• Proyek EPC Penggantian Fasilitas DPPU Soekarno – Hatta

• Proyek EPC Relokasi Depot LPG Tanjung Priok

• Proyek EPC Pembangunan pipa Minyak Mentah Tempino – Plaju

• Proyek EPC Penggantian Pipanisasi CB-I Tasikmalaya - Ujung Berung

• Pekerjaan EPC Tie-in PLTP Dieng (Geodipa)

Sub bidang usaha Sarana Industri meliputi Jasa Konstruksi & EPC di bidang industri (pabrik) dan material handling seperti pabrik Pengolahan Kelapa Sawit, pabrik biofuels, pabrik granulasi pupuk NPK, pabrik semen, pabrik farmasi, serta instalasi pengolahan air bersih & limbah.

Sejumlah Proyek EPC yang sedang dikerjakan saat ini antara lain:

a. Design and Build (Turnkey) 2500 MT per Day Palm Oil Refinery Pulau Laut

b. Out of Pit Crushing & Conveying (OPCC) System ADARO

c. ANTAM Belt Conveyor MOP – PP FeNi 1 Pomala

Sub bidang usaha Pabrik Fabrikasi Baja pada awalnya merupakan sarana pabrikasi pendukung. Namun sejak tahun 2009 ditingkatkan menjadi sub bidang usaha yang dapat mengelola sendiri usahanya mulai dari pemasaran, produksi, dan pengiriman dengan rentang produk yang besar dalam menghasilkan Produk Konstruksi Baja seperti struktur rangka baja, conveyor, pipe rack, tower telekomunikasi, tower transmisi listrik, jembatan rangka baja, tanki baja, silo, hopper, pressure vessel, welded beam, dan steel plate work lainnya. Selain memproduksi produk-produk di atas, saat ini sedang dijajaki produk-produk baja lainnya terkait dengan industri perminyakan dengan target pasar Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S), misalnya pekerjaan onshore steel platform, dan komponen industri alat berat (heavy equipment).

SBU Mekanikal Elektrikal juga dikelola oleh Departemen Energi yang menjalankan usaha dalam bidang konstruksi berbasis EPC (Engineering Procurement Construction) yang terintegrasi. Lingkup pekerjaan yang dilakukan mulai dari pekerjaan rekayasa dasar, rekayasa proses, rekayasa detil, procurement terkait pengadaan equipment, dan construction atau pelaksanaan konstruksi dari proyek-proyek yang telah direncanakan. Saat ini, yang dikerjakan adalah EPC Power Plant, baik yang terkait dengan konstruksi sipil maupun EPC dari Power Plant. Beberapa proyek yang dikerjakan terkait power plant antara lain:

• Kontruksi Sipil Power Plant: PLTU Labuhan Angin, PLTU Labuan, PLTU Pelabuhan Ratu, PLTG Muara Karang, PLTGU Tanjung Priok, dan PLTU Pacitan.

• EPC Power Plant: PLTU Amurang 2 x 25 MW, PLTD Bali 50 MW, PLTU Asam-Asam 2x65MW, Kalimantan Selatan.


Anak perusahaan yang mendukung SBU Mekanikal Elektrikal adalah PT WIKA Insan Pertiwi yang bergerak dibidang instalasi, operasi dan pemeliharaan pembangkit dan peralatan industri. Di bidang energi terbarukan WIKA memiliki anak perusahaan PT WIKA Jabar Power yang bergerak di bidang pengusahaan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Tampomas, Sumedang, Jawa Barat. Investasi pembangkit lainnya yang dikelola di bawah Biro Investasi dengan pola BOT (Build Operate Transfer) PLTD Bali dan PLTG Borang di Palembang, sedangkan dengan pola BOO (Build Operate Owned) PLTMG Rengat, Riau dan PLTD Ambon.

Untuk industri beton pracetak (precast) dikelola oleh anak perusahaan PT WIKA Beton, untuk industri dan perdagangan dikelola oleh PT WIKA Intrade, untuk bisnis realti dikelola oleh anak perusahaan PT WIKA Realty, sedangkan penyertaan pada usaha patungan pengusahaan jalan tol dikelola oleh PT MNA untuk tol Surabaya-Mojokerto, PT MKC untuk tol Cengkareng-Kunciran, PT Jasa Marga Bali Tol untuk tol Tanjung Benoa, Bali dan untuk bisnis energi terbarukan dikelola oleh PT WINNER.


Karena peraturan pemerintah yang mengharuskan BUMN kembali kebisnis intinya. Maka usaha usaha di luar konstruksi dipecah menjadi anak perusahaan, yaitu :



1. PT Wijaya Karya Beton (WIKA BETON) 

PRODUK WIKA BETON

WIKA BETON adalah salah satu dari anak perusahaan yang telah berdiri sejak 11 Maret 1997, anak perusahaan ini merupakan perluasan WIKA di bidang industri beton pracetak. WIKA telah memulai konsentrasi pada industri beton pracetak pada tahun 1977 dengan mengembangkan produk beton pracetak untuk teras perumahan. Sejak saat itu, WIKA bertekad mempertahankan pengembangan produk tersebut untuk mengantisipasi adanya pengembangan perencanaan dan datangnya proyek-proyek infrastuktur lain.

