Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri ltv. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri ltv. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juli 2015

Inflasi Juni 2015 Rendah Mencerminkan Daya Beli Masyarakat Melemah

Image result for dayabeli masyarakat lemah

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memandang angka inflasi pada Juni 2015 yang tercatat sebesar 0,54 persen atau lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun lalu terjadi dikarenakan adanya pelemahan daya beli masyarakat.

"Saya melihat pengaruh daya beli masyarakat melemah itu mungkin ada," kata Agus, ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2015).

Kendati demikian, Agus berpendapat bahwa daya beli masyarakat harus dijaga di semester II-2015. Pasalnya, konsumsi masyarakat menjadi motor dalam menggerakkan perekonomian nasional. Seperti diketahui, saat ini ekonomi Indonesia sedang mengalami kelesuan, tercatat dari realisasi pertumbuhan ekonomi pada semester I-2015 hanya 4,9 persen.

"Harus dijaga di semester II-2015. Kami harapkan bisa mengompensasi pertumbuhan ekonomi semester I-2015. kelihatannya Januari sampai Juni pertumbuhan ekonomi belum terlalu menggembirakan. Jadi, saya harap peran konsumsi pemerintah, investasi, itu bisa terbantu di semester II-2015," terang Agus.

Untuk mendorong konsumsi masyarakat tersebut, setidaknya BI telah melonggarkan kebijakan loan to value (LTV) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong tingkat konsumsi. Meski demikian, Agus belum dapat menyebutkan seberapa besar kontribusi kebijakan itu.

"Saya belum dapat angka terakhir, tetapi dampaknya nanti baru terasa di semester II-2015 dan yang lebih full pada 2016," jelas dia.

Dari sisi pemerintah, untuk menggenjot daya beli masyarakat, per 1 Juli 2015 sudah mulai diterapkan kenaikan besaran kenaikan tidak kena pajak (PTKP) menjadi Rp36 juta per tahun. Atau dengan kata lain, masyarakat yang berpenghasilan Rp3 juta per bulan dibebaskan pajaknya.

"BI turunkan LTV untuk kendaraan bermotor dan kredit KPR. Kami dengan dukungan Komisi XI DPR, menaikkan PTKP per 1 Juli. Maka sebagian besar dari kita sudah naik daya belinya dari Rp24 juta menjadi Rp36 juta, untuk pekerja yang single. Ini bagian upaya kami," tegas Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro. 
ABD



Senin, 29 Juni 2015

Peroyeksi Kinerja Emiten Properti Setelah Pemangkasan Kebijakan LTV

Image result for Kebijakan LTV

Pelonggaran aturan uang muka (loan to value/LTV)  kredit pemilikan rumah (KPR) oleh Bank Indonesia dipercaya akan mendorong demand terhadap properti di Indonesia tetapi dampakya terbatas kepada konsumen pemebeli pertama rumah murah hunian (apartemen di bawah 70 m2). Uang muka properti jenis ini turun jadi 10% dari sebelumnya 20%. 

Sedangkan dampak demand terhadap hunian properti menengah atas akan menjadi ciut karena pengembang sudah siap dengan tawaran skema pembayaran lunak uang muka selama 24 -36 kali sejak awal tahun 2014. Hal ini untuk mengatasi aturan uang muka pada aturan sebelumnya. 

Sedangkan demand properti untuk spekulasi investasi diperkirakan tidak ada masalah karena masalah larangan finansial bukan penentu demand bagi beberapa konsumen.ta 

Lebih signifikan adalah pengumuman rencana pemerintah mengizinkan orang asing membeli aset properti di Indonesia, meskipun dibatasi hanya pada properti hunian bertingkat. Percepatan aturan ini akan menolong emiten properti seperti Pakuwon Jati PWON , Lippo Karawaci LPKR , Agung Podomoro APLN  dan Ciputra Property CTRP  mencapai target marketing sales tahun 2015, kecuali ada penundaan penerbitan regulasi tersebut. 

Agen properti menyatakan konsumen potensial menjadi lebih selektif saat membeli properti karena perlambatan pertumbuhan ekonomi serta harga jual yang turun di pasar sekunder. Sebagai contoh, apartemen siap huni Mall of Indonesia yang berlokasi di Kelapa Gading menawarkan harga sangat menarik Rp18,9 juta per m2 vs 31,4 per m2 pada proyek baru yang digarap oleh Agung Sedayu dilokasi berdekatan. 

