Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri bwpt.jk. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri bwpt.jk. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juni 2015

PT Eagle High Plantations Tbk ( BWPT.JK ) - Rajawali Grup, Berencana Menjual Sahamnya Kepada Investor Malaysia

Image result for PT Eagle High Plantations Tbk

Rencana Grup Rajawali menjual sebagian saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT)  semakin jelas. Sumber KONTAN yang mengetahui transaksi itu menceritakan, Rajawali akan menjual 30% saham BWPT. Saat ini, PT Rajawali Capital International memegang 65,54% saham BWPT . Dengan asumsi divestasi 30% saham, maka kepemilikan Rajawali pasca transaksi sebesar 35,54%.

"Lumayan signifikan. Tapi Rajawali masih memegang kendali," ucap sumber KONTAN, Kamis, (11/6).

Sumber tadi mengatakan, perusahaan yang mengambil 30% saham BWPTdisebut-sebut perusahaan asal Malaysia, Felda Global Ventures Berhad (FGV). Tapi, dia tidak bersedia mengungkapkan harga BWPT  yang disepakati FGV dan Rajawali.

Asal tahu saja, FGV memiliki enam bisnis utama yakni kelapa sawit hulu dan hilir, karet, gula, riset dan pengembangan jasa agri, transportasi, logistik dan pemasaran. FGV beroperasi di 10 negara di Asia, Amerika Utara dan Eropa. Akhir tahun lalu, Rajawali mengakuisisi BWPT ]di harga Rp 400 per saham melalui skema right issue.

Dengan asumsi Rp 400 per saham, nilai jual beli 9,45 juta saham atau 30% saham bisa mencapai Rp 3,78 triliun. Grup Rajawali dikabarkan masih bernegosiasi dengan FGV. Apabila proses negosiasi berhasil, Rajawali dan FGV akan meneken perjanjian jual beli saham pada hari ini (12/6) di Jakarta.

General Manager Investment Rajawali Corpora Adam Jayaputra enggan berkomentar. Manajemen BWPT  juga mengaku belum mengetahui kabar tersebut. "Saya belum mendapatkan informasi. Kalau saya sudah tahu, nanti saya kabari," kata Rudy Suhendra, Sekretaris Perusahaan BWPT , kepada KONTAN, kemarin.

Pada kuartal I 2015, laba BWPT  anjlok 91,61% year-on-year (yoy) menjadi Rp 7,13 miliar. Padahal pendapatannya tumbuh 43,23% (yoy) menjadi Rp 734,94 miliar.

Analis Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe memprediksi, kinerja BWPT tahun ini tak berbeda jauh daripada kuartal pertama. Pasalnya, harga crude palm oil (CPO) masih rendah, yakni di rentang RM 2.000 hingga RM 2.500 per ton.

Kiswoyo menyarankan, jual BWPT jika sudah break event point (BEP). Menurut dia, saham perusahaan yang dikuasai Grup Rajawali biasanya menjadi saham tidur. Dia melihat kondisi yang sama pada saham PT Nusantara Infrastructure Tbk ( META.JK ) . Tapi ketika Rajawali ingin menjual, barulah saham tersebut menanjak.

Harga BWPT  kemarin naik 5,77% menjadi Rp 440 per saham. Kiswoyo menghitung, harga wajar BWPT adalah Rp 500 per saham.

 

Baca Juga:

http://bursajkse.blogspot.com/2015/06/ulasan-mengenai-prospek-saham-berbasis_12.html




















Catatan:

Eagle High Plantations Tbk (sebelumnya bernama BW Plantation Tbk) (BWPT) didirikan 06 Nopember 2000 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2004. Kantor pusat Eagle High Plantations Tbk terletak di Menara Batavia Lantai 22, Jalan K.H. Mas Mansyur Kav. 126, Jakarta 10220.

Pabrik pengolahan kelapa sawit BWPT dan anak usaha berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Tengah, Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan perkebunan anak usaha berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah; Kabupaten Kutai dan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur; dan Kabupaten Melawi, Propinsi Kalimantan Barat.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Eagle High Plantations Tbk adalah PT Rajawali Capital International (65,54%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BWPT terutama meliputi bidang industri dan pertanian. BWPT dan anak usaha menjalankan kegiatan usaha meliputi pengembangan perkebunan, pertanian, perdagangan, pengolahan hasil perkebunan dan lain-lain. Produk yang dihasilkan mencakup produk hasil kelapa sawit antara lain minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) dan inti sawit (kernel).

Pada tanggal 19 Oktober 2009, BWPT memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BWPT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.211.009.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp550,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Oktober 2009.



http://investasi.kontan.co.id/news/rajawali-jual-bwpt-ke-investor-malaysia

saham . bursajkse

Jumat, 26 Juni 2015

PT Eagle High Plantation Tbk ( BWPT.JK ) - Anggarkan Capex Sebesar Rp 800 Miliar Untuk Tahun Ini

Image result for PT Eagle High Plantation Tbk

PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT)  menganggarkan dana belanja modal (capex) sebesar Rp 800 miliar di tahun 2015 ini. Corporate Secretary Eagle High Plantation, Rudy Suhendra mengatakan, dari dana tersebut Rp 200 miliar akan digunakan untuk pembangunan pabrik CPO di Kalimantan Barat dan Papua. Pembangunan dua pabrik itu ditargetkan akan terselesaikan pada tahun 2016. Lalu, Rp 100 miliar untuk tanam 5.000-10.000 hektare (ha). Sisanya, untuk perawatan tanaman yang belum menghasilkan seluas 40.000--50.000 ha, dari total 150.000 yang sudah tertanam.