Pengembangan produk tersebut telah menciptakan beberapa hasil seperti tiang beton untuk jalur pendistribusian energi dan bantalan beton pracetak serta produk lainnya seperti bantalan - bantalan rel kereta api, produk beton untuk jembatan, pipa, dinding penahan tanah dan bangunan gedung dan perumahan yang diimplementasikan untuk berbagai macam proyek. Produk-produk ini dihasilkan pada waktu yang tepat dan diprediksikan akan menjadi produk pemimpin di pasaran.

Terlepas dari usaha keras dalam pengembangan produk, WIKA juga melanjutkan pengembangan produk-produk infrastruktur dengan menambah jumlah pabrik di beberapa lokasi. Kini, WIKA BETON telah memiliki 7 pabrik di seluruh Indonesia, seperti di Sumatera Utara, Lampung, Bogor, Majalengka, Boyolali, Pasuruan dan Sulawesi Selatan. Didukung dengan kepemilikan pabrik sendiri, produk yang bervariasi seperti halnya manajemen yang profesional, WIKA BETON telah menjadi penghasil utama dan pemimpin dalam industri beton pracetak di Indonesia. Dalam hal konsistensi jaminan kualitas, WIKA BETON telah melaksanakan "Quality Management System" yang selaras dengan ISO 9000.


2. PT Wijaya Karya Realty (WIKA REALTY) 

WIKA REALTY

WIKA REALTY fokus pada pengembangan bisnis realty dan property yang juga meliputi layanan konsultasi, perencanaan, layanan konstruksi dan pembukaan lahan. WIKA REALTY telah membangun beberapa perumahan sejak tahun 1985.

Ribuan unit rumah telah dibangun dengan konsep Tamansari, yaitu konsep taman perumahan dengan dukungan fasilitas terbaik bagi keluarga. Lokasinya berada di: Tamansari Pesona Bali di selatan Jakarta, Tamansari Persada Bogor, Tamansari Bukit Damai di Parung, Bogor, Tamansari Bukit Bandung, Tamansari Manglayang Regency di Bandung, Tamansari Bukit Mutiara di Balikpapan.

WIKA Realty telah meraih beberapa penghargaan untuk kesuksesannya dalam pengembangan bidang realty baik dalam skala regional maupun nasional, seperti: The Winner of Ecologically Environment Real Estate in West Java pada tahun 1993, The Winner of Enchantment Tour in Bekasi Region pada tahun 1995, The Winner of Wirastana Adistana Environmental Design of REI National Grade 1995, The Winner of Nusa Adikualita, National Application Award pada tahun1997, The Winner of Environmental Garden Estate in Bandung Region pada tahun 1997.

Pada tahun 2012, segmen bisnis real estate Wika Realty berhasil memperoleh kontrak baru senilai Rp1,46 triliun. Secara keseluruhan, jumlah nilai kontrak yang dihadapi oleh bisnis real estate perusahaan pada tahun 2012 adalah sebesar Rp1,83 triliun, 72,64% lebih tinggi dari jumlah kontrak yang dihadapi tahun 2011 sebesar Rp1,06 triliun.

Jumlah penjualan bersih segmen real estate mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 61,10% menjadi Rp842,04 miliar pada tahun 2012 dibandingkan penjualan bersih tahun 2011 sebesar Rp522,69 miliar.

Untuk memastikan pengembangan kualitas dan kepuasan konsumen, WIKA REALTY telah melaksanakan Manajemen Kualitas ISO 9001 di setiap produknya, hal ini merupakan jawaban dari setiap tantangan dalam pemenuhan kebutuhan konsumen yang dibuktikan melalui perolehan peningkatan pertumbuhan).



3. PT Wijaya Industri & Konstruksi (WIK) 

WIKA INDUSTRI & KONSTRUKSI

WIKA Industri & Konstruksi adalah anak perusahaan PT WIKA yang berasal dari penggabungan dua divisi yaitu Divisi Produk Metal dan Divisi Perdagangan PT WIKA. Tujuannya adalah untuk meningkatkan perhatian pada manajemen bisnis, untuk lebih mandiri dan untuk menghasilkan kinerja perusahaan yang lebih baik.

Tiga bisnis unit terdiri dari: Perdaganan Umum, Metal dan Konversi Energi. Yakin bahwa "quality is our way of live" menjadi aset mendasar dalam membangun kepercayaan konsumen akan kualitas produk WIKA Industri & Konstruksi. Ini dibuktikan dengan konsistensi komitmen manajemen dalam menjalankan ISO 9000, QS 9000, 5R, K3 dan Total Quality Management (TQM) sebagai salah satu parameter kesuksesan bisnis. Karenanya, telah dibentuk penempatan bisnis dan diferensiasi di setiap SBU agar dapat bertahan dalam era persaingan pasar global yang semakin kompetitif.