Hal yang sama pada harga second apartemen Green Pramuka dan apartemen Taman Anggrek dapat dibeli dengan harga diskon Rp15 juta hingga Rp21 juta per m2. Harga ini tergolong di bawah apartemen baru di lokasi berdekatan. "Turunnya harga properti di pasar sekunder sebagai tantangan bagi developert untuk menaikkan harga jual di masa yang akan datang," kata Analis PT Indo Premier Securities, Natalia Sutanto dalam risetnya, Jumat pekan lalu. 

Menurutnya PWON dan ASRI  sekarang sebagai saham-saham top picks karena diyakini 2 emiten ini tampak lebih mendekati target estimasi laba dan marketing sales tahun 2015 dibanding emiten properti lain seperti BSDE  dan Ciputra Development CTRA  meskipun  tanpa dampak positif regulasi baru. 

Kata dia, PWON disukai dengan recurring revenue dari tingkat hunian apartemen disamping penjualan yang berasal dari pengembangan proyek yang sudah siap. Sedangkan ASRI, diperkirakan mampu meraih pertumbuhan laba yang kuat didukung oleh penjualan lahan pada 2014 dan valuasi saham yang atraktif dengan PER 8,9 kali di tahun 2015 atau diskon 71% terhadap RNAV.  




saham . bursajkse

Jumat, 26 Juni 2015

PT Pakuwon Jati Tbk ( PWON.JK ) - Pada Bulan Mei 2015, Telah Capai 52 % Dari Target Penjualannya

Image result for PT Pakuwon Jati Tbk

Hingga Mei 2015, emiten properti PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) berhasil mengantongi pra penjualan atau marketing sales Rp 1,8 triliun. Itu artinya, perseroan telah merealisasikan separuh lebih dari target yang dipatok tahun ini sebesar Rp 3,4 triliun.

Rinciannya, sekitar 50% marketing sales diperoleh dari proyek landed house yang ada di Grand Pakuwon dan Pakuwon City Surabaya. Sedangkan 50% sisanya disumbang oleh proyek kondominium.

Kendati dalam lima bulan pertama telah berhasil mengantongi 52% dari target pra penjualan, PWON belum berencana menaikkan target. "Kita belum akan revisi target," kata Minarto Basuki, Direktur Keuangan PWON, Kamis (25/6)

Padahal, sentimen positif terhadap industri properti belakangan cukup banyak. Seperti pelonggaran LTV 10% yang akan efektif mulai Juli, dan rencana dibukanya keran kepemilikan properti bagi asing.

Penjualan PWON tahun 2014 dengan menggunakan KPR mencapai 25%. Itu artinya, dampak pelonggaran LTV cukup besar terhadap kinerja perseroan. Sedangkan, proyek apartemen perseroan juga menyasar pasar menengah atas.

Ivi wong, Direktur Pengembangan Bisnis PWON mengaku kedua sentimen tersebut akan membawa dampak positif terhadap perseroan. Namun menurutnya, efeknya baru akan terjadi di tahun 2016. "Seberapa besar impact-nya belum bisa kita hitung," ujarnya.

Tahun ini, perseroan membidik marketing sales Rp 3,4 triliun atau meningkat 9,6% dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp 3,1 triliun. Penjualan ditargetkan dari pengembangan proyek Tunjungan Plaza 5, Tunjungan Plaza 6, perluasan super mall dan perumahan Grand Pakuwon.

Untuk proyek Grand Pakuwon, perusahaan ini menargetkan kontribusi marketing sales sebesar 30% atau naik dari kontribusi tahun sebelumnya sebesar 25%. Sementara 70% dibidik dari proyek high rise building.










Catatan

PT. Pakuwon Jati Tbk

Pakuwon Jati Tbk (PWON) didirikan tanggal 20 September 1982 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada bulan Mei 1986. Kantor pusat PWON terletak di Eastcoast Center Lt. 5, Pakuwon Town Square – Pakuwon City, Jl. Kejawan Putih Mutiara No. 17, Surabaya, Indonesia.