"Adapun pabrik yang rencana kita bangun itu bisa menghasilkan 45 ton per jam, bisa diperpanjang menjadi 90 ton per jam. Luas pabrik tidak lebih dari 100 ha, termasuk di dalamnya ada perumahan untuk pekerja," katanya.

Adapun dana capex, lanjut dia, didapatkan dari operasional perusahaan dan refinancing yang sedang dijalankan. "Refinancing Rp 2,5 triliun dari BRI, Bank Mandiri, BNI, dan bank lainnya," katanya.

Lebih lanjut, perseroan tahun ini menargetkan kapasitas produksi 400.000 metrik ton. Di mana, dalam waktu lima tahun ke depan bisa meningkat dua kali lipatnya.

BWPT memiliki total kepemilikan lahan sebesar 425.000 hektare, di mana 67% berlokasi di Kalimantan, 9% di Papua, 19% di Sulawesi, dan 5% di Sumatera. Terdapat perkebunan seluas sekitar 152,000 hektare dengan 76% wilayah perkebunan yang sudah menghasilkan, dan 24% sisanya merupakan kawasan yang belum menghasilkan. Umur rata-rata tanaman yang sudah menghasilkan adalah 8 tahun.


Baca Juga Mengenai PT Eagle High Plantation Tbk ( BWPT.JK )






Catatan:

Eagle High Plantations Tbk (sebelumnya bernama BW Plantation Tbk) (BWPT) didirikan 06 Nopember 2000 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2004. Kantor pusat Eagle High Plantations Tbk terletak di Menara Batavia Lantai 22, Jalan K.H. Mas Mansyur Kav. 126, Jakarta 10220.

Pabrik pengolahan kelapa sawit BWPT dan anak usaha berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Tengah, Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan perkebunan anak usaha berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah; Kabupaten Kutai dan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur; dan Kabupaten Melawi, Propinsi Kalimantan Barat.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Eagle High Plantations Tbk adalah PT Rajawali Capital International (65,54%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BWPT terutama meliputi bidang industri dan pertanian. BWPT dan anak usaha menjalankan kegiatan usaha meliputi pengembangan perkebunan, pertanian, perdagangan, pengolahan hasil perkebunan dan lain-lain. Produk yang dihasilkan mencakup produk hasil kelapa sawit antara lain minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) dan inti sawit (kernel).

Pada tanggal 19 Oktober 2009, BWPT memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BWPT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.211.009.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp550,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Oktober 2009.


http://www.beritasatu.com/pasar-modal/285752-tahun-ini-bwpt-anggarkan-capex-rp-800-miliar.html

saham . bursajkse

Selasa, 16 Juni 2015

PT Eagle High Plantations Tbk. ( BWPT.JK ) - Anggota Parlemen Malaysia Minta Kesepakatan Dibatalkan. Mengapa?

Image result for eagle high plantation

Seorang anggota parlemen oposisi Malaysia mendesak Felda Global Ventures Holdings Bhd. (FGV) membatalkan kesepakatan pembelian saham PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) senilai US$680 juta setara Rp9 triliun.

"Itu untuk mencegah kerugian lebih lanjut bagi investor yang meliputi Felda, masyarakat, karyawan Provident Fund, Dana Pensiun, Lembaga Tabung Haji, dan beberapa pemerintah negara bagian," ujar anggota Parlemen oposisi Tony Pua seperti dikutip Reuters, Selasa (16/6/2015).

FGV ini merupakan anak usaha dari Federal Land Development Authority (FELDA) atau Lembaga Kemajuan Tanah Persekutuan milik pemerintah Malaysia. Artinya, FGV juga bisa dibilang sebuah BUMN Malaysia yang juga tercatat di bursa saham.

Nilai pembelian saham BWPT oleh Felda mencapai $680 juta atau sekitar Rp9 triliun untuk pembelian 37 persen saham BWPT. Rajawali akan menjual sebagian dari 65,5 persen kepemilikannya di BWPT kepada FGV dengan tunai dan tukar guling saham. Meskipun kepemilikannya berkurang, Grup Rajawali akan tetap memegang kendali manajemen BWPT.

Transaksi tersebut terbilang cukup tinggi bila dibandingkan dengan harga saham BWPT pada penutupan perdagangan di bursa efek pada akhir pekan lalu Rp450 per saham. Perusahaan Malaysia tersebut berniat membayar sekitar Rp765 per saham atau premiun 1,7 kali dibanding harga pasarnya. Bersamaan dengan itu, FGV juga akan mengakuisisi 95 persen proyek gula milik Rajawali senilai $67 juta.

FGV berkilah bahwa transaksi tersebut merupakan yang terendah bila dibanding tiga transaksi terakhir dalam tiga tahun terakhir di kawasan regional. Hal itu dilihat dari biaya campuran (blended cost) BWPT senilai $17.400 per hektare lahan tertanam, lebih rendah dibanding tiga transaksi FGV sebelumnya.

Produsen sawit terbesar ketiga dunia itu juga berharap dari profil perkebunan BWPT yang masih muda. Sebagai informasi, rata-rata umur tanaman FGV sekitar 15 tahun, sedangkan BWPT hanya 8 tahun. "Ini akan meningkatkan yield dalam jangka dekat dan mengurangi biaya capex yang diperlukan untuk penanaman kembali," kata Dato' Mohd Emir Mavani Abdullah dalam jumpa pers bersama manajemen Rajawali Corpora di Jakarta, Jumat 12 Juni 2015.

Tingginya harga pembelian itu menjadi kontroversi. Analis CIMB Research Ivy Ng seperti dilansir Reutersjuga menilai akuisisi saham BWPT milik Peter Sondakh terlampau mahal. Dia memangkas target harga saham Felda Global menjadi 1,69 ringgit dari 1,91 ringgit dan memotong rekomendasi untuk saham Felda Global. "Kami berpandangan bahwa harga akusisi yang diusulkan untuk BWPT terlalu tinggi," katanya.