4. PT Wijaya Karya Bangunan Gedung (WIKA GEDUNG) 

WIKA GEDUNG

Pada tanggal 24 Oktober 2008, WIKA secara resmi mendirikan PT Wijaya Karya Bangunan Gedung (WIKA Gedung/WG). WG berdiri dengan modal dasar sebesar Rp 200 miliar, serta modal ditempatkan dan disetor sebesar Rp 50 miliar dengan komposisi kepemilikan saham oleh WIKAsebesar 99 persen dan Koperasi Karyawan WIKA sebesar satu (1) persen. Dengan dijadikannya WG sebagai entitas tersendiri, gerak langkah dan pengambilan keputusan dalam rangka perolehan proyek menjadi lebih ringkas dan cepat. Sehingga akan memperkuat kinerja fundamental WIKAselaku perusahaan induk.

Jenis pekerjaan yang menjadi lingkup bisnis WG adalah :

Gedung Fasilitas meliputi pembangunan, pemeliharaan dan perbaikan gedung bukan tempat tinggal seperti gedung perkantoran, pendidikan, tempat peribadatan, sarana kesehatan, penginapan, pusat perdagangan, kawasan industri/pabrik, gedung terminal/stasiun, gedung olah raga, gedung kesenian/hiburan, bangunan gudang, hanggar dan lain sebagainya.

Gedung Hunian meliputi usaha pembangunan, pemeliharaan dan perbaikan gedung yang digunakan untuk bangunan tempat tinggal, seperti rumah, perumahan, dan rumah susun.




5. PT Wijaya Karya Rekayasa Konstruksi (WRK) 

WIKA REKAYASA KONSTRUKSI

Pada 18 November 2008, WIKA merampungkan proses akusisi PT Catur Insan Pertiwi (CIP). CIP adalah salah satu perusahaan tiga besar di Indonesia yang bergerak di bidang erection dan installation mekanikal elektrikal untuk proyek industrial dan power plant. WIKA mengakuisisi 70,08 persen saham CIP dengan nilai valuasi sebesar Rp 23 miliar, ekuivalen dengan 438 lembar saham yang bersumber dari kas internal perseroan. Tujuan dilakukan akuisi perusahaan ini adalah untuk memperkuat pertumbuhan non-organiknya dengan cara meningkatkan efisiensi biaya dan efektivitas operasi, dalam pekerjaan mekanikal dan elektrikal. Setelah akuisisi nama perusahaan berubah menjadi PT WIKA Insan Pertiwi (WIP).

Kondisi pemasaran khususnya terkait dengan perolehan kontrak baru berdasarkan bidang usaha dapat digambarkan sebagai berikut: Industrial Plant: 11,9 persen Power Plant & ME: 46,6 persen Pabrikasi: 6,7 persen Operation & Maintenance: 6,8 persen Mining Equipment: 27,9 persen



6. PT Sarana Karya (SAKA) 

Header-sarana-karya

PT Sarana Karya memiliki binis inti dalam bidang pertambangan aspal Buton dengan menyediakan aspal olahan dan siap pakai untuk keperluan konstruksi jalan dan lainnya. BUMN ini juga memiliki jaringan distribusi untuk pasar dalam maupun luar negeri yang diyakini akan sangat mendukung rencana pengembangan kegiatan usaha WIKA.

Tahun 2013, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mengakuisisi 100 % saham PT Sarana Karya (Persero), yaitu sebanyak 5.000 lembar saham milik Pemerintah Republik Indonesia atau senilai Rp 50 miliar. Transaksi ini sebagai langkah tindak lanjut setelah terbitnya Peraturan Pemerintah No. 91 Tahun 2013 tentang Penjualan Saham Milik Negara Republik Indonesia pada Perusahaan Perseroan (Persero) PT Sarana Karya tertanggal 24 Desember 2013.





saham . bursajkse

PT Cowell Development Tbk ( COWL.JK ) - Membukukan Laba Bersih Semester I 2015 Negative

Image result for PT Cowell Development Tbk

Emiten Properti PT Cowell Development Tbk (COWL) melaporkan kinerja pada Semester I dengan mencetak Kerugian bersih yang sangat besar yaitu Rp119,81 miliar atau Rp(24,59) per saham. Dengan kerugian tersebut, Kinerja Perseroan menjadi anjilok bila dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama tahun 2014 yang masih mencetak laba bersih sebesar Rp13,08 miliar atau Rp2,68 per saham.

Kerugian yang sangat besar pada semester I 2015 yang dialami Perseroan disebabkan oleh Kerugian Kurs yang sangt besar yaitu Rp111,90 miliar. Beban Pokok Perseroan mengalami kenaikan dari Rp68,54 miliar menjadi Rp124,79 miliar, dan Beban usaha juga mengalami peningkatan dari Rp44,46 miliar menjadi Rp86,58 miliar, beban keuangan mengalami peningkatan dari Rp37,27 miliar menjadi Rp72,06 miliar.

Penjualan Pokok Perseroan meningkat 69,82% menjadi Rp290,80 miliar dibandingkan Rp171,24 miliar pada periode yang sama tahun 2014. Penjualan Pokok Perseroan pada Semester I 2015 dan Semester I 2014 yaitu

  1. Rumah – Rp- dan Rp79,23 miliar.
  2. Apartemen – Rp189,18 miliar dan Rp0.
  3. Sewa – Rp72,36 miliar dan Rp66,84 miliar.
  4. Jasa pelayanan – Rp26,48 miliar dan Rp24,17 miliar.
  5. Lainnya– Rp2,79 miliar dan Rp0,99 miliar.