Pemegangan saham yang memiliki 5% atau lebih saham Pakuwon Jati Tbk, antara lain: Burgami Invesment Limited (20,90%), PT Pakuwon Arthaniaga (16,75%), Concord Media Investment Ltd (7,39%) dan Raylight Investment Limited (7,15%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan PWON bergerak dalam bidang pengusahaan, antara lain: pusat perbelanjaan (Tunjungan Plaza, Supermall Pakuwon Indah, Royal Plaza, Blok M Plaza), pusat perkantoran (Menara Mandiri), hotel dan apartemen (Sheraton Surabaya Hotel, Towers dan Somerset), serta real estat (Pakuwon City (dahulu Perumahan Laguna Indah), Gandaria City dan kota Kasablanka).

Pada tanggal 22 Agustus 1989, PWON memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) PWON kepada masyarakat sebanyak 3.000.000 dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dengan harga penawaran Rp7.200,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 09 Oktober 1989.

Saat ini, PT. Pakuwon Jati mempunyai beberapa development diSurabaya, antara lain pembangungan apartemen Supermall Mansion di Pakuwon Indah, pembangunan TP 5, TP 6, dan The Peak Residence di Surabaya Tengah. Di Pakuwon City sedang dilaksanakan pembangunan apartemen Educity. Baru-baru ini, PT. Pakuwon Jati membangun development terbaru, yakni Grand Pakuwon, yang terletak di sebelah barat Surabaya, di daerah Margomulyo dan Tandes.



saham . bursajkse

Selasa, 23 Juni 2015

BI: Pertumbuhan Kredit 2015 di Kisaran 14% dan Optimis Rupiah Akan Membaik di Kuartal III

Image result for bank indonesia


Pertumbuhan Kredit Tahun Ini Maksimal Hanya 14%

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan pertumbuhan kredit hingga akhir tahun ini diperkirakan maksimal hanya di angka 14 persen, walaupun sudah ada pelonggaran rasio nilai kredit (LTV/loan to value) yang akan berlaku pada 1 Juli 2015.

Hal tersebut diungkapkan Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo, saat menghadiri Rapat Panja Asumsi Dasar Kebijakan Fiskal, Pendapatan, Defisit dan Pembiayaan Pemerintah Tahun 2016 dengan Badan Anggaran DPR, di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (23/6). Ia mengatakan, kebijakan pelonggaran LTV sudah bisa dipastikan berlaku awal bulan depan dan tidak ada peubahan keputusan yang telah dibuat. Sekarang ini, kata dia, tinggal dalam proses legalisasi.

Menurut Perry, kebijakan LTV tersebut diharapkan akan mendorong permintaan kredit. Namun tetap saja masih cukup sulit untuk bisa memenuhi target pertumbuhan kredit hingga 15% tahun ini dengan kebijakan tersebut. Karena, alasan Perry, pertumbuhan kredit berkaitan dengan permintaan. Meski suplai perbankan atau likuiditasnya serta makroprudensial telah dikendorkan, namun yang jadi masalah adalah dari sisi permintaan.

"Demand dari kredit itu masih lemah. Karena apa? Itu berkaitan dengan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi masih lemah, karena ekspornya turun dan penyerapan dari belanja (pemerintah) tertunda. Jadi karena realisasi pertumbuhan kredit sampai April itu relatif rendah, sekitar 10 persen, maka untuk mencapai target 15 persen itu berat," kata Perry.

Lebih lanjut Perry menyatakan, meski demikian pada kuartal ketiga dan keempat diharapkan penyerapan belanja pemerintah baik barang maupun modal bisa meningkat, walaupun ekspornya masih agak berat. Sehingga bisa mendorong permintaan baik dari sisi ekonomi maupun kredit.

"Mungkin pertumbuhan kredit tahun ini sedikit di bawah 15 persen. Dengan di kuartal tiga dan empat nanti diharapkan akan mendorong growth (ekonomi), dorong kredit yang sekarang sekitar 10-11 persen, mungkin akhir tahun bisa sekitar 13-14 persen," jelasnya.



BI Optimistis Nilai Rupiah Akan Membaik Di Kuartal Ketiga

Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan membaik di kuartal ketiga tahun ini seiring berkurangnya tekanan tekanan berkat dukungan sentimen positif dari sejumlah faktor domestik.