Menurut Ivy, Felda Global bakal menjadi pemegang saham terbesar dalam BWPT, tetapi tidak menjadi pemegang saham pengendali. Akuisisi saham BWPT dapat mendilusi laba bersih Felda tahun buku 2016 sebesar 10%. Net gearing atau total utang akan meningkat 1,43 kali dari 1,05 kali, serta arus kas juga dinilai bakal terkoreksi.

Tekanan jual pelaku pasar terhadap saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) , Senin 15 Juni 2015, cukup tinggi. Hal ini terjadi karena beredar dugaan bahwa Felda Global Ventures (FGV) tidak akan melakukan tender offerterhadap sisa saham BWPT. FGV merupakan perusahaan kelapa sawit asal Malaysia yang akan membeli 37 persen saham BWPT seharga Rp770 per saham. 

Harga saham FGV di Bursa Efek Malaysia, sebagaimana dikutip laporan riset Kim Eng anjlok 10 persen, terimbas beredarnya pernyataan ketidaksetujuan pemegang saham atas rencana manajemen membeli saham BWPT dengan harga yang dinilai kelewat tinggi. Dalam laporan tersebut, rencana pembelian saham BWPT dinilai kurang baik karena pendapatan perusahaan ini masih rendah dan utangnya cukup tinggi.

Morgan Stanley Securities Indonesia (MS) tercatat sebagai penjual terbanyak kedua saham BWPT. MS menjual 10,8 ribu lot saham BWPT atau senilai Rp3,1 miliar. Total penjualan saham oleh MS ini nilainya setara dengan 9,2 persen dari total transaksi harian saham BWPT.

Aksi jual saham BWPT ini juga diikuti oleh tiga sekuritas lainnya, seperti Samuel Sekuritas Indonesia (IF), Credit Suisse (CS), dan Bahana Securities (DX). Total penjualan oleh tiga sekuritas ini nilainya mencapai Rp17,7 miliar atau setara dengan 52,8 persen transaksi saham BWPT.



Wajarkah Harga Penawaran Felda Global Terhadap Saham BWPT Milik Rajawali?

Berdasarkan perhitungan analis, bila dihitung menggunakan valuasi Enterprise Value per hektare(EV/ha), harga saham BWPT Rp440 di pasar pun sudah mahal dibanding emiten sejenis, bahkan dengan anak usaha Astra, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). 

Mengutip surat kabar di Malaysia, FGV berminat membeli 30 persen saham BWPT senilai $267,95 juta, berarti pembeliannya hanya berkisar Rp375 per saham.

Dalam riset Maybank Kim Eng Seurities yang telah disampaikan kepada nasabah menyebut harga jual BWPT dari Rajawali diperkirakan antara Rp375 - Rp1.100 per saham. Analis Kim Eng menilai harga beli BWPT masih wajar jika hanya sampai kisaran Rp600 per saham.

Sementara itu dari perhitungan analis, pada harga Rp440, nilai BWPT mencapai $10.962 per hektare menggunakan metode valuasi Enterprise Value per hektare (EV/ha). Nilai ini lebih tinggi dari AALI yang memiliki nilai EV/ha sebesar $10.801 per hektare. Padahal jumlah lahan BWPT yang sudah menghasilkan baru 50 persen dari total lahan tertanam milik perseroan.

Enterprise value adalah nilai perusahaan berdasarkan harga pasar saat ini. Formulanya yakni kapitalisasi pasar ditambah dengan hutang lalu dikurangi dengan kas. Kemudian nilai ini dibagi dengan jumlah lahan yang dimiliki. Semakin besar nilai ini menunjukan harga saham perusahaan semakin mahal.








Sumber:

























Catatan:

Eagle High Plantations Tbk (sebelumnya bernama BW Plantation Tbk) (BWPT) didirikan 06 Nopember 2000 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2004. Kantor pusat Eagle High Plantations Tbk terletak di Menara Batavia Lantai 22, Jalan K.H. Mas Mansyur Kav. 126, Jakarta 10220.

Pabrik pengolahan kelapa sawit BWPT dan anak usaha berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Tengah, Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan perkebunan anak usaha berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah; Kabupaten Kutai dan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur; dan Kabupaten Melawi, Propinsi Kalimantan Barat.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Eagle High Plantations Tbk adalah PT Rajawali Capital International (65,54%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BWPT terutama meliputi bidang industri dan pertanian. BWPT dan anak usaha menjalankan kegiatan usaha meliputi pengembangan perkebunan, pertanian, perdagangan, pengolahan hasil perkebunan dan lain-lain. Produk yang dihasilkan mencakup produk hasil kelapa sawit antara lain minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) dan inti sawit (kernel).

Pada tanggal 19 Oktober 2009, BWPT memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BWPT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.211.009.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp550,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Oktober 2009.



saham . bursajkse

Senin, 08 Juni 2015

PT Eagle High Plantations Tbk ( BWPT.JK ) - Rencana Divestasi Group Rajawali, Masih Misteri

Image result for PT Eagle High Plantations Tbk

Rencana penjualan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) masih misteri. Grup Rajawali melalui PT Rajawali Capital International sebagai pemegang 65,54% saham BWPT, enggan membeberkan identitas calon pembeli perusahaan perkebunan yang dulu bernama BW Plantations itu.

Rumor yang beredar, investor asal Malaysia dikabarkan siap memborong saham BWPT. Sumber KONTAN membisikkan, Rajawali tengah menjajaki potensi Sime Darby terkait pembelian  sekitar 5,35 miliar unit saham atau setara dengan 17% saham BWPT.