Aset Perseroan mengalami penurunan sedikit dari Rp3,68 triliun tahun 2014 menjadi Rp3,66 triliun pada Semester I 2015, utang Perseroan meningkat dari Rp2,33 triliun menjadi Rp2,44 triliun.





Catatan:

PT Cowell Development Tbk (COWL) didirikan tanggal 25 Maret 1981 dengan nama PT Internusa Artacipta dan memulai kegiatan operasi komersialnya sejak 1981. Kantor pusat Cowell berlokasi di Graha Atrium. Lantai 6. Suite 6.01A. Jalan Senen Raya No. 135. Jakarta Pusat.

Induk usaha COWL adalah PT Gama Nusapala, merupakan perusahaan yang dimiliki oleh PT Lestari Investindo Mandiri (LIM). LIM merupakan perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Fransiscus Suciyanto.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan COWL bergerak dalam bidang jasa, pembangunan, dan perdagangan, terutama jasa pengelolaan gedung, pembangunan dan pengembangan perumahan, dan perdagangan real estat. Saat ini, kegiatan usaha COWL adalah pembangunan, pengembangan, dan penjualan unit Rumah, Ruko dan Kavling di perumahan Melati Mas Residence, Serpong Park dan Serpong Terrace, yang berlokasi di Serpong, Tangerang.

Pada tanggal 10 Desember 2007, COWL memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham COWL (IPO) kepada masyarakat sebanyak 250.000.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp130,- per saham dan disertai sebanyak 150.000.000 Waran Seri I. Saham dan Waran Seri I tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 19 Desember 2007.




saham . bursajske

PT Bumi Resources Tbk ( BUMI.JK ) - Fokus Pangkas Utang Seiring Dengan Jatuhnya Nilai Saham di Rp. 50

Image result for PT Bumi Resources Tbk

Manajemen PT Bumi Resources Tbk akhirnya angkat bicara terkait jebloknya harga saham perseroan ke level terendah yaitu Rp 50 per saham. Perseroan mengakui adanya permasalahan kinerja karena kondisi ekonomi dan terpuruknya harga batubara, serta menumpuknya utang.

Seperti diketahui, harga saham anak usaha Grup Bakrie tersebut mentok di level Rp 50 per saham sejak Senin (27/9). Bumi menambah daftar harga saham Grup Bakrie yang mentok menjadi enam dari 10 perusahaan grup tersebut yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebelumnya, kelima saham grup Bakrie yang harganya telah mentok di level terendah adalah PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), dan PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP).

"Kami percaya harga saham ini mencerminkan dampak gabungan dari kondisi sektor ekonomi dan batubara yang melemah. Selain itu juga adanya utang tidak berkelanjutan yang tinggi dalam situasi saat ini," ujar Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Bumi Dileep Srivastava kepada CNN Indonesia, Rabu (29/7).

Dileep menyatakan manajemen Bumi telah memanfaatkan pengalaman di masa lalu untuk melakukan diversifikasi portofolio pertambangan dan berinvestasi untuk pertumbuhan di masa depan, termasuk salah satunya dalam proyek pembangkit listrik.

"Sejak 2012 kami tidak mampu memberikan dividen kepada para pemegang saham terutama karena beban bunga pinjaman yang tinggi, pengeluaran tinggi yang telah dilakukan dan adanya penghapusan utang melalui penurunan aset yang tidak bisa dihindari," jelasnya.

Ia menjelaskan, saat ini perseroan tidak memiliki perubahan tujuan utama, yakni untuk mengurangi besaran utang antara US$ 2 miliar hingga US$ 3 miliar pada tahun. Hal itu, lanjutnya, untuk memulihkan kesehatan keuangan dan memotong biaya bunga yang sangat signifikan.

"Kami melakukan upaya terbaik untuk mencapai ini. Hal itu juga terkait proses pengadilan yang melibatkan pemegang obligasi kami. Sebenarnya sulit untuk berkomentar tapi mudah-mudahan ketika restrukturisasi ini selesai, maka arah strategis kami akan menjadi jelas kepada para investor kami. Selain itu, jika terdapat kemajuan, dalam hal kondisi sektor batubara terkait permintaan dan harga, maka hal itu bakal memperkuat rencana kami ke depan," kata Dileep.

Secara fundamental operasional, Dileep menyatakan posisi perseroan masih kuat. Ia menyatakan Bumi telah mengurangi biaya tunai produksi, memangkas biaya operasional, menurunkan rasio pengupasan dan melakukan perbaikan sisi logistik di dua tambang batubara utama miliknya.

"Kemampuan pertambangan batubara kami adalah sebesar 100 juta ton, tetapi kami membatasi diri di level yang sama dengan 2014. Hal itu bisa kami tingkatkan ketika harga batubara dan kondisi pasar membaik," ungkapnya.