Optimisme itu disuarakan Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo, saat menghadiri Rapat Panja Asumsi Dasar Kebijakan Fiskal, Pendapatan, Defisit dan Pembiayaan Pemerintah Tahun 2016 dengan Badan Anggaran DPR, di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (23/6). Diakui Perry, di kuartal kedua tahun ini kondisi lebih banyak negatif ketimbang positif, baik dari sisi global maupun domestik sehingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga lebih berat.

Dari faktor eksternal, paparnya, tekanan pada rupiah saat ini karena ketidakpastian kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve. Sementara itu, dari faktor domestik kebutuhan dolar AS masih cukup tinggi terutama terkait pembayaran utang luar negeri.

"Tapi di semester kedua tahun ini diharapkan faktor domestik lebih positif karena ada penyerapan anggaran yang memang lebih cepat, sehingga itu bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih baik. Lalu defisit neraca transaksi berjalan juga diharapkan jauh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya," kata Perry.

Lebih lanjut Perry menyatakan, untuk faktor eksternal memang ketidakpastian masih cukup tinggi karena seperti sampai sekarang prediksi kenaikan suku bunga The Fed di bulan September, namun ada juga yang menyebutkan akan dilakukan di Januari tahun depan. Sehingga faktor ketidakpastian ini membawa tekanan pada nilai tukar rupiah.

"Tapi sentimen positif dalam negeri itu ada dan di triwulan ketiga biasanya faktor domestik lebih baik. Saya harapkan di triwulan ketiga itu perkiraan kami pergerakan nilai tukar rupiah akan lebih baik. Meskipun faktor globalnya masih terus negatif. Tapi faktor domestiknya, sentimen positifnya semakin banyak, itu membawa perbaikan di nilai tukar rupiah," jelasnya.

Kurs tengah BI mencatat nilai tukar rupiah hari ini berada di level Rp13.316 per dolar AS atau sedikit menguat dari posisi kemarin (22/6) yang berada di Rp13.318. Namun masih terdepresiasi cukup dalam jika dibandingkan awal bulan ini (4/6) yang masih di angka Rp13.243 per dolar.




saham . bursajkse

Kamis, 28 Mei 2015

PT Bank Mandiri Tbk ( BMRI.JK ) - Dukung Pemerintah Longgarkan Aturan Kredit Rumah



PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyatakan pihaknya mendukung rencana pemerintah melonggarkan aturan loan to value (LTV). Dia menilai langkah tersebut bisa menstabilkan pertumbuhan kredit sektor properti yang kini melambat.

Seperti diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Indonesia (BI) tengah mempersiapkan revisi aturan pelonggaran ketentuan uang muka kredit pembelian rumah atauLTV.

"LTV kita sambut baik. Ini inisiatif regulator untuk melonggarkan LTV untuk rumah pertama," papar Consumer Director Banking Bank Mandiri Hery Gunadi saat ditemui di Hotel Ritz Calton, Rabu (27/5/2015).

Dia mengatakan, seyogianya pemerintah memang harus membantu masyarakat yang ingin membeli rumah pertama sebagai salah satu dari kebutuhan primer.

"Rumah pertama penting. Kebutuhan rumah di Indonesia tinggi banget. Tahun kemarin backlogrumah sekira 15 juta akan tambah lagi 15 juta di 10 tahun akan datang, sementara suplainya ngga sebanyak itu," tuturnya.

Lebih lanjut dia berharap aturan tersebut bisa mendorong sektor properti yang tengah mengendur.

"Kalau untuk rumah kedua dan ketiga masih ada risiko, oleh karena itu untuk investasi. Mungkinview-nya regulator mungkin belum karena keluhan kondisi perbankan saat ini," kata dia.



































Catatan:

PT Bank Mandiri (PERSERO) Tbk. (IDX:BMRI ) adalah bank yang berkantor pusat di Jakarta,[6] dan merupakan bank terbesar di Indonesia dalam hal aset, pinjaman, dan deposit. Bank ini berdiri pada tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank milik Pemerintah yaitu, Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), digabungkan[7] ke dalam Bank Mandiri.