Sime Darby adalah konglomerasi asal Malaysia. Sime Darby antara lain memiliki usaha perkebunan yang bergerak di hulu, hilir hingga energi terbarukan.

Di Indonesia, Sime Darby memiliki  anak usaha yang bernama PT Minamas Plantation. Per Januari 2015, Minamas menguasai total lahan kebun 280.274 hektare dan 203.845 ha sudah ditanami kelapa sawit. Lahan Minamas tersebar di sembilan provinsi, meliputi antara Nangroe Aceh Darussalam, Jambi, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah hingga Sulawesi.

Divestasi saham BWPT ini disebut-sebut akan memiliki harga di atas rights issue akhir tahun lalu yakni Rp 400 per saham. Apabila Sime Darby mengambil 5,35 miliar saham BWPT di harga itu, maka nilainya melebihi Rp 2,14 triliun.

Grup Rajawali menyanggah kabar masuknya Sime Darby. "Bukan. Saya no comment," kata Adam Jayaputra, General Manager Investment Rajawali Corpora, kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Sebelum muncul nama Sime Darby, nama Cargill Inc asal AS diisukan yang akan menyerap sebagian saham BWPT. Tapi, kabar itu hilang begitu saja. Dus, investor harus berhati-hati supaya tak terjebak gosip penggoreng harga saham.

Pada perdagangan Hari Kamis minggu lalu ( 4 Juni 2015 ), sekuritas asing, UOB Kay Hian (AI), Daewoo Securities (YP), RHB OSK Securities (DR), dan CIMB Securities (YU) kompak melakukan penjualan saham PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT). Total penjualan keempat sekuritas asing ini nilainya mencapai 28,15 persen dari total transaksi saham BWPT.

UOB Kay Hian (AI) tercatat sebagai penjual terbanyak saham BWPT dengan volume sebesar 442 ribu lot atau senilai Rp17,1 miliar. Nilai penjualan saham BWPT oleh AI ini setara dengan 19,97 persen total transaksi.

Sementara, di posisi penjual terbanyak kedua ditempati oleh Daewoo Securities (YP) yang melakukan penjualan 62 ribu lot saham BWPT senilai Rp2,5 miliar.

Sedangkan RHB OSK Securities (DR) dan CIMB Securities (YU) masing-masing menempati posisi ketiga dan keempat penjual terbanyak saham BWPT. Total penjualan keduanya mencapai Rp4,5 miliar atau setara dengan 5,25 persen transaksi saham BWPT.

Mungkin hal ini terjadi karena ketidak nyamanan investor akan rencana divestasi dari Group Rajawali yang masih belum kunjung ada kepastiannya.



































Catatan:

Eagle High Plantations Tbk (sebelumnya bernama BW Plantation Tbk) (BWPT) didirikan 06 Nopember 2000 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2004. Kantor pusat Eagle High Plantations Tbk terletak di Menara Batavia Lantai 22, Jalan K.H. Mas Mansyur Kav. 126, Jakarta 10220.

Pabrik pengolahan kelapa sawit BWPT dan anak usaha berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Tengah, Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan perkebunan anak usaha berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah; Kabupaten Kutai dan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur; dan Kabupaten Melawi, Propinsi Kalimantan Barat.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Eagle High Plantations Tbk adalah PT Rajawali Capital International (65,54%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BWPT terutama meliputi bidang industri dan pertanian. BWPT dan anak usaha menjalankan kegiatan usaha meliputi pengembangan perkebunan, pertanian, perdagangan, pengolahan hasil perkebunan dan lain-lain. Produk yang dihasilkan mencakup produk hasil kelapa sawit antara lain minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) dan inti sawit (kernel).

Pada tanggal 19 Oktober 2009, BWPT memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BWPT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.211.009.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp550,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Oktober 2009.


saham . bursajkse

Senin, 15 Juni 2015

PT Eagle High Plantation Tbk ( BWPT.JK ) - FGV Mengakusisi BWPT Juga Kebun Gula Milik Rajawali Group

Image result for PT Eagle High Plantation Tbk

Felda Global Ventures (FGV) Holdings Berhad akan memeroleh 37% kepemilikan saham di PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) dan sekitar 95% kepemilikan perkebunan gula milik Rajawali Group dalam bentuk dana tunai dan stock deal.

Porsi kepemilikan 37% saham BWPT diperkirakan senilai US$680 juta, yang terdiri dari gabungan dana tunai serta kepemilikan saham di FGV.

Saat ini, kesepakatan bisnis tengah dalam proses persetujuan dan kesepakatan akhir. Setelah itu, FGV akan menjadi pemegang saham mayoritas di BWPT dan bermitra dengan Rajawali Group.

BWPT memiliki lahan seluas 425.000 hektar, di mana 67% berlokasi di Kalimantan, 9% di Ppaua, 19% di Sulawesi, dan 5% di Sumatera. Terdapat perkebunan seluas 152.000 hektar dengan 76% wilayah perkebunan yang sudha menghasilkan, dan 24% merupakan kawasan yang belum menghasilkan.

Umur rata-rata yang sudha menghasilkan adalah 8 tahun. Rajawali Group akan tetap memegang kendali manajemen BWPT.

"Kemitraan dengan Rajawali Group akan semakin meningkatkan kapasitas bisnis yang saat ini kami miliki," tutur Group President dan CEO FGV Dato' Mohd Emir Mavani Abdullah melalui publikasi resmi kepada BEI, Jumat (12/6).

Ia menuturkan, melalui akuisisi ini, perusahaan akan menjadi pebisnis terbesar dan terkuat di industri perkebunan kelapa sawit global. Melalui kesepakatan tersebut juga mencapai efisiensi dari sisi pembiayaan dan kegiatan operasional, baik sektor hulu maupun hilir.