Konversi Proyek

Selain fokus utama penyelesaian utang dan restrukturisasi, Dileep mengungkapkan perusahaan memiliki berbagai rencana untuk melakukan konversi dan diversifikasi usaha. Melalui PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), Bumi ingin mempercepat konversi ke proyek lain seperti zinc dan timah di Dairi, Sumatera. Kemudian, juga tembaga dan emas di Gorontalo, Sulawesi dan emas di Citra Palu, Sulawesi melalui proses kemitraan strategis.

"Melalui anak usaha, PT Pendopo Energi Batubara (PEB), visi strategis kami adalah untuk mendorong dan berpartisipasi dalam proyek-proyek di mulut tambang dengan mencari mitra yang kuat, di mana kami menyediakan batubara secara jangka panjang dengan mereka," jelasnya.

Lebih lanjut, Dileep mengatakan penguatan dasar operasi batubara (logistik, biaya dan volume) ditambah dengan rencana masuk ke proyek pembangkit listrik mulut tambang besar serta mempercepat pendapatan dari proyek-proyek pembangunan logam di BRMS adalah fokus manajemen saat ini dan jangka menengah.

"Hal itu secara paralel dilakukan untuk mengejar restrukturisasi utang guna memulihkan kesehatan keuangan di Bumi," jelasnya.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo mengatakan kegagalan kebanyakan perusahaan tambang batubara Indonesia adalah karena kurang bijaknya pengelolaan dana ketika harga batubara sedang menguat, seperti pada 2008.

"Salah satunya adalah Bumi, yang punya kebiasaan membeli aset dengan cara berutang. Pada akhirnya hal itu menjadi senjata makan tuan karena sejak awal manajemen kurang bijak," ujar Satrio.

Hal itu lanjutnya, membuat investor menjadi tidak memberi apresiasi kepada saham perusahaan. Padahal Satrio menilai, investor Bumi beberapa kali telah memberikan kesempatan kepada manajemen untuk berbenah diri.

"Salah satunya pada saat Bumi melakukan right issue pada 2014 lalu. Nyatanya tetap saja tidak ada perubahan berarti," kata Satrio.







Catatan:

Bumi Resources Tbk (BUMI) didirikan 26 Juni 1973 dengan nama PT Bumi Modern dan mulai beroperasi secara komersial pada 17 Desember 1979. Kantor pusat BUMI beralamat di Lantai 12, Gedung Bakrie Tower, Rasuna Epicentrum, Jalan H. R. Rasuna Said, Jakarta Selatan 12940.

BUMI tergabung dalam kelompok usaha Bakrie (PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan Long Haul Holdings Ltd.).

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham BUMI, antara lain: Credit Suisse AG SG Branch S/A CSAGSING-LHHL (LHHL-130M)-2023334064 (23,15%), PT Karsa Daya Rekatama (10,67%) dan PT Damar Reka Energi (6,28%).

Pada saat didirikan BUMI bergerak industri perhotelan dan pariwisata.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan terakhir, ruang lingkup kegiatan BUMI meliputi kegiatan eksplorasi dan eksploitasi kandungan batubara (termasuk pertambangan dan penjualan batubara) dan eksplorasi minyak. Saat ini, BUMI merupakan induk usaha dari anak usaha yang bergerak di bidang pertambangan.

BUMI memiliki anak usaha yang juga tercatat di Bursa Efek Indonesia, yakni PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS).

Pada tanggal 18 Juli 1990, BUMI memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BUMI (IPO) kepada masyarakat sebanyak 10.000.000 dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dengan harga penawaran Rp4.500,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 30 Juli 1990.


saham . bursajks

Rabu, 29 Juli 2015

PT Bank Tabungan Negara Tbk ( BBTN.JK ) - Laba Bersihnya Melonjak 54,25% Menjadi Rp. 831 Miliar

Image result for PT Bank Tabungan Negara Tbk

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) hingga semester I-2015 membukukan laba bersih mencapai Rp831 miliar atau melonjak 54,25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp539 miliar.

Direktur Utama BBTN Maryono kepeda pers pers, Jakarta, Senin (27/7) mengatakan pertumbuhan laba yang sangat agresif tersebut ditopang perolehan Net Interest Income (NII) sebesar Rp3,18 triliun, naik 19,06% dari periode yang sama 2014 senilai Rp2,67 triliun.

"Laba semester I-2015 tumbuh tinggi, karena kami memiliki target sampai‎ dengan akhir tahun diatas 40%," katanya.

Maryono menambahkan perseroan masih tetap optimis mencapai pertumbuhan itu, karena peluang untuk tumbuh masih sangat terbuka sampai akhir 2015.

Adapun pembiayaan meningkat 18,33% dari Rp106,58 triliun pada 2014 menjadi Rp126,12 Triliun di 30 Juni 2015. 

"Kredit dan pembiayaan yang diberikan perseroan tumbuh lebih baik diatas rata-rata pertumbuhan kredit nasional yang berada pada kisaran 10,40% per Mei 2015," tuturnya.

Perseroan lanjutnya, memproyeksikan kredit yang diberikan akan terus tumbuh sampai dengan akhir 2015. 