Kantor pusat Bank Mandiri berkedudukan di Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 36 – 38 Jakarta Selatan. Saat ini, Bank Mandiri mempunyai 12 kantor wilayah domestik, 74 kantor area, dan 1.080 kantor cabang pembantu, 897 kantor mandiri mitra usaha, 261 kantor kas dan 6 cabang luar negeri yang berlokasi di Cayman Islands, Singapura, Hong Kong, Dili Timor Leste, Dili Timor Plaza dan Shanghai (Republik Rakyat Cina).

Pemegang saham pengendali Bank Mandiri adalah Negara Republik Indonesia, dengan persentase kepemilikan sebesar 60%.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan BMRI adalah melakukan usaha di bidang perbankan.
Pada tanggal 23 Juni 2003, BMRI memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BMRI (IPO) kepada masyarakat sebanyak 4.000.000.000 saham Seri B dengan nilai nominal Rp500,- per saham dengan harga penawaran Rp675,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 14 Juli 2003.

Pada Bank Mandiri terdapat 1 lembar Saham Seri A Dwiwarna yang dipegang Pemerintah Negara Republik Indonesia. Saham Seri A Dwiwarna adalah saham yang memberikan hak-hak preferen kepada pemegangnya untuk menyetujui penembahan modal, pengangkatan dan pemberhentian Komisaris dan Direksi, perubahan anggaran dasar, penggabungan, peleburan, pengambilalihan, likuidasi dan pembubaran.

Sejarah

Pra-penggabungan

Sejarah keempat Bank (BBD, BDN, Bank Exim, dan Bapindo) tersebut sebelum bergabung menjadi Bank Mandiri, dapat ditelusuri lebih dari 140 tahun yang lalu. Keempat bank nasional tersebut telah turut membentuk riwayat perkembangan dunia perbankan Indonesia, dan masing-masing telah memainkan peranan yang penting dalam pembangunan ekonomi di Indonesia.

Bank Dagang Negara

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bank Dagang Negara

Bank Dagang Negara merupakan salah satu bank tertua di Indonesia. Sebelumnya Bank Dagang Negara dikenal sebagai Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij yang didirikan di Batavia (Jakarta) pada tahun 1857. Pada tahun 1949 namanya berubah menjadi Escomptobank NV. Selanjutnya, pada tahun 1960 Escomptobank dinasionalisasi dan berubah nama menjadi Bank Dagang Negara, sebuah Bank pemerintah yang membiayai sektor industri dan pertambangan.

Bank Bumi Daya

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bank Bumi Daya

Bank Bumi Daya didirikan melalui suatu proses panjang yang bermula dari nasionalisasi sebuah perusahaan Belanda De Nationale Handelsbank NV, menjadi Bank Umum Negara pada tahun 1959. Pada tahun 1964, Chartered Bank (sebelumnya adalah Bank milik Inggris) juga dinasionalisasi, dan Bank Umum Negara diberi hak untuk melanjutkan operasi Bank tersebut. Pada tahun 1965, bank umum negara digabungkan ke dalam Bank Negara Indonesia dan berganti nama menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV beralih menjadi Bank Bumi Daya.

Bank Ekspor Impor Indonesia

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bank Ekspor Impor Indonesia

Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) berawal dari perusahaan dagang Belanda N.V. Nederlansche Handels Maatschappij yang didirikan pada tahun 1842 dan mengembangkan kegiatannya di sektor perbankan pada tahun 1870. Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan ini pada tahun 1960, dan selanjutnya pada tahun 1965 perusahan ini digabung dengan Bank Negara Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun 1968 Bank Negara Indonesia Unit II dipecah menjadi dua unit, salah satunya adalah Bank Negara Indonesia Unit II Divisi Expor – Impor, yang akhirnya menjadi BankExim, bank Pemerintah yang membiayai kegiatan ekspor dan impor.

Bank Pembangunan Indonesia

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bank Pembangunan Indonesia

Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) berawal dari Bank Industri Negara (BIN), sebuah Bank Industri yang didirikan pada tahun1951. Misi Bank Industri Negara adalah mendukung pengembangan sektor – sektor ekonomi tertentu, khususnya perkebunan, industri, dan pertambangan. Bapindo dibentuk sebagai bank milik negara pada tahun 1960 dan BIN kemudian digabung dengan Bank Bapindo. Pada tahun 1970, Bapindo ditugaskan untuk membantu pembangunan nasional melalui pembiayaan jangka menengah dan jangka panjang pada sektor manufaktur, transportasi dan pariwisata.