"Baik BWPT dan Rajawali Group memiliki tim yang sangat solid dan berpengalaman dan kami benar-benar sangat beruntung berkesempatan untuk memastikan kemitraan strategis ini," ujarnya.

Kesepakatan bisnis lintas negara ini semakin memperteguh investasi jangka panjang Rajawali Group di sektor perkebunan. Melalui kesepakatan ini, Rajawali Group juga memastikan penyertaan ekuitas pada bisnis perkebunan kelapa sawit terintegrasi penuh dengan portofolio perkebunan terbesar di dunia, serta mempertegas perkebunan sebagai salah satu bisnis utama yang disasar Rajawali Group.

"Kemitraan ini akan semakin meningkatakan kemampuan teknis dan menciptakan proses transfer pengetahuin," kata Managing Director Rajawali Group Darjoto Setyawan.

Ia menambahan, transaksi yang tercapai juga akan semakin meningkatkan nilai tambah untuk BWPT dan seluruh pemegang saham melalui skala bisnis yang terintegrasi penuh, jangkauan global, proses penyulingan dan distribusi.

"Kesepakatan ini juga memungkinkan BWPT menjadi bagian dari mata rantai suplai terintegrasi untuk bisnis kelapa sawit terbesar di dunia, serta menghasilkan pemimpin pasar dunia di bidang oleochemicals," paparnya.

Jual Saham ke Perusahaan Malaysia, Peter Sondakh Untung Besar


Perusahaan asal Malaysia, Felda Global Ventures (FGV) Holdings Berhad membeli 37 persen saham PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) milik Rajawali Group besutan Peter Sondakh dengan nilai mencapai US$ 680 juta atau Rp 9,04 triliun yang terdiri dari gabungan dana tunai dan saham.

Rajawali Group pun untung besar. Pasalnya, transaksi ini setara dengan harga Rp 765 per saham, 1,7 kali lebih tinggi dari harga penutupan saham BWPT di bursa pada tanggal 12 Juni 2015 yang senilai Rp 450 per lembar.

Jika ditilik dari sejarah kepemilikannya, Rajawali Group sebelumnya membeli BWPT dengan harga Rp 400 per saham saat melalui skema Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue akhir tahun lalu. Jika dihitung, maka Rajawali meraih untung lebih dari Rp 4 triliun.

Dalam transaksi ini, Felda akan membayar 30 persen saham BWPT dengan tunai senilai US$ 632 juta. Sementara sisa 7 persen saham BWPT akan ditukar dengan 95 juta saham baru FGV sehingga Rajawali akan memiliki 2,6 persen di perusahaan Malaysia itu.

Di saat yang sama, FGV juga akan mengakuisisi 95 persen kepemilikan di proyek gula Rajawali senilai $67 juta dengan tunai. Proyek gula tersebut akan berada di bawah FGV Kalimantan Sdn Behd, anak usaha dari FGV.

"Kemitraan ini akan semakin meningkatkan kemampuan teknis dan menciptakan proses transfer pengetahuan seperti bidang teknologi dan pengembangan. Rajawali memiliki land bank yang luas dan nanti akan dikembangkan oleh FGV," kata Darjoto Setyawan, Managing Director Rajawali Corpora dalam acara penandatanganan perjanjian akuisisi tersebut di Hotel Ritz Carlton Kuningan, Jakarta, Jumat (12/6).

BWPT saat ini memiliki total lahan sebesar 425.000 hektare, dengan 67 persen berlokasi di Kalimantan, 9 persen di Papua, 19 persen di Sulawesi dan 5 persen di Sumatera. Terdapat perkebunan seluas 152.000 hektare dengan 76 persen wilayah yang sudah menghasilkan dan 24 persen belum menghasilkan. Umur rata-rata tanaman yang sudah menghasilkan adalah 8 tahun.

Dato' Mohamad Emir Mavani Abdullah, Group President FGV mengatakan Rajawali adalah mitra yang kuat di Indonesia dan transaksi itu menyediakan akses kepada pasar Indonesia dengan pendapatan yang signifikan dan peluang melalui jaringan yang luas.

"Melalui kesepakatan ini kami akan menjadi pebisnis terbesar dan terkuat pada industri perkebunan kelapa sawit global," ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Dianggap Transaksi Murah

Kendati Rajawali Group untung banyak, tetapi FGV masih menilai harga tersebut murah karena penghitungan biaya dan dari sejarah akuisisi perusahaan Malaysia tersebut. Diketahui, dari enam transaksi akuisisi FGV yang terakhir, pembelian saham BWPT memiliki nilai biaya terendah.

Sebelumnya, FGV tercatat melakukan akuisisi kepada Golden Energy dengan nilai biaya US$ 20.400 per hektar tertanam, sementara BWPT lebih rendah dari nilai itu.

"Akuisisi BWPT menunjukkan biaya (blended cost) sekitar US$ 17.400 per hektar tertanam, atau paling murah dibandingkan sejumlah transaksi akuisisi sebelumnya," ungkap Dato' Emir.

Di sisi lain, transaksi ini akan membuat yield perkebunan FGV semakin rendah karena saat ini rata-rata umur tanaman FGV adalah 15 tahun sedangkan BWPT hanya 8 tahun.

"Ini akan meningkatkan yield dalam jangka dekat dan mengurangi biaya capex yang diperlukan untuk penanaman kembali," katanya.

Sementara, bagi Rajawali, transaksi ini tentunya sangat menguntungkan karena dapat mengembalikan modalnya setelah menyuntik BWPT melalui rights issue pada tahun lalu. Darjoto mengatakan dana hasil transaksi dari FGV ini akan digunakan untuk membayar utang.