"Kami mempunyai target sampai dengan akhir 2015 pertumbuhan kredit berada pada kisaran 14%-16%," urai Maryono.

Adapun hingga per 30 Juni 2015 emiten Bursa Efek Indonesia berkode saham BBTN ini membukukan aset mencapai Rp155,95 triliun, tumbuh 14,99% dari posisi yang sama 2014 sebesar Rp135,62 triliun.




Baca Juga: http://bursajkse.blogspot.com/search?q=bbtn.jk&max-results=20&by-date=true



Catatan:

Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (Bank BTN) (BBTN) didirikan 09 Februari 1950 dengan nama "Bank Tabungan Pos". Kantor pusat BBTN berlokasi di Jalan Gajah Mada No. 1, Jakarta Pusat. Saat ini BBTN memiliki 87 kantor cabang (termasuk 22 kantor cabang syariah), 247 cabang pembantu (termasuk 21 kantor cabang pembantu syariah), 486 kantor kas (termasuk 7 kantor kas syariah), dan 2.948 SOPP (System on-line Payment Point/Kantor Pos on-line).

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk adalah Negara Republik Indonesia, dengan persentase kepemilikan sebesar 60,13%.

Cikal bakal BTN dimulai dengan didirikannya Postspaarbank di Batavia pada tahun 1897. Pada tahun 1942, pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, bank ini dibekukan dan digantikan dengan Tyokin Kyoku atau chokinkyoku (貯金局?). Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesiabank ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan diubah menjadi Kantor Tabungan Pos. Nama dan bentuk perusahaan selanjutnya berubah beberapa kali hingga akhirnya pada tahun 1963 diubah menjadi nama dan bentuk resmi yang berlaku saat ini.[butuh rujukan]

Sejarah BTN:

1897:Berdiri dengan nama Postpaar Bank
1942-1945:Berubah nama menjadi Chokin Kyoku
1950:Menjadi Bank Tabungan Pos
1963:Menjadi Bank Tabungan Negara
1968:Resmi dimiliki Pemerintah(BUMN)
1974:Pelayanan lebih difokuskan
1989:Mendapat izin bank umum dan penerbitan obligasi
1992:Menjadi Persero
1994:Mendapat izin bank devisa
2000:Ikut program Rekapitulasi
2002:Pinjaman Tanpa Subsidi
2003:Restrukturisasi
2005:Peluncuran BTN Syariah
2008:Sekuritisasi Aset

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Bank BTN adalah menjalankan kegiatan umum perbankan, termasuk melakukan kegiatan Bank berdasarkan prinsip syariah. BBTNmulai melakukan kegiatan berdasarkan prinsip syariah sejak 14 Februari 2005.

Pada tanggal 08 Desember 2009, BBTN memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BBTN (IPO) Seri B kepada masyarakat sebanyak 2.360.057.000 dengan nilai nominal Rp500,- per saham dengan harga penawaran Rp800,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 17 Desember 2009.

Pada Bank BTN terdapat 1 lembar Saham Seri A Dwiwarna yang dipegang Pemerintah Negara Republik Indonesia. Pemegang saham seri A memperoleh hak khusus untuk mengajukan calon Dewan Komisaris dan Direksi sebagai tambahan atas hak yang diperoleh pemegang saham seri B.




saham . bursajkse

PT Bumi Resources Tbk ( BUMI.JK ) - Susul Emiten Grup Bakrie Yang Lain, Saham BUMI Masuk Harga 50 Perakan

Image result for saham bumi resources

Pernah menjadi jawara pasar modal saat booming komoditas tahun 2008, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada Senin (27/7/2015) ini akhirnya masuk kelompok "gocapan" lantaran saham emiten batu bara itu diperdagangkan hanya dengan harga Rp 50 per saham.

Pada perdagangan hari ini, saham BUMI turun sebesar 3,85 persen dari hari sebelumnya, dan diperdagangkan di harga Rp 50 per saham. Dalam sebulan terakhir ini, saham Bumi Resources tak pernah beranjak melampaui Rp 60 per saham. Artinya, harga saham emiten tersebut hanya berkutat di kisaran Rp 50 per saham.

Selain tertekan oleh harga batu bara yang tak juga membaik, Bumi Resources juga terbelit utang yang membuat lemahnya fundamental perusahaan.

Saham Bumi Resources sempat menjadi primadona di Bursa Efek Indonesia pada 2008. Pada pertengahan tahun itu, harga saham perusahaan batu bara milik Grup Bakrie ini pernah bertengger di kisaran Rp 8.500 per saham dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 163,9 triliun. Sementara itu, pada hari ini, kapitalisasi pasar Bumi Resources hanya Rp 1,9 triliun.

Turunnya harga saham Bumi Resources itu sekaligus melengkapi harga saham perusahaan-perusahaan yang masuk Grup Bakrie yang sebagian besar masuk dalam kategori saham "gocapan". Sebelumnya, perusahaan-perusahaan Grup Bakrie yang telah terlebih dulu masuk ke kelompok "gocapan" antara lain PT Bakrieland Development Tbk, PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk, Bakrie Telecom Tbk, dan Darma Henwa Tbk.