Pasca-penggabungan

Logo lama Bank Mandiri (Oktober 1998 - Januari 2008)

Bank Mandiri dibentuk pada 2 Oktober 1998, dan empat bank asalnya efektif mulai beroperasi sebagai bank gabungan pada pertengahan tahun 1999.

Setelah selesainya proses merger, Bank Mandiri kemudian memulai proses konsolidasi, termasuk pengurangan cabang dan pegawai. Selanjutnya diikuti dengan peluncuran single brand di seluruh jaringan melalui iklan dan promosi.

Salah satu pencapaian penting adalah penggantian secara menyeluruh platform teknologi. Bank Mandiri mewarisi sembilan sistem perbankan dari keempat '''legacy banks'''. Setelah investasi awal untuk konsolidasi sistem yang berbeda tersebut, Bank Mandiri mulai melaksanakan program penggantian platform yang berlangsung selama tiga tahun, dimana program pengganti tersebut difokuskan untuk meningkatkan kemampuan penetrasi di segmen '''retail banking'''.

Pada saat ini, infrastruktur teknologi informasi Bank Mandiri sudah mampu melakukan pengembangan '''e-channel''' & produk retail dengan '''Time to Market''' yang lebih baik.

Dalam proses penggabungan dan pengorganisasian ulang tersebut, jumlah cabang Bank Mandiri dikurangi sebanyak 194 buah dan karyawannya berkurang dari 26.600 menjadi 17.620. Direktur Utamanya yang pertama adalah Robby Djohan. Kemudian pada Mei 2000, posisi Djohan digantikan ECW Neloe. Neloe menjabat selama lima tahun, sebelum digantikan Agus Martowardojo sebagai Direktur Utama sejak Mei 2005. Neloe menghadapi dugaan keterlibatan pada kasus korupsi di bank tersebut.

Pada Maret 2005, Bank Mandiri mempunyai 829 cabang yang tersebar di sepanjang Indonesia dan enam cabang di luar negeri. Selain itu, Bank Mandiri mempunyai sekitar 2.500 ATM dan tiga anak perusahaan utama yaitu Bank Syariah Mandiri, Mandiri Sekuritas, dan AXA Mandiri.

Nasabah Bank Mandiri yang terdiri dari berbagai segmen merupakan penggerak utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan sektor usaha, nasabah Bank Mandiri bergerak dibidang usaha yang sangat beragam. Sebagai bagian dari upaya penerapan '''prudential banking''' & '''best-practices risk management''', Bank Mandiri telah melakukan berbagai perubahan. Salah satunya, persetujuan kredit dan pengawasan dilaksanakan dengan '''four-eye principle''', dimana persetujuan kredit dipisahkan dari kegiatan pemasaran dan business unit. Sebagai bagian diversifikasi risiko dan pendapatan, Bank Mandiri juga berhasil mencetak kemajuan yang signifikan dalam melayani Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan nasabah ritel. Pada akhir 1999, porsi kredit kepada nasabah '''corporate''' masih sebesar 87% dari total kredit, sementara pada 31 Desember 2009, porsi kredit kepada nasabah UKM dan mikro telah mencapai 42,22% dan porsi kredit kepada nasabah consumer sebesar 13,92%, sedangkan porsi kredit kepada nasabah '''corporate''' mencakup 43,86% dari total kredit.

Sesudah menyelesaikan program transformasi semenjak 2005 sampai dengan tahun 2009, Bank Mandiri sedang bersiap melaksanakan transformasi tahap berikutnya dengan merevitalisasi visi dan misi untuk menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif.

Pada Juni 2013, Bank Mandiri sudah mempunyai 1.811 cabang dan sekitar 11.812 ATM yang tersebar merata di 34 provinsi di Indonesiatanpa terkecuali, semakin menegaskan Bank Mandiri sebagai salah satu dari jajaran bank terbesar di Indonesia.