"Dalam situasi ekonomi lemah saat ini, kami ingin memiliki kas yang lebih banyak karena cash is king. Sebagian besar akan kami gunakan untuk membayar pinjaman dan memperkuat modal. Kalau ada peluang bagus, akan menjadi keuntungan bagi kami," kata Darjoto.






























Catatan:

Eagle High Plantations Tbk (sebelumnya bernama BW Plantation Tbk) (BWPT) didirikan 06 Nopember 2000 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2004. Kantor pusat Eagle High Plantations Tbk terletak di Menara Batavia Lantai 22, Jalan K.H. Mas Mansyur Kav. 126, Jakarta 10220.

Pabrik pengolahan kelapa sawit BWPT dan anak usaha berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Tengah, Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan perkebunan anak usaha berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah; Kabupaten Kutai dan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur; dan Kabupaten Melawi, Propinsi Kalimantan Barat.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Eagle High Plantations Tbk adalah PT Rajawali Capital International (65,54%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BWPT terutama meliputi bidang industri dan pertanian. BWPT dan anak usaha menjalankan kegiatan usaha meliputi pengembangan perkebunan, pertanian, perdagangan, pengolahan hasil perkebunan dan lain-lain. Produk yang dihasilkan mencakup produk hasil kelapa sawit antara lain minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) dan inti sawit (kernel).

Pada tanggal 19 Oktober 2009, BWPT memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BWPT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.211.009.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp550,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Oktober 2009.



saham . bursajkse

Sabtu, 27 Juni 2015

PT Eagle High Plantations Tbk ( BWPT.JK ) - Rajawali Belum Punya Niat Perbesar Kepemilikan di FGV

Image result for PT Eagle High Plantations Tbk

Rajawali Group belum memiliki rencana untuk mengejar kepemilikan lebih besar saham di Felda Global Ventures Holdings Bhd (FGV), meski kedua konglomerasi di Indonesia dan Malaysia itu akan menyelesaikan kontrak jual beli saham di PT Eagle High Plantations Tbk pada Agustus mendatang.

Seperti diberitakan awal bulan ini, FGV akan membeli 37 persen saham Rajawali di PT Eagle High Plantations Tbk BWPT senilai USD680 juta, dengan 30 persen saham secara tunai dan 7 persen berupa saham. Selain itu, FGV juga akan membeli perkebunan tebu Rajawali senilai USD67 juta.

Kesepakatan, yang membutuhkan persetujuan pemegang saham FGV pada rapat pemegang saham mendatang, juga termasuk pengambilalihan saham FGV oleh Rajawali sebesar 2,55 persen.

"Kami terlebih dahulu harus menjaga fokus kami untuk menyelesaikan kesepakatan yang sudah di tangan," kata Arief Sidarto, penasihat eksekutif untuk Chairman Rajawali Group, Peter Sondakh. "(Tapi) Dikatakan, tidak ada yang mencegah kita untuk mengambil saham lebih bessar di FGV di masa depan," katanya kepada StarBiz, seperti dilansir thestar.com.my, Jumat (26/6).

Sidarto berada di Kuala Lumpur untuk membantu manajemen FGV menjelaskan detail kesepakatan Rajawali-FGV kepada analis keuangan dan para fund manager.

Untuk diketahui, komunitas investasi di Malaysia belum bisa menerima kesepakatan yang dinilai terlalu mahal bagi FGV, mengingat meski kepemilikan 37 persen adalah kepemilikan mayoritas namun FGV bukan pemegang saham pengendali di Eagle High.

"Kami tetap menilai harga akuisisi Eagle High, yang 85% persen lebih tinggi dari harga saat ini terlalu mahal dan memberatkan FGV," ujar analis CIMB, Ivy Ng, mengulangi pernyataannya pekan lalu.

Pihak FGV sendiri telah menyatakan berencana menjadi pemegang saham pengendali di Eagle High di masa datang. Merespons hal ini, pihak Rajawali menawarkan skema pertukaran saham , dengan meminta kepemilikan saham lebih besar juga di FGV.






Baca Juga: http://bursajkse.blogspot.com/search?q=bwpt.jk&max-results=20&by-date=true


Catatan:

Eagle High Plantations Tbk (sebelumnya bernama BW Plantation Tbk) (BWPT) didirikan 06 Nopember 2000 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2004. Kantor pusat Eagle High Plantations Tbk terletak di Menara Batavia Lantai 22, Jalan K.H. Mas Mansyur Kav. 126, Jakarta 10220.

Pabrik pengolahan kelapa sawit BWPT dan anak usaha berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Tengah, Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan perkebunan anak usaha berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah; Kabupaten Kutai dan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur; dan Kabupaten Melawi, Propinsi Kalimantan Barat.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Eagle High Plantations Tbk adalah PT Rajawali Capital International (65,54%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BWPT terutama meliputi bidang industri dan pertanian. BWPT dan anak usaha menjalankan kegiatan usaha meliputi pengembangan perkebunan, pertanian, perdagangan, pengolahan hasil perkebunan dan lain-lain. Produk yang dihasilkan mencakup produk hasil kelapa sawit antara lain minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) dan inti sawit (kernel).

Pada tanggal 19 Oktober 2009, BWPT memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BWPT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.211.009.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp550,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Oktober 2009.



saham . bursajkse

Rabu, 29 Juli 2015

PT Eagle High Plantations Tbk ( BWPT.JK ) - Penjualan BWPT - FGV berjalan lambat

Image result for PT Eagle High Plantations Tbk

Transaksi jual beli saham Eagle High Plantations Tbk (BWPT) antara Rajawali Corpora kepada Felda Global Ventures Holdings Berhad (FGV) tidak berjalan sempurna. Kabarnya, FGV belum membayar uang muka pembelian BWPT.