Catatan:

Bumi Resources Tbk (BUMI) didirikan 26 Juni 1973 dengan nama PT Bumi Modern dan mulai beroperasi secara komersial pada 17 Desember 1979. Kantor pusat BUMI beralamat di Lantai 12, Gedung Bakrie Tower, Rasuna Epicentrum, Jalan H. R. Rasuna Said, Jakarta Selatan 12940.

BUMI tergabung dalam kelompok usaha Bakrie (PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan Long Haul Holdings Ltd.).

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham BUMI, antara lain: Credit Suisse AG SG Branch S/A CSAGSING-LHHL (LHHL-130M)-2023334064 (23,15%), PT Karsa Daya Rekatama (10,67%) dan PT Damar Reka Energi (6,28%).

Pada saat didirikan BUMI bergerak industri perhotelan dan pariwisata.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan terakhir, ruang lingkup kegiatan BUMI meliputi kegiatan eksplorasi dan eksploitasi kandungan batubara (termasuk pertambangan dan penjualan batubara) dan eksplorasi minyak. Saat ini, BUMI merupakan induk usaha dari anak usaha yang bergerak di bidang pertambangan.

BUMI memiliki anak usaha yang juga tercatat di Bursa Efek Indonesia, yakni PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS).

Pada tanggal 18 Juli 1990, BUMI memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BUMI (IPO) kepada masyarakat sebanyak 10.000.000 dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dengan harga penawaran Rp4.500,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 30 Juli 1990.


saham . bursajkse

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk ( TLKM.JK ) - Akan Menganggarkan CAPEX Rp. 1,8 Triliun Untuk Bangun Menara



PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) melalui anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) akan ekspansi membangun menara sebanyak 2.000 buah. Investasi ekspansi pembangunan menara itu sekitar Rp 1,8 triliun pada 2015.

VP Investor Relations PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, Andi Setiawan menuturkan pembangunan menara itu itu antara lain 1.000 buah menara makro. Sisanya 1.000 buah menara mikro. Hingga Juni 2015, Mitratel telah memiliki menara makro dan mikro sebanyak 6.260 buah, bertambah dari posisi Desember 2014 sebanyak 5.473 menara.

"Untuk pendanaan ekspansi ini akan dipenuhi melalui pinjaman bank dan dana internal," ujar Andi, dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), yang ditulis Minggu (26/7/2015).

Sebelumnya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk telah menyetujui perpanjangan perjanjian penukaran saham bersyarat antara Perseroan dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk selambat-lambatnya hingga enam bulan berikutnya.

Hal itu terkait penukaran saham Mitratel dengan saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. "Untuk pemenuhan syarat-syarat penutupan perjanjian lebih lanjut, Perseroan dan Tower Bersama telah menyetujui untuk melakukan perpanjangan tanggal pemenuhan syarat-syarat penutupan dari selambat-lambatnya pada 31 Desember 2014 hingga enam bulan berikutnya menjadi selambat-lambatnya 30 September 2015 hingga enam bulan berikutnya," ujar Vice President Investor Relations PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, Andi Setiawan.

Andi mengatakan, penukaran saham Mitratel dengan saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk masih dalam proses pemenuhan syarat-syarat penutupan sesuai perjanjian.

Telkom akan menukar kepemilikan sahamnya di Mitratel dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk hingga 13,7 persen. Telkom akan menukar 49 persen kepemilikan Mitratel dengan maksimal 290 juta saham baru di PT Tower Bersama Infrastructure Tbk.

Sebanyak 290 juta saham baru itu setara dengan 5,7 persen dari modal saham yang telah ditingkatkan lewat penerbitan saham baru.  Telkom memiliki opsi untuk menukarkan sisa 51 persen saham Mitratel dengan 472,5 juta saham baru di PT Tower Bersama Infrastructure Tbk dalam jangka waktu dua tahun. Telkom berpeluang mengenggam 13,7 persen Tower Bersama. Sementara itu, Tower Bersama akan menguasai 100 persen Mitratel. (Ahm/Gdn)









Catatan:

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk / (Telkom) (TLKM) pada mulanya merupakan bagian dari "Post en Telegraafdienst", yang didirikan pada tahun 1884. Pada tahun 1991, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1991, status Telkom diubah menjadi perseroan terbatas milik negara ("Persero"). Kantor pusat Telkom berlokasi di Jalan Japati No. 1, Bandung, Jawa Barat.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Persero) biasa disebut Telkom Indonesia atau Telkomsaja (IDX:TLKM ,LSE: TKID, NYSE: TLK) adalah perusahaan informasi dan komunikasiserta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap di Indonesia. Telkom mengklaim sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, dengan jumlah pelanggan telepon tetap sebanyak 15 juta dan pelanggan telepon seluler sebanyak 104 juta.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Telkom adalah menyelenggarakan jaringan dan jasa telekomunikasi, informatika, serta optimalisasi sumber daya perusahaan, dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, TLKM menjalankan kegiatan yang meliputi: (a) Usaha Utama: Merencanakan, membangun, menyediakan, mengembangkan, mengoperasikan, memasarkan atau menjual, menyewakan, dan memelihara jaringan telekomunikasi dan informatika (b) Usaha Penunjang: 1).Menyediakan jasa transaksi pembayaran dan pengiriman uang melalui jaringan telekomunikasi dan informatika. 2).Menjalankan kegiatan dan usaha lain dalam rangka optimalisasi sumber daya yang dimiliki Perusahaan, yang antara lain meliputi pemanfaatan aktiva tetap dan aktiva bergerak, fasilitas sistem informasi, fasilitas pendidikan dan pelatihan, dan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan.