Slogan

1998-2005 :

Bank Terpercaya Pilihan Anda

2003-2004 :

Satu Hati, Satu Negeri, Satu Bank

2005-2007 :

Melayani Dengan Hati, Menuju Yang Terbaik

2008-sekarang :

Terdepan, Terpercaya. Tumbuh bersama Anda (slogan utama Bank Mandiri sejak 2008)

2009-2010 :

Menembus Batas Keinginan

2010-2012 :

Menjawab Setiap Keinginan

2012-sekarang :

Apapun Keinginan Anda, Mandiri Saja (baru disosialisasikan mulai Juni 2013)

Produk

Simpanan

Mandiri Tabungan Rupiah

Mandiri Tabungan Rencana Rupiah
Mandiri Tabungan Bisnis Rupiah
Mandiri Tabungan TKI Rupiah

Mandiri Tabungan Asing
Mandiri Giro Rupiah
Mandiri Giro Asing
Mandiri Deposito Rupiah
Mandiri Deposito Asing
e-Banking

Kartu Mandiri prabayar

Mandiri ATM
Mandiri Debit
Mandiri Prabayar (e-Money)
Mandiri SMS
Mandiri Call

14000 atau (021) 5299-7777

Mandiri Internet Banking
Mandiri Mobile

Mandiri Mobile iPhone
Mandiri Mobile Android
Mandiri Mobile BlackBerry

Mandiri e-Cash

Kartu Kredit

Mandiri MasterCard

Feng Shui Card Platinum
Skyz Card Titanium
Everyday Card

Mandiri Visa

Visa Platinum Golf Card
Visa Platinum Card
Golf Card
Gold Card
Silver Card
Kartu Hypermart Gold
Kartu Hypermart Regular
Platinum Corporate Card
Corporate Card


saham . bursajkse

Kamis, 21 Mei 2015

PT Pakuwon Jati Tbk ( PWON.JK ) - Dalam Empat Bulan, Mengantongi Penjualan Rp. 1,55 Triliun

Image result for PT Pakuwon Jati Tbk

Dalam empat bulan pertama, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) telah merealisasikan penjualan sebesar 45% dari target yang dipatok tahun ini.

Direktur Keuangan PWON Minarto Basuki mengatakan, perseroan telah mengantongi marketing sales sebesar Rp 1,55 triliun atau 45% dari target Rp 3,4 triliun di tahun 2015.

Pra penjualan tersebut diperoleh dari sejumlah proyek condominium dan landed house. "Sebagian besarnya berasal dari proyek Surabaya," kata Minarto kepada KONTAN, Rabu (20/5).

Untuk mencapai target penjualan  akir tahun, PWON berharap pada sejumlah proyeknya seperti pengembangan Tunjungan Plaza 5, Tunjungan Plaza 6, perluasan super mall dan perumahan grand Pakuwon.

Dengan rencana Bank Indonesia (BI) melonggarkan aturan loan to value (LTV) untuk KPR sebesar 10% diperkirakan akan meningkatkan penjualan PWON tahun ini. Hanya saja, Minarto belum bisa menghitung seberapa besar dampaknya.

Meski pelonggaran LTV untuk rumah pertama tersebut diperkirakan akan efektif Juni mendatang, PWON belum berencana melakukan revisi target penjualan. Pasalnya, masih banyak faktor lain yang akan mempengaruhi penjualan sektor properti seperti ketidapastian kebijakan pajak dan suku bunga.

Tahun lalu, porsi penjualan PWON dengan menggunakan fasilitas KPR mencapai 25% terhadap total penjualan. Itu artinya, dampak pelonggaran LTV akan cukup signifikan terhadap peningkatan penjualan perseroan.













Catatan

PT. Pakuwon Jati Tbk

Saat ini, PT. Pakuwon Jati mempunyai beberapa development diSurabaya, antara lain pembangungan apartemen Supermall Mansion di Pakuwon Indah, pembangunan TP 5, TP 6, dan The Peak Residence di Surabaya Tengah. Di Pakuwon City sedang dilaksanakan pembangunan apartemen Educity. Baru-baru ini, PT. Pakuwon Jati membangun development terbaru, yakni Grand Pakuwon, yang terletak di sebelah barat Surabaya, di daerah Margomulyo dan Tandes.

http://investasi.kontan.co.id/news/empat-bulan-pakuwon-kantongi-penjualan-rp-155-t


saham . bursajkse