Seharusnya uang muka bisa diterima pada pertengahan Juli 2015 lalu. Ini sesuai dengan perjanjian antara Rajawali dan FGV pada 12 Juni 2015. Adapun, nilai uang muka yang harus dibayarkan FGV mencapai USD174,5 juta.

Sebelumnya, FGV telah melapor ke Bank Negara Malaysia dan Menteri Keuangan Malaysia mengenai pembayaran uang muka tersebut. Uang muka yang harus FGV bayarkan ke Rajawali setara 25% dari total nilai transaksi BWPT.

Rajawali melepas 37% saham BWPT seharga USD680 juta. Pembayaran terdiri dari USD632 juta dibayar tunai dan USD48 juta dengan pertukaran 2,55% saham FGV. Pada saat ini (28/7) harga saham BWPT telah turun menjadi Rp366 per saham, yang tertinggi sebesar Rp495 per saham pada 11 Juni 2015










Catatan:

Eagle High Plantations Tbk (sebelumnya bernama BW Plantation Tbk) (BWPT) didirikan 06 Nopember 2000 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2004. Kantor pusat Eagle High Plantations Tbk terletak di Menara Batavia Lantai 22, Jalan K.H. Mas Mansyur Kav. 126, Jakarta 10220.

Pabrik pengolahan kelapa sawit BWPT dan anak usaha berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Tengah, Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan perkebunan anak usaha berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah; Kabupaten Kutai dan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur; dan Kabupaten Melawi, Propinsi Kalimantan Barat.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Eagle High Plantations Tbk adalah PT Rajawali Capital International (65,54%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BWPT terutama meliputi bidang industri dan pertanian. BWPT dan anak usaha menjalankan kegiatan usaha meliputi pengembangan perkebunan, pertanian, perdagangan, pengolahan hasil perkebunan dan lain-lain. Produk yang dihasilkan mencakup produk hasil kelapa sawit antara lain minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) dan inti sawit (kernel).

Pada tanggal 19 Oktober 2009, BWPT memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BWPT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.211.009.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp550,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Oktober 2009.




saham . bursajkse

Jumat, 29 Mei 2015

PT Eagle High Plantations Tbk ( BWPT.JK ) - Rajawali Group Berencana Untuk Melakukan Divestasi Saham



Rajawali Group berencana mendivestasi sebagian dari sahamnya di perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Eagle High Plantations Tbk.

Rencana tersebut diungkapkan seorang sumber yang mengetahui masalah itu, Kamis (28/5). Seperti diberitakan Reuters, pihak Rajawali tengah dalam pembahasan dengan investor asing potensial untuk penjualan saham, namun dipastikan bahwa Rajawali tetap akan memegang mayoritas saham di Eagle High Plantations.

Rajawali, konglomerasi yang dikontrol Peter Sondakh, mengontrol 65,5 persen saham di BWPT setelah melakukan akuisisi pada Desember lalu melalui anak usahanya, Rajawali Capital International.

Menurut sumber tersebut, Rajawali ingin menjual sebagian saham BWPT karena kelompok usaha itu membeli saham melebihi yang diinginkan pada rights issue yang dilakukan BWPT.

Terkait hal itu, seorang juru bicara Eagle High - dulu bernama BW Plantation - menolak berkomentar.

Sebelumnya, muncul pemberitaan bahwa Rajawali berencana menjual 17 persen sahamnya di BWPT. Namun, dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, Kamis hari ini, pihak BWPT mengaku tak tahu menahu rencana divestasi itu.

Rajawali - yang meliputi bisnis properti, media, dan pertambangan - membeli saham BWPT pada Desember lalu dengan harga Rp400 per lembar saham. Sepanjang 2015 ini, saham BWPT - yang memiliki kebun di Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Sumatra - cenderung flat. Listing pada 2009.
























Catatan:

Eagle High Plantations Tbk (sebelumnya bernama BW Plantation Tbk) (BWPT) didirikan 06 Nopember 2000 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2004. Kantor pusat Eagle High Plantations Tbk terletak di Menara Batavia Lantai 22, Jalan K.H. Mas Mansyur Kav. 126, Jakarta 10220.

Pabrik pengolahan kelapa sawit BWPT dan anak usaha berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Tengah, Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan perkebunan anak usaha berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah; Kabupaten Kutai dan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur; dan Kabupaten Melawi, Propinsi Kalimantan Barat.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Eagle High Plantations Tbk adalah PT Rajawali Capital International (65,54%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BWPT terutama meliputi bidang industri dan pertanian. BWPT dan anak usaha menjalankan kegiatan usaha meliputi pengembangan perkebunan, pertanian, perdagangan, pengolahan hasil perkebunan dan lain-lain. Produk yang dihasilkan mencakup produk hasil kelapa sawit antara lain minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) dan inti sawit (kernel).

Pada tanggal 19 Oktober 2009, BWPT memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BWPT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.211.009.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp550,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Oktober 2009.


saham . bursajkse

Senin, 13 Juli 2015

PT Eagle High Plantations Tbk ( BWPT.JK ) - Rajawali dan Felda Akan Memperkuat Aliansi Dengan Bangun Pabrik Oleokimia

Image result for felda oleochemicals

Rajawali Corpora bersama Felda Global Ventures Holdings Bhd berencana membangun pabrik oleokimia di Indonesia. Ekspansi itu akan dilaksanakan setelah Felda merampungkan akuisisi 37 persen saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) ]dari Rajawali.

Managing Director Rajawali Corpora Darjoto Setyawan mengatakan, pabrik oleokimia kemungkinan dibangun di dekat lahan perkebunan sawit milik Eagle High di Kalimantan, Sumatera, atau Jawa. Pembangunan pabrik bisa dilakukan secara langsung oleh Eagle High bersama Felda atau pembentukan perusahaan patungan (joint venture/JV).

"Saat ini nilai investasinya masih dihitung. Kami ingin memperbesar bisnis hilir, karena biasanya harga produk hilir lebih stabil dibandingkan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO)," kata Darjoto di Jakarta, akhir pekan lalu.

Darjoto menegaskan, saat ini, pihaknya bersama Felda tengah fokus menyelesaikan transaksi akuisisi 37 persen saham Eagle High senilai US$ 680 juta. Felda harus mendapat persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada September 2015.

Langkah Felda untuk meyakinkan pemegang saham mengenai akuisisi ini cukup serius. Felda memboyong sejumlah pemegang saham berikut perwakilan dari pemerintah dan sejumlah jurnalis media Malaysia datang ke perkebunan sawit milik Eagle High, pekan lalu. Deputy Minister of Prime Minister Malaysia YB Dato Razali Ibrahim turut serta dalam rombongan tersebut.

Sebelumnya, anggota parlemen dari partai oposisi di Malaysia sempat mendesak Felda membatalkan rencana akuisisi. Sejumlah analis di negeri Jiran tersebut pun berpendapat nilai transaksi akuisisi terlampau mahal dan dapat menekan kinerja Felda.

Selama kuartal I­2015, laba bersih Felda merosot 97,5 persen dibanding periode sama tahun lalu. Sementara itu, CEO Felda Global Mohd Emir Mavani Abdullah mengatakan, perseroan optimistis proses akuisisi akan berjalan lancar, sehingga dapat meningkatkan kinerja termasuk pangsa pasar perseroan.

Setelah akuisisi, Felda mengincar pangsa pasar global meningkat menjadi 12 persen dari saat ini 7 persen. Adapun, saat ini, Felda telah mengelola 450.000 hektare (ha) lahan tertanam di Malaysia dan Indonesia.

"Kami melihat kolaborasi yang menjanjikan dengan Rajawali ataupun Eagle High ke depan. Kami akan menjadikan Indonesia tempat ekspansi kedua yang kami tuju," jelas dia.

Seperti diketahui, Felda akan membayar 30 persen saham Eagle High milik Rajawali pada harga US$ 632 juta dalam bentuk tunai. Lalu, Felda juga menukar 2,55 persen saham dengan 7 persen saham Eagle High milik Rajawali. Nilai penukaran saham sebesar US$ 48 juta.

Felda akan terlebih dulu membayar uang muka (down payment) akuisisi sebesar US$ 174,5 juta. Selama Juli ini, Felda bakal mengirim lima tim yang terdiri atas 29 orang untuk melakukan due diligence transaksi akuisisi.

Setelah divestasi saham, kepemilikan Rajawali pada Eagle High tersisa 28,54 persen. Menurut Darjoto, di antara pemegang saham lain, Felda akan menjadi single majority. Namun, Felda tidak memegang kendali manajemen Eagle High. Hal tersebut sudah tercantum dalam perjanjian khusus transaksi akuisisi.

Rajawali akan memberikan satu kursi komisaris Eagle High untuk perwakilan dari Felda Global. Darjoto mengatakan, ada kemungkinan Felda Global menambah kepemilikan saham pada Eagle High melalui pasar. Saat ini, investor publik masih menggenggam saham emiten berkode BWPT  tersebut sebanyak 34,46 persen.

Nusantara Infrastructure
Sementara itu, Rajawali juga tengah mematangkan rencana divestasi saham PT Nusantara Infrastructure Tbk ( META.JK ) . Lima calon pembeli Nusantara sudah mengajukan penawaran harga. "Bulan depan (Agustus), due diligence lima perusahaan tersebut kemungkinan selesai," kata Darjoto.

Rajawali memiliki 21 persen saham Nusantara Infrastructure melalui PT Hijau Makmur Sejahtera. Selain itu, Eagle Infrastructure menguasai 22,32 persen saham Nusantara. Darjoto membenarkan kabar Eagle Infrastructure yang juga berniat melepas kepemilikan sahamnya. Dengan begitu, jumlah saham Nusantara Infrastructure yang ditawarkan kepada investor baru mencapai 43,32 persen.

Namun, Darjoto membantah Eagle Infrastructure adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Rajawali. "Meski nama perusahaan itu ada Eagle­nya, perusahaan itu tidak ada hubungan apapun dengan Pak Peter Sondakh atau Rajawali," ujar dia.













Catatan:

Eagle High Plantations Tbk (sebelumnya bernama BW Plantation Tbk) (BWPT) didirikan 06 Nopember 2000 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2004. Kantor pusat Eagle High Plantations Tbk terletak di Menara Batavia Lantai 22, Jalan K.H. Mas Mansyur Kav. 126, Jakarta 10220.

Pabrik pengolahan kelapa sawit BWPT dan anak usaha berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Tengah, Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan perkebunan anak usaha berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah; Kabupaten Kutai dan Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur; dan Kabupaten Melawi, Propinsi Kalimantan Barat.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Eagle High Plantations Tbk adalah PT Rajawali Capital International (65,54%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BWPT terutama meliputi bidang industri dan pertanian. BWPT dan anak usaha menjalankan kegiatan usaha meliputi pengembangan perkebunan, pertanian, perdagangan, pengolahan hasil perkebunan dan lain-lain. Produk yang dihasilkan mencakup produk hasil kelapa sawit antara lain minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) dan inti sawit (kernel).

Pada tanggal 19 Oktober 2009, BWPT memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BWPT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.211.009.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp550,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Oktober 2009.


http://www.beritasatu.com/pasar-modal/290655-rajawali-dan-felda-akan-perkuat-aliansi.html


saham . bursajkse