Jumlah saham TLKM sesaat sebelum penawaran umum perdana (Initial Public Offering atau IPO) adalah 8.400.000.000, yang terdiri dari 8.399.999.999 saham Seri B dan 1 saham Seri A Dwiwarna yang seluruhnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 14 November 1995, Pemerintah menjual saham Telkom yang terdiri dari 933.333.000 saham baru Seri B dan 233.334.000 saham Seri B milik Pemerintah kepada masyarakat melalui IPO di Bursa Efek Indonesia ("BEI") (dahulu Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya), dan penawaran dan pencatatan di Bursa Efek New York ("NYSE") dan Bursa Efek London ("LSE") atas 700.000.000 saham Seri B milik Pemerintah dalam bentuk American Depositary Shares ("ADS"). Terdapat 35.000.000 ADS dan masing-masing ADS mewakili 20 saham Seri B pada saat itu.

Telkom hanya menerbitkan 1 saham Seri A Dwiwarna yang dimiliki oleh Pemerintah dan tidak dapat dialihkan kepada siapapun, dan mempunyai hak veto dalam RUPS Telkom berkaitan dengan pengangkatan dan penggantian Dewan Komisaris dan Direksi, penerbitan saham baru, serta perubahan Anggaran Dasar Perusahaan.

Telkom merupakan salah satu BUMN yang sahamnya saat ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia(52,47%), dan 47,53% dimiliki oleh Publik, Bank of New York, dan Investor dalam Negeri.[1]Telkom juga menjadi pemegang saham mayoritas di 13 anak perusahaan, termasuk PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

Direktur Utama Telkom saat ini adalah Alex Janangkih Sinaga, menggantikan Arief Yahya yang telah menjadi Menteri Pariwisata di Kabinet Kerja Jokowi[2][3].


Sejarah

Era kolonia

Pada tahun 1882, didirikan sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegraf. Layanan komunikasi kemudian dikonsolidasikan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke dalam jawatan Post Telegraaf Telefoon (PTT). Sebelumnya, pada tanggal 23 Oktober 1856, dimulai pengoperasian layanan jasa telegraf elektromagnetik pertama yang menghubungkan Jakarta (Batavia) dengan Bogor (Buitenzorg).[4] Pada tahun 2009 momen tersebut dijadikan sebagai patokan hari lahir Telkom.

Perusahaan negara

Pada tahun 1961, status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Kemudian pada tahun 1965, PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro) dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).

Perumtel

Pada tahun 1974, PN Telekomunikasi diubah namanya menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional. Tahun 1980 seluruh saham PT Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat) diambil alih oleh pemerintah RI menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel. Pada tahun 1989, ditetapkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi, yang juga mengatur peran swasta dalam penyelenggaraan telekomunikasi.

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero)

Pada tahun 1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1991.

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk

Pada tanggal 14 November 1995 dilakukan Penawaran Umum Perdana saham Telkom. Sejak itu saham Telkom tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) (keduanya sekarang bernama Bursa Efek Indonesia (BEI)), Bursa Saham New York (NYSE) dan Bursa Saham London (LSE). Saham Telkom juga diperdagangkan tanpa pencatatan di Bursa Saham Tokyo. Jumlah saham yang dilepas saat itu adalah 933 juta lembar saham.

Tahun 1999 ditetapkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Sejak tahun 1989, Pemerintah Indonesia melakukan deregulasi di sektor telekomunikasi dengan membuka kompetisi pasar bebas. Dengan demikian, Telkom tidak lagi memonopoli telekomunikasi Indonesia.

Tahun 2001 Telkom membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara Telkom dan Indosat. Sejak bulan Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.

Pada 23 Oktober 2009, Telkom meluncurkan "New Telkom" ("Telkom baru") yang ditandai dengan penggantian identitas perusahaan.

Komposisi kepemilikan Saham

Pada Penawaran saham pada 14 November 1995 dan block sale Desember 1996, komposisi saham Telkom menjadi:

Pemerintah Indonesia: 75,80%
Publik free-float: 24,2%

Per 7 Mei 1999, komposisi saham Telkom menjadi:

Pemerintah Indonesia: 66,20%
Publik free-float: 33,80%

Per 8 Desember 2001, Saham Telkom berubah menjadi:

Pemerintah Indonesia: 54,30%
Publik free-float: 45,70%

Per 16 Juli 2002, saham Telkom berubah kembali menjadi:

Pemerintah Indonesia: 51,19%
Publik free-float: 40,21%
Bank of New York dan Investor dalam Negeri: 8,79%

Sebelum Penawaran saham perdana, Telkom 100% dimiliki Pemerintah Indonesia




saham . bursajkse