Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri nikel. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri nikel. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2015

PT Aneka Tambang Tbk ( ANTM.JK ) - Bekerjasama Dengan Inalum Membangun Pabrik SGA



PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (Inalum) mengumumkan bahwa kedua Perusahaan telah menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding, MoU) untuk bekerjasama dalam pembangunan pabrik smelter grade alumina (SGA).

Penandatanganan MoU dilakukan antara Direktur Utama ANTM Tedy Badrujaman dan Direktur Utama Inalum Winardi pada tanggal 3 Juli 2015 di Jakarta. Direktur Utama ANTM Tedy Badrujaman mengatakan:

"Kerjasama ANTM dengan Inalum merupakan langkah penting dalam upaya kami untuk terus meningkatkan nilai cadangan bauksit Indonesia yang besar serta mendukung sinergi antar BUMN."

Direktur Utama Inalum Winardi mengatakan:

"Kemitraan dengan ANTM akan mendukung keberadaan industri hilir bauksit di Indonesia yang bernilai tambah. Kerjasama ini juga akan menjadi momentum positif untuk mendukung integrasi bisnis di komoditas bauksit."

Rencana kerjasama antara ANTM dan Inalum diantaranya mencakup pencarian, evaluasi dan seleksi calon mitra untuk pembangunan pabrik SGA, penetapan skema kerjasama, persiapan pendirian perusahaan patungan dan melakukan kajian komprehensif diantaranya dalam hal aspek legal, finansial serta teknis-operasional.

Mengenai ANTM
ANTM adalah perusahaan berbasis sumber daya alam terkemuka yang terdiversifikasi dan memiliki kegiatan yang terintegrasi secara vertikal dengan komoditas utama bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, batubara, alumina dan jasa pengolahan dan pemurnian logam mulia. ANTM merupakan salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 47 tahun dan memiliki cadangan nikel, emas dan bauksit yang berkualitas tinggi dan berjumlah besar. 65% saham ANTM dimiliki oleh Pemerintah Indonesia dan saham ANTM dicatatkan di Bursa Efek Indonesia dan Bursa Efek Australia.

Mengenai Inalum
Inalum merupakan pelopor dan perusahaan pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang industri peleburan aluminium. Inalum didirikan pada tanggal 6 Januari 1976 dan sebelumnya merupakan perusahaan patungan dengan Pemerintah Indonesia dengan Nippon Asahan Aluminium Co. Ltd. Pada tanggal 19 Desember 2013 Pemerintah Indonesia mengambil alih saham yang dimiliki pihak konsorsium Jepang dan sepenuhnya menjadi milik Pemerintah Indonesia.








Catatan:

PT Aneka Tambang Tbk. atau yang biasa disebut dengan PT Antam merupakan perusahaan pertambangan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (65%) dan masyarakat (35%). PT Antam didirikan pada tanggal 5 Juli 1968. Kegiatan Antam mencakup eksplorasi, penambangan, pengolahan serta pemasaran dari sumber daya mineral.

Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) (ANTM) didirikan dengan nama "Perusahaan Negara (PN) Aneka Tambang" tanggal 05 Juli 1968 dan mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 5 Juli 1968. Kantor pusat ANTM berlokasi di Gedung Aneka Tambang, Jl. Letjen T.B. Simatupang No. 1, Lingkar Selatan, Tanjung Barat, Jakarta, Indonesia.

Pendapatan PT Antam diperoleh melalui kegiatan eksplorasi dan penemuan deposit mineral, pengolahan mineral tersebut secara ekonomis, dan penjualan hasil pengolahan tersebut kepada konsumen jangka panjang yang loyal di Eropa dan Asia. Kegiatan ini telah dilakukan semenjak perusahaan berdiri tahun 1968. Komoditas utama Antam adalah bijih nikel kadar tinggi atau saprolit, bijih nikel kadar rendah atau limonit, feronikel, emas, perak dan bauksit. Jasa utama Antam adalah pengolahan dan pemurian logam mulia serta jasa geologi.

Pemegang saham pengendali Aneka Tambang (Persero) Tbk adalah Pemerintah Republik Indonesia, dengan memiliki 1 Saham Preferen (Saham Seri A Dwiwarna) dan 65% di saham Seri B.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ANTM adalah di bidang pertambangan berbagai jenis bahan galian, serta menjalankan usaha di bidang industri, perdagangan, pengangkutan dan jasa lainnya yang berkaitan dengan galian tersebut. Saat ini, Kegiatan utama Perusahaan meliputi bidang eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian serta pemasaran bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, batubara dan jasa pemurnian logam mulia. Di tahun 2014, Perusahaan akan mulai menjual komoditas baru chemical grade alumina (CGA) seiring dengan mulai beroperasinya pabrik pengolahan CGA di Tayan, Kalimantan Barat. Selain itu Antam juga tengah mengembangkan bisnis pembangkit tenaga listrik.

Pada tanggal 27 Nopember 1997, ANTM memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ANTM (IPO) kepada masyarakat sebanyak 430.769.000 saham (Seri B) dengan nilai nominal Rp500,- per saham dan Harga Penawaran Perdana sebesar Rp1.400,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Nopember 1997.



Anak Perusahaan PT Antam

PT Indonesia Coal Resources (Indonesia)
PT Cibaliung Sumberdaya (Indonesia)
PT Gag Nikel (Indonesia)
Asia Pacific Nickel Pty., Ltd. (Australia)
PT Antam Resourcindo (Indonesia)
PT Borneo Edo International (Indonesia)
PT Mega Citra Utama (Indonesia)
PT Indonesia Chemical Alumina (Indonesia)
PT Antam Jindal Stainless Indonesia (Indonesia)
PT Logam Mulia (Indonesia)




saham . bursajkse

Rabu, 08 Juli 2015

PT Aneka Tambang Tbk ( ANTM.JK ) - Harga Beli Emas Antam Turun Rp. 6.000 Per Gram

Image result for harga emas

Harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk ( ANTM.JK ) Tbk hari ini, Rabu (8/7) bergerak flat.

Sedangkan harga pembelian kembali (buyback) emas Antam turun Rp 6.000 per gram. Harga buyback emas Antam hari ini berada di angka Rp 496.000 per gram.

Seperti dikutip dari situs Logam Mulia, harga pecahan 1 gram emas Antam Rp 550.000. Angka ini tidak berubah jika dari posisi harga Senin (6/7). Sedangkan harga rata-rata satu gram emas untuk pecahan 500 gram dibanderol seharga Rp 510.600 per gram.

Adapun harga emas batangan milik Antam dalam pecahan lainnya per hari ini, yakni:

1 gram: Rp 550.000

5 gram: Rp 2.605.000

10 gram: Rp 5.160.000

25 gram: Rp 12.825.000

50 gram: Rp 25.600.000

100 gram: Rp 51.150.000

250 gram: Rp 127.750.000

500 gram: Rp 255.300.000








Catatan:

PT Aneka Tambang Tbk. atau yang biasa disebut dengan PT Antam merupakan perusahaan pertambangan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (65%) dan masyarakat (35%). PT Antam didirikan pada tanggal 5 Juli 1968. Kegiatan Antam mencakup eksplorasi, penambangan, pengolahan serta pemasaran dari sumber daya mineral.

Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) (ANTM) didirikan dengan nama "Perusahaan Negara (PN) Aneka Tambang" tanggal 05 Juli 1968 dan mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 5 Juli 1968. Kantor pusat ANTM berlokasi di Gedung Aneka Tambang, Jl. Letjen T.B. Simatupang No. 1, Lingkar Selatan, Tanjung Barat, Jakarta, Indonesia.

Pendapatan PT Antam diperoleh melalui kegiatan eksplorasi dan penemuan deposit mineral, pengolahan mineral tersebut secara ekonomis, dan penjualan hasil pengolahan tersebut kepada konsumen jangka panjang yang loyal di Eropa dan Asia. Kegiatan ini telah dilakukan semenjak perusahaan berdiri tahun 1968. Komoditas utama Antam adalah bijih nikel kadar tinggi atau saprolit, bijih nikel kadar rendah atau limonit, feronikel, emas, perak dan bauksit. Jasa utama Antam adalah pengolahan dan pemurian logam mulia serta jasa geologi.

Pemegang saham pengendali Aneka Tambang (Persero) Tbk adalah Pemerintah Republik Indonesia, dengan memiliki 1 Saham Preferen (Saham Seri A Dwiwarna) dan 65% di saham Seri B.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ANTM adalah di bidang pertambangan berbagai jenis bahan galian, serta menjalankan usaha di bidang industri, perdagangan, pengangkutan dan jasa lainnya yang berkaitan dengan galian tersebut. Saat ini, Kegiatan utama Perusahaan meliputi bidang eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian serta pemasaran bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, batubara dan jasa pemurnian logam mulia. Di tahun 2014, Perusahaan akan mulai menjual komoditas baru chemical grade alumina (CGA) seiring dengan mulai beroperasinya pabrik pengolahan CGA di Tayan, Kalimantan Barat. Selain itu Antam juga tengah mengembangkan bisnis pembangkit tenaga listrik.

Pada tanggal 27 Nopember 1997, ANTM memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ANTM (IPO) kepada masyarakat sebanyak 430.769.000 saham (Seri B) dengan nilai nominal Rp500,- per saham dan Harga Penawaran Perdana sebesar Rp1.400,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Nopember 1997.



Anak Perusahaan PT Antam

PT Indonesia Coal Resources (Indonesia)
PT Cibaliung Sumberdaya (Indonesia)
PT Gag Nikel (Indonesia)
Asia Pacific Nickel Pty., Ltd. (Australia)
PT Antam Resourcindo (Indonesia)
PT Borneo Edo International (Indonesia)
PT Mega Citra Utama (Indonesia)
PT Indonesia Chemical Alumina (Indonesia)
PT Antam Jindal Stainless Indonesia (Indonesia)
PT Logam Mulia (Indonesia)




Senin, 06 Juli 2015

Harga Komoditas Turun Tajam, Yunani Telah Membuat Para Investor Keluar Dari Pasar

Image result for greece default

Harga komoditas minyak, logam, dan bahan pangan berguguran setelah Yunani menolak mengetatkan anggaran sebagaimana disyaratkan kreditur untuk mencairkan dana talangan utang. Langkah darurat China untuk mendukung harga saham, merontokkan kepercayaan investor terhadap pertumbuhan ekonomi global. Mereka berusaha menyelamatkan diri, dengan memindahkan kekayaannya ke aset-aset safe haven.

Indeks Komoditas Bloomberg siang ini terpuruk 1,8% ke level 100,0574, mencatatkan kerugian terbesar dalam sehari perdagangan sejak 26 Mei lalu. Kemerosotan indeks hari ini, memperbesar penurunan indeks sepanjang tahun ini, menjadi 4,1 persen, yang terutama disebabkan oleh kejatuhan harga logam dan hasil pertanian.

Enam puluh satu persen pemilih Yunani, pada Minggu lalu menolak persyaratan pemberian dana talangan utang Yunani, sehingga meningkatkan kemungkinan keluarnya Yunani dari zona euro. China, konsumen terbesar energi, bahan pangan dan logam dunia, menghentikan semua rencana penawaran saham perdana dan kesediaan para broker untuk bertransaksi saham, sebagai langkah untuk menghambat penurunan tajam harga saham selama tiga pekan terakhir.

"Menghadapi kombinasi dari penolakan Yunani, pelemahan harga komoditas dan ketakutan akan kemungkinan dampak lanjutan rontoknya pasar China, investor akan berpikir untuk `menyelamatkan diri` terlebih dahulu," kata Ric Spooner, kepala analis CMC Markets, Sydney melalui surel, yang dikutip Bloomberg, (6/7).

Harga minyak Brent melorot hingga 1,6 persen, ke bawah US$60 per barel untuk pertama kalinya sejak April lalu. Di bursa London Metal Exchange, hari ini ini semua harga hasil logam rontok, dan mencatatkan penurunan 2,5 persen untuk hasil tambang nikel. Harga gandum untuk pengiriman September di Chicago Board of Trade anjlok 2,3 persen, sedangkan harga jagung dan kedelai merosot 1,5 persen.

Indeks Komposit Shanghai naik 0,8 persen, mengakhiri reli yang sempat mencapai 7,8 persen. Namun secara keseluruhan indeks Shanghai sudah terjungkal 29 persen selama tiga pekan terakhir.

Komoditas emas gagal mempertahankan keuntungan, setelah Indeks Spot Dolar Bloomberg melambung ke level tertinggi dalam sebulan sehingga menurunkan permintaan emas. 



saham . bursajkse

Jumat, 03 Juli 2015

PT Aneka Tambang (Persero) Tbk ( ANTM.JK ) - Efisiensi Biaya, Beban Biaya Produksi Nikel Turun 20%

Image result for antam nikel

Di tengah harga komoditas yang lesu, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM)  berusaha menyelamatkan kinerjanya dengan melakukan efisiensi. Emiten pelat merah ini pun berhasil menekan biaya produksi nikelnya.

Direktur Keuangan ANTM Aloysius K Ro bilang, beban biaya ANTM turun drastis karena efisiensi operasi. Biaya produksi nikel turun 20,37% dari US$ 5,4 per pon menjadi US$ 4,3 per pon. Selain itu, ANTM  pun melakukan negosiasi dengan PT Pertamina (Persero) agar dapat menghemat bahan bakar.

Lalu meski harga emas pun sedang tak mengkilap, Aloysius bilang volume perdagangan emas melonjak dua kali lipat sampai kuartal kedua ini. Ia memperkirakan, tingginya perdagangan emas mungkin karena kondisi inflasi dan nilai tukar yang tengah kurang baik.

Aloysius mengungkapkan bahwa pendapatan emas dan nikel ANTM  sebenarnya mengalami kenaikan. Namun, ANTM  perlu berjuang menutup kehilangan 3,3% ekspor ore. "Sehingga sampai Juni pendapatan kita sama dengan tahun lalu," ucap Aloysius, Rabu, (1/7).

Di kuartal kedua 2014, ANTM  membukukan pendapatan Rp 3,98 triliun atau turun 34,92% dibanding periode yang sama 2013. Sedangkan di kuartal pertama 2015, pendapatanANTM  naik 24,34% dari Rp 2,3 triliun menjadi Rp 2,86 triliun.

Aloysius mengaku tak khawatir dengan fluktuasi nilai tukar. Pasalnya, ANTM mengekspor 70% hasil produksinya. Dengan biaya yang dikeluarkan dalam Rupiah dan pendapatan Dollar, ANTM  pun mestinya mengalami untung kurs. Namun, nyatanya ANTM masih rugi kurs karena memeluk utang Dollar. Sehingga aset moneter ANTM pun kalah dengan utang Dollar yang dimiliki.








Catatan:

PT Aneka Tambang Tbk. atau yang biasa disebut dengan PT Antam merupakan perusahaan pertambangan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (65%) dan masyarakat (35%). PT Antam didirikan pada tanggal 5 Juli 1968. Kegiatan Antam mencakup eksplorasi, penambangan, pengolahan serta pemasaran dari sumber daya mineral.

Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) (ANTM) didirikan dengan nama "Perusahaan Negara (PN) Aneka Tambang" tanggal 05 Juli 1968 dan mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 5 Juli 1968. Kantor pusat ANTM berlokasi di Gedung Aneka Tambang, Jl. Letjen T.B. Simatupang No. 1, Lingkar Selatan, Tanjung Barat, Jakarta, Indonesia.

Pendapatan PT Antam diperoleh melalui kegiatan eksplorasi dan penemuan deposit mineral, pengolahan mineral tersebut secara ekonomis, dan penjualan hasil pengolahan tersebut kepada konsumen jangka panjang yang loyal di Eropa dan Asia. Kegiatan ini telah dilakukan semenjak perusahaan berdiri tahun 1968. Komoditas utama Antam adalah bijih nikel kadar tinggi atau saprolit, bijih nikel kadar rendah atau limonit, feronikel, emas, perak dan bauksit. Jasa utama Antam adalah pengolahan dan pemurian logam mulia serta jasa geologi.

Pemegang saham pengendali Aneka Tambang (Persero) Tbk adalah Pemerintah Republik Indonesia, dengan memiliki 1 Saham Preferen (Saham Seri A Dwiwarna) dan 65% di saham Seri B.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ANTM adalah di bidang pertambangan berbagai jenis bahan galian, serta menjalankan usaha di bidang industri, perdagangan, pengangkutan dan jasa lainnya yang berkaitan dengan galian tersebut. Saat ini, Kegiatan utama Perusahaan meliputi bidang eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian serta pemasaran bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, batubara dan jasa pemurnian logam mulia. Di tahun 2014, Perusahaan akan mulai menjual komoditas baru chemical grade alumina (CGA) seiring dengan mulai beroperasinya pabrik pengolahan CGA di Tayan, Kalimantan Barat. Selain itu Antam juga tengah mengembangkan bisnis pembangkit tenaga listrik.

Pada tanggal 27 Nopember 1997, ANTM memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ANTM (IPO) kepada masyarakat sebanyak 430.769.000 saham (Seri B) dengan nilai nominal Rp500,- per saham dan Harga Penawaran Perdana sebesar Rp1.400,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Nopember 1997.



Anak Perusahaan PT Antam

PT Indonesia Coal Resources (Indonesia)
PT Cibaliung Sumberdaya (Indonesia)
PT Gag Nikel (Indonesia)
Asia Pacific Nickel Pty., Ltd. (Australia)
PT Antam Resourcindo (Indonesia)
PT Borneo Edo International (Indonesia)
PT Mega Citra Utama (Indonesia)
PT Indonesia Chemical Alumina (Indonesia)
PT Antam Jindal Stainless Indonesia (Indonesia)
PT Logam Mulia (Indonesia)



saham . bursajkse

Kamis, 02 Juli 2015

PT Antam (Persero) Tbk ( ANTM.JK ) - Bersama Inalum Mengkaji Penyertaan Capex Untuk Membangun Smelter di Kalimantan

Image result for smelter PT Antam (Persero) Tbk

PT Antam (Persero) Tbk mengaku, pihaknya bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) tengah mengkaji besaran penempatan investasi di Grade Smelter Alumina (SGA) yang mencapai US$1,7 miliar.

"Untuk capex (belanja modal) di SGA membutuhkan dana US$1,7 miliar. Makanya kami menggandeng Inalum yang memiliki dana untuk pengembangan SGA," kata Direktur Utama Antam [ANTM 670 -10 (-1,5%)], Tedy Badrujaman dalam diskusi "Emiten Bicara Industri" di Jakarta, Rabu (1/7) malam.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, kerjasama kedua BUMN pertambangan ini akan membangun smelter SGA di Mempawah, Kalimantan Barat. "Sampai saat ini kami belum menemukan angka besaran investasi untuk masing-masing perusahaan," ucap Tedy.

Dia menyebutkan, sebelumnya perseroan merencanakan bermain sendiri di proyek yang membutuhkan capex US$1,7 miliar tersebut. "Tetapi, dengan adanya rencana sinergi BUMN ini, maka beban penempatan dana di SGA akan menjadi ringan," imbuhnya.

Lebih lanjut dia memperkirakan, SGA akan memiliki kapasitas produksi bouksit dan alumina sebanyak 1,6 juta ton. "Kita ketahui, Inalum membutuhkan bouksit dan alumina sebagai bahan baku aluminium yang selama ini masih diimpor," ucap Tedy.







Catatan:

PT Aneka Tambang Tbk. atau yang biasa disebut dengan PT Antam merupakan perusahaan pertambangan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (65%) dan masyarakat (35%). PT Antam didirikan pada tanggal 5 Juli 1968. Kegiatan Antam mencakup eksplorasi, penambangan, pengolahan serta pemasaran dari sumber daya mineral.

Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) (ANTM) didirikan dengan nama "Perusahaan Negara (PN) Aneka Tambang" tanggal 05 Juli 1968 dan mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 5 Juli 1968. Kantor pusat ANTM berlokasi di Gedung Aneka Tambang, Jl. Letjen T.B. Simatupang No. 1, Lingkar Selatan, Tanjung Barat, Jakarta, Indonesia.

Pendapatan PT Antam diperoleh melalui kegiatan eksplorasi dan penemuan deposit mineral, pengolahan mineral tersebut secara ekonomis, dan penjualan hasil pengolahan tersebut kepada konsumen jangka panjang yang loyal di Eropa dan Asia. Kegiatan ini telah dilakukan semenjak perusahaan berdiri tahun 1968. Komoditas utama Antam adalah bijih nikel kadar tinggi atau saprolit, bijih nikel kadar rendah atau limonit, feronikel, emas, perak dan bauksit. Jasa utama Antam adalah pengolahan dan pemurian logam mulia serta jasa geologi.

Pemegang saham pengendali Aneka Tambang (Persero) Tbk adalah Pemerintah Republik Indonesia, dengan memiliki 1 Saham Preferen (Saham Seri A Dwiwarna) dan 65% di saham Seri B.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ANTM adalah di bidang pertambangan berbagai jenis bahan galian, serta menjalankan usaha di bidang industri, perdagangan, pengangkutan dan jasa lainnya yang berkaitan dengan galian tersebut. Saat ini, Kegiatan utama Perusahaan meliputi bidang eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian serta pemasaran bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, batubara dan jasa pemurnian logam mulia. Di tahun 2014, Perusahaan akan mulai menjual komoditas baru chemical grade alumina (CGA) seiring dengan mulai beroperasinya pabrik pengolahan CGA di Tayan, Kalimantan Barat. Selain itu Antam juga tengah mengembangkan bisnis pembangkit tenaga listrik.

Pada tanggal 27 Nopember 1997, ANTM memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ANTM (IPO) kepada masyarakat sebanyak 430.769.000 saham (Seri B) dengan nilai nominal Rp500,- per saham dan Harga Penawaran Perdana sebesar Rp1.400,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Nopember 1997.



Anak Perusahaan PT Antam

PT Indonesia Coal Resources (Indonesia)
PT Cibaliung Sumberdaya (Indonesia)
PT Gag Nikel (Indonesia)
Asia Pacific Nickel Pty., Ltd. (Australia)
PT Antam Resourcindo (Indonesia)
PT Borneo Edo International (Indonesia)
PT Mega Citra Utama (Indonesia)
PT Indonesia Chemical Alumina (Indonesia)
PT Antam Jindal Stainless Indonesia (Indonesia)
PT Logam Mulia (Indonesia)




saham . bursajkse

Selasa, 30 Juni 2015

Akhir Tahun Ini, Harga Nikel Dunia Bisa Sentuh USD$ 9.000 Per Ton

Image result for nikel

Spekulasi kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika alias The Fed masih menyeret laju harga nikel. Mengutip Bloomberg, Senin (29/6) pukul 12.53 WIB, harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 2,5% dibandingkan sehari sebelumnya menjadi US$ 12.145 per metrik ton. Dalam sepekan, harga nikel menyusut 2,13%.

Analis dan Direktur PT Komoditi Ekuilibrium Berjangka Ibrahim menilai, hingga akhir tahun 2015, harga nikel dapat tergerus hingga US$ 9.000 per metrik ton. Sebab, masih ada ancaman kenaikan suku bunga oleh AS sebanyak pada tahun Kambing Kayu ini. "Rencananya mereka akan mengerek suku bunga total 75 basis poin. Kalau suku bunga naik, harga nikel terkoreksi," tuturnya.

Selain itu, belum ada sentimen positif yang dapat mendongkrak harga nikel. Ekonomi China, pengguna nikel terbesar di dunia, masih melambat. Hal ini bisa menurunkan permintaan nikel dan membuat stok nikel menggunung.



Baca Juga: http://bursajkse.blogspot.com/search?q=nikel&max-results=20&by-date=true




Jumat, 26 Juni 2015

NIKEL: Harga Melemah Bersama Kekhawatiran Akan Gagalnya Perundingan Yunani

Image result for nickel ore product
Harga nikel turun dari level tertinggi dalam sepekan setelah sebagian besar harga logam industri melemah, karena khawatir kegagalan perundingan utang Yunani akan mengganggu pertumbuhan ekonomi sehingga permintaan turun.

Penurunan harga nikel menggerus penguatan pada Selasa yang merupakan kenaikan tertinggi dalam tujuh pekan.

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras dan para kreditor Eropa menghentikan perundingan tadi malam dan sepakat memulai lagi pada hari ini.

Kedua pihak tidak menemui kesepakatan atas sejumlah klausul program bantuan utang meski sebelumnya Tsipras diberi batas waktu hingga dua hari.

"Kami tentunya masih fokus pada Yunani," ujar Steve Hardcastle, Head of Client Services Sucden Financial Ltd. sebagaimana dikutip Bloomberg, Kamis (25/6/2015).

Menurutnya, pasar terus memantau perkembangan terbaru dari perundingan Yunani.

Nikel untuk pengiriman tiga bulan turun 0,4% ke level USid="mce_marker"2.805 per metrik ton pukul 11:26 pagi di bursa London Metal Exchange. 



 

http://market.bisnis.com/read/20150625/94/446940/harga-nikel-melemah-setelah-perundingan-utang-yunani-terhenti

Kamis, 18 Juni 2015

PT Centra Omega Resources Tbk ( DKFT.JK ) - Melakukan Pemancangan Tiang Perdana Smelter NPI Morowali

Image result for ground breaking PT Central Omega Resources Tbk

PT COR Industri Indonesia, anak usaha PT Centra Omega Resources Tbk telah melakukan pemancangan tiang perdana (ground breaking) smelter nickle pig iron di Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Smelter NPI akan dibangun mempunyai kapasitas 300.000 ton NPI/tahun dengan kadar nikel minimum 9% dibangun tiga tahap masing-masing 100.000 ton per tahun. 

Total investasi diperkirakan Rp5,5 triliun dibagi menjadi Rp2 triliun untuk pembangunan tahap I, Rp2 triliun untuk pembangunan smelter tahap II, dan sisanya Rp1,5 triliun untuk pembangunan smelter tahap III.

Pembangunan pabrik ini akan menggunakan teknologi tahur tiup atau blast furnace.

Direktur Utama PT CORII, Ciho Darmawan Bangun menuturkan, smelter NPI tahap pertama diharapkan sudah dapat berprduksi pada semester dua tahun depan, di mana pada tahun yang sama pembangunan smelter tahap kedua termasuk pabrik kokas, serta pembangunan tahap II akan mulai dilakanakan bersamaan. 

"Seluruh investasi dari proyek ini dijadwalkan akan selesai pada akhir 2017," tutur Ciho melalui publikasi BEI, Rabu (17/6).

Jumlah tenaga kerja yang dapat diserap bila semua tahapan sudah beroperasi adalah 2.500 orang. 

Gubernur Sulawesi Selatan Longki Djanggola memberikan apresiasi kepada perseroan dan PT CORII yang telah merealisasikan investasinya di Sulawesi Tengah.

"Saya berharap dengan beropersinya smelter NPI nantinya memberikan nilai tambah bagi industri pertambangan bijih nikel di Morowali Utara dan juga perekonomian serta kesejahteraan baik di daerah maupun secara nasional," tutur Gubernur.















Catatan:

Central Omega Resources Tbk (dahulu PT Duta Kirana Finance Tbk) (DKFT) didirikan tanggal 22 Februari 1995 dan memulai kegiatan usaha komersialnya tahun 1995. Kantor pusat DKFT berlokasi di Plasa Asia Lantai 6, Jl. Jendral Sudirman Kav. 51, Jakarta.

Pemegang saham mayoritas DKFT adalah PT Jinsheng Mining (JM), dengan persentase pemilikan sebesar 75,22%. JM merupakan perusahaan yang didirikan di Indonesia.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan DKFT bergerak dalam bidang usaha perdagangan hasil tambang dan kegiatan pertambangan dilakukan melalui anak perusahaan. Saat ini, hasil utama tambang DKFT dan anak usahanya adalah Nikel.

Pada tanggal 28 Oktober 1997, DKFT memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham DKFT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 26.000.000 dengan nilai nominal dan harga penawaran Rp500,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) (dahulu Bursa Efek Surabaya (BES)) pada tanggal 21 Nopember 1997.




saham . bursajkse

Jumat, 29 Mei 2015

PT Aneka Tambang (Antam) Tbk ( ANTM.JK ) - Harga Emas Acuan Hari Ini, Turun Rp 1.000 Per Gram



Harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam) Tbk hari ini, Jumat (29/5) bergerak menurun.


Seperti dikutip dari situs Logam Mulia, harga pecahan 1 gram emas Antam Rp 551.000. Angka ini turun Rp 1.000 jika dibandingkan dari posisi harga Kamis (28/5). Sedangkan harga rata-rata satu gram emas untuk pecahan 500 gram dibanderol seharga Rp 511.600 per gram.

Sementara untuk harga pembelian kembali emas (buyback) oleh pihak Antam hari ini tidak berubah. Harga buyback emas Antam hari ini berada di angka Rp 497.000 per gram.

Adapun harga emas batangan milik Antam dalam pecahan lainnya, yakni:

1 gram: Rp 551.000
5 gram: Rp 2.610.000
10 gram: Rp 5.170.000
25 gram: Rp 12.850.000
50 gram: Rp 25.650.000
100 gram: Rp 51.250.000
250 gram: Rp 128.000.000
500 gram: Rp 255.800.000
























Catatan:

PT Aneka Tambang Tbk. atau yang biasa disebut dengan PT Antam merupakan perusahaan pertambangan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (65%) dan masyarakat (35%). PT Antam didirikan pada tanggal 5 Juli 1968. Kegiatan Antam mencakup eksplorasi, penambangan, pengolahan serta pemasaran dari sumber daya mineral.

Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) (ANTM) didirikan dengan nama "Perusahaan Negara (PN) Aneka Tambang" tanggal 05 Juli 1968 dan mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 5 Juli 1968. Kantor pusat ANTM berlokasi di Gedung Aneka Tambang, Jl. Letjen T.B. Simatupang No. 1, Lingkar Selatan, Tanjung Barat, Jakarta, Indonesia.

Pendapatan PT Antam diperoleh melalui kegiatan eksplorasi dan penemuan deposit mineral, pengolahan mineral tersebut secara ekonomis, dan penjualan hasil pengolahan tersebut kepada konsumen jangka panjang yang loyal di Eropa dan Asia. Kegiatan ini telah dilakukan semenjak perusahaan berdiri tahun 1968. Komoditas utama Antam adalah bijih nikel kadar tinggi atau saprolit, bijih nikel kadar rendah atau limonit, feronikel, emas, perak dan bauksit. Jasa utama Antam adalah pengolahan dan pemurian logam mulia serta jasa geologi.

Pemegang saham pengendali Aneka Tambang (Persero) Tbk adalah Pemerintah Republik Indonesia, dengan memiliki 1 Saham Preferen (Saham Seri A Dwiwarna) dan 65% di saham Seri B.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ANTM adalah di bidang pertambangan berbagai jenis bahan galian, serta menjalankan usaha di bidang industri, perdagangan, pengangkutan dan jasa lainnya yang berkaitan dengan galian tersebut. Saat ini, Kegiatan utama Perusahaan meliputi bidang eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian serta pemasaran bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, batubara dan jasa pemurnian logam mulia. Di tahun 2014, Perusahaan akan mulai menjual komoditas baru chemical grade alumina (CGA) seiring dengan mulai beroperasinya pabrik pengolahan CGA di Tayan, Kalimantan Barat. Selain itu Antam juga tengah mengembangkan bisnis pembangkit tenaga listrik.

Pada tanggal 27 Nopember 1997, ANTM memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ANTM (IPO) kepada masyarakat sebanyak 430.769.000 saham (Seri B) dengan nilai nominal Rp500,- per saham dan Harga Penawaran Perdana sebesar Rp1.400,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Nopember 1997.



Anak Perusahaan PT Antam

PT Indonesia Coal Resources (Indonesia)
PT Cibaliung Sumberdaya (Indonesia)
PT Gag Nikel (Indonesia)
Asia Pacific Nickel Pty., Ltd. (Australia)
PT Antam Resourcindo (Indonesia)
PT Borneo Edo International (Indonesia)
PT Mega Citra Utama (Indonesia)
PT Indonesia Chemical Alumina (Indonesia)
PT Antam Jindal Stainless Indonesia (Indonesia)
PT Logam Mulia (Indonesia)


saham . bursajkse

Jumat, 22 Mei 2015

PT Vale Indonesia Tbk ( INCO.JK ) - Laba Bersih Meningkat 39,49 %, Pendapatan Turun Tipis 0,57 % ( Q1 2015 )





PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengumumkan pendapatan untuk triwulan Q1 2015 tercatat sebesar USD211,9 juta (18.040 MT dengan harga jual rata-rata USD11.745 per MT) setelah harga realisasi di triwulan tersebut turun 9% dari triwulan sebelumnya yaitu sebesar USD230,97 juta (19.423 MT dengan harga jual rata-rata USD10.972 per MT). Laba bersih Q1 2015 mencapai USD25,06 juta atau USD0,0025 per saham, naik 39,53% dari laba bersih Q1 2014 yaitu USD17,96 juta atau USD0,0018 per saham.

PT Vale Indonesia (INCO) membukukan laba periode berjalan naik 39,49 persen menjadi US$ 25,05 juta hingga kuartal I 2015. Pada periode sama tahun sebelumnya, perseroan mencatatkan laba sebesar US$ 17,96 juta.

Meski demikian, pendapatan perseroan turun tipis 0,57 persen menjadi US$ 211,88 juta pada kuartal I 2015 dari periode sama tahun sebelumnya US$ 213,11 juta. Penurunan pendapatan itu didorong dari harga realisasi turun 9 persen pada kuartal I 2015 menjadi 11.745 metrik ton dari periode kuartal I 2014 di kisaran 12.895 metrik ton.

Produksi nikel juga turun 15,10 persen menjadi 17.476 metrik ton pada kuartal I 2015 dari periode sama tahun sebelumnya 20.586 metrik ton. Produksi nikel turun juga diikuti penjualan nikel sebesar 12,47 persen dari 20.611 metrik ton pada kuartal I 2014 menjadi 18.040 metrik ton pada kuartal I 2015.

"Harga nikel terus turun pada kuartal I 2015 dari tingkat yang pernah dicapai pada kuartal IV 2014. Namun demikian kami memutuskan untuk melanjutkan produksi dan kemudian di akhir kuartal untuk mulai beberapa pemeliharaan yang tadinya direncanakan untuk dilaksanakan akhir tahun sehingga memanfaatkan kondisi harga nikel rendah," ujar Nico Kanter, CEO PT Vale Indonesia Tbk, seperti dikutip dari siaran pers, Senin (4/5/2015).

Adapun pemeliharaan itu mempengaruhi produksi nikel dalam matte PT Vale Indonesia yang turun sebesar 15 persen dari pencapaian produksi di kuartal IV 2014. Walau begitu Perseroan tetap mempertahankan rencana produksi pada 2015 sebesar kurang lebih 80 ribu metrik ton.

Pada saat bersamaan INCO terus mengontrol biaya secara hati‐hati. Beban pokok pendapatan untuk Q1 2015 adalah 14% lebih rendah dibandingkan beban pokok pendapatan yang terjadi pada triwulan sebelumnya; yang berarti sejalan dengan penurunan volume penjualan. Rendahnya biaya bahan bakar, pelumas dan bahan pembantu menyebabkan penurunan beban pokok pendapatan. Hal ini mencerminkan disiplin biaya dan produktivitas operasi di INCO.

Selain mengontrol biaya, dalam rangka mengantisipasi fluktuasi harga nikel yang tidak menguntungkan INCO akan senantiasa mengelola arus kasnya dengan hati‐hati. Kas dan setara kas Perseroan pada 31 Maret 2015 dan 31 Desember 2014 masing‐masing sebesar USD328,2 juta dan USD302,3 juta sementara sebagai belanja modal di Q1 2015 Perseroan mengeluarkan sekitar USD30,2 juta.

Pada tahun 2015 INCO akan tetap fokus pada berbagai inisiatif penghematan biaya untuk mempertahankan keunggulan biaya Perseroan tanpa mengkompromikan nilai utama Perseroan: Life Matters Most. Perseroan juga akan terus meningkatkan kapasitas peleburan dan mengoptimalkan proses produksinya.

Produksi nikel dalam matte INCO yang mengalami penurunan sebesar 15% dari pencapaian produksi di Q4 2014. Walaupun begitu Perseroan tetap mempertahankan rencana produksi tahun 2015 sebesar kurang lebih 80 ribu metrik ton (t).

INCO mengaku kunci dari kinerja tersebut disebabkan oleh berhasilnya perseroan menyelesaikan renegosiasi kontrak karya dengan pemerintah Indonesia, meningkatkan efisiensi serta merestrukturisasi biaya produksi dengan efektif.

Oleh karena itu manajemen INCO berkeyakinan bahwa Perseroan telah berada di jalur yang tepat untuk melaksanakan strateginya untuk memastikan rencana pertumbuhan jangka panjang yang menguntungkan dengan meningkatkan efisiensi dan keunggulan biaya serta memaksimalkan produksi melalui keunggulan operasional.

Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham terpantau indikator MA sudah bergerak naik dan pola Harami terbentuk pada Lower Bolinger Band yang menunjukan INCO dalam potensi rebound. Selain itu indikator Stochastic mulai bergerak di area jenuh jual.

Sementara indikator Average Directional Index terpantau bergerak naik didukung oleh +DI yang juga bergerak turun yang menunjukan pergerakan INCO dalam potensi penguatan  terbatas. Dengan kondisi teknikalnya dan didukung fundamentalnya, diprediksi laju INCO masih akan mencoba naik menuju garis resistant di level 3.600.

























Catatan:

PT Vale Indonesia Tbk (dahulu PT International Nickel Indonesia Tbk) (INCO) didirikan tanggal 25 Juli 1968 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1978. Kantor pusat INCO terletak di Plaza Bapindo, Citibank Tower, Lantai 22, Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55, Jakarta 12190. PabrikINCO berlokasi di Sorowako, Sulawesi Selatan.

Pemegang saham mayoritas INCO adalah Vale Canada Limited (58,73%) dan Sumitomo Metal Mining Co, Ltd. (20,09%). Vale Canada Limited merupakan induk usaha INCO sedangkan Vale S.A., sebuah perushaaan yang didirikan di Brasil merupakan pengendali utama INCO.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan INCO adalah dalam eksplorasi dan penambangan, pengolahan, penyimpanan, pengangkutan dan pemasaran nikel beserta produk mineral terkait lainnya. Saat ini, INCO memproduksi nikel dalam matte dari bijih lateritik dengan penambangan dan pengolahan terpadu di dekat Sorowako di Pulau Sulawesi.

Pada tahun 1990, INCO memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham INCO (IPO) kepada masyarakat sebanyak 49.681.694 dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dengan harga penawaran Rp9.800,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 16 Mei 1990.

Diketahui, pada tahun ini, perusahaan multinasional Brazil tersebut akan melakukan perluasan tahap pertama fasilitas produksi Soroako. Pembangunan diperkirakan selesai dalam tiga tahun, dengan peningkatan kapasitas produksi menjadi 90.000 ton nikel.

Saat ini, PT Vale menjadi produsen nikel terbesar di Indonesia dan menyumbang 5% pasokan nikel dunia.

PT Vale menambang nikel laterit/saprolit dan mengolahnya menjadi nickel matte, yang dikirim ke konsumen tetap kami di Jepang.

Nikel banyak dikombinasikan dengan logam lain untuk membentuk campuran yang dikenal karena fleksibilitas dan ketahanannya terhadap oksidasi dan korosi. Logam ini mampu mempertahankan karakteristiknya bahkan dalam suhu ekstrem. Nikel digunakan dalam berbagai produk, seperti televisi, baterai isi ulang, koin, peralatan makan bahkan gerbong kereta.

Lini produksi 
PT Vale beroperasi dengan energi terbarukan yang dihasilkan oleh tiga pembangkit listrik tenaga air, yang secara keseluruhan menghasilkan 365 mega watt tenaga listrik. Saat ini, tingkat produksi tahunan kami mencapai rata-rata 75.000 metrik ton nickel matte. Dengan investasi lanjutan sebesar USD $2 miliar, kami menargetkan peningkatan produksi tahunan menjadi 120 ribu metrik ton nikel matte dalam lima tahun ke depan.





saham . bursajkse



Jumat, 15 Mei 2015

PT Vale Indonesia Tbk ( INCO.JK ) - Tahan Dividen Final Demi Ekspansi


Image result for vale indonesia

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memutuskan hanya akan membagikan dividen interim atas kinerjanya tahun lalu ( 2014 ). Perseroan tidak membagikan dividen final lantaran ingin menyimpan dana kas untuk ekspansi.

Seperti diketahui, INCO telah mengalokasikan US$ 100 juta dari laba bersih untuk periode tahun yang berakhir 30 September 2014. Jumlah dividennya sebesar US$ 0,01007 per saham. Dividen itu sudah dibagikan pada akhir tahun 2014. Secara total pembayaran dividen tersebut mencapai 58% dari laba bersih perseroan.

Tahun 2014, INCO berhasil membukukan kenaikan laba bersih tiga kali lipat menjadi US$ 172,3 juta. Hal ini karena INCO berhasil menyelesaikan renegosiasi kontrak karya dengan pemerintah.

Setelah mencapai rekor produksi tahun lalu sebesar 78.726 ton nikel, tahun ini PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) membidik target produksi tumbuh tipis 1,6% menjadi 80.000 ton nikel.

Nico Kanter, Presiden Direktur Vale Indonesia, mengatakan meski tumbuh tipis, perseroan membidik rekor baru pada target produksi tahun ini hingga mencapai 80.000 ton nikel.

'Utamanya melalui penerapan strategi penambangan baru kami,' katanya dalam laporan tahunan yang dipublikasikan Selasa (10/3/2015).

Dia mengatakan, pendapatan perseroan akan dipengaruhi oleh produksi dan harga nikel. Target produksi yang tetap tinggi dan harga yang diperkirakan masih kuat, diperkirakan harga nikel akan meningkat dibandingkan tahun lalu akibat penurunan produksi nikel dunia.

Hal itu, sambungnya, terutama disebabkan oleh kurangnya ekspor bijih nikel dari Indonesia yang pengirimannya berhenti pada awal 2014 lalu. Persediaan bijih nikel di China menurun selama 2014 dan akan berakibat pada kekurangan produksi nikel tahun ini.

Menurutnya, harga komoditas yang cenderung menurun, termasuk minyak, berpotensi membawa penghematan biaya bagi Vale Indonesia pada tahun ini. Proyek penghematan biaya yang lain terus diusahakan pada tahun ini mengikuti tahun sebelumnya.

'Namun, padatahun 2015, Vale Indonesia akan menghadapi dampak dari tingkat royalti baru dan juga biaya yang lebih tinggi dari strategi penambangan baru kami,' paparnya.

Sepanjang tahun lalu, total produksi nikel mencapai 78.726 t Ni atau 1% di bawah target yang dipatok perseroan. Pendapatan yang diperoleh INCO mencapai US$1.038,1 juta atau 2% lebih tinggi dari target akibat naiknya harga nikel.

Keuntungan perusahaan mencapai 53% lebih tinggi dari terget akibat kenaikan harga nikel dan penurunan biaya produksi. Sedangkan, pengeluaran modal pada tahun lalu lebih rendah 51% dari target sebesar US$163 juta akibat penyelesaian beberapa perizinan dan keputusan untuk mengkaji lebih lanjut proyek pembangunan kembali Tanur Listrik.

Perusahaan nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berencana membangun pabrik smelter (pabrik pengolahan) baru di Bahodopi, Sulawesi Selatan, dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Pembangunan di lokasi baru ini juga dibarengi ekspansi tahap kedua smelter Soroako, Sulawesi Selatan. Total nilai investasi seluruh proyek mencapai US$ 4 miliar atau Rp 52 triliun.

Direktur Keuangan Vale Febriany Eddy mengungkapkan, proyek Soroako dan Bahodopi akan memakan biaya masing-masing US$ 1,5 miliar dan US$ 500 juta. Sementara proyek Pomalaa akan menghabiskan sekitar US$ 2 miliar.

"Ini merupakan proyek ekspansi jangka panjang. Kami akan menggabungkan kombinasi pendanaan internal, loan, juga dari mitra strategis," kata Febriany, di Jakarta, Selasa (31/3).

Untuk pengembangan di Pomalaa, perseroan akan menggandeng Sumitomo Metal Mining Co Limited. Kerja sama ini akan direalisasikan dalam bentuk perusahaan patungan (joint venture/JV). Saat ini, perseroan baru menyelesaikan studi pra-kelayakan. Adapun mekanisme pengolahan yang sedang dikaji meliputi proses hidrometalurgi dari Sumitomo.

Pabrik pengolahan bijih nikel ini akan dirancang dengan kapasitas kurang lebih 40.000 ton Ni dalam MSP (mixed sulfide precipitate) per tahun, dengan kemampuan produksi sampai dengan sekitar 50.000 ton Ni per tahun.

Febriany menambahkan, perseroan optimistis mampu membukukan kinerja yang lebih baik sepanjang 2015 dibandingkan tahun lalu. Perseroan tengah bersiap melakukan ujicoba penerapan konversi batu bara. Sebelumnya, perseroan pernah melakukan uji coba serupa.

"Pada awal tahun, kami ujicoba pada satu kelen. Nanti kalau berhasil, kami akan terapkan ke lima kelen yang kami miliki saat ini," pungkas dia.

Pada Q1 - 2015, Vale Indonesia berhasil membukukan peningkatan pada laba bersih, meski pendapatan turun.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat pendapatan triwulan I-2015 turun 0,58% menjadi US$211,88 juta, dari pendapatan sebelumnya US$213,11 juta di periode yang sama tahun lalu.

Meski pendapatan turun, namun INCO berhasil mencatat adanya peningkatan pada laba bersih di periode tersebut setelah beban pokok pendapatan dan biaya keuangan perseroan di triwulan I-2015 berhasil ditekan.

Dalam laporan keuangannya, tercatat beban pokok pendapatan di triwulan I-2015 turun menjadi US$165,42 juta dari sebelumnya US$176,86 juta di periode yang sama tahun lalu.

Laba kotor triwulan I-2015 naik menjadi US$46,46 juta dari sebelumnya US$36,25 juta. Sementara laba usaha triwulan I-2015 tercatat naik menjadi US$36,83 juta dari sebelumnya US$27,34 juta.

Adanya biaya keuangan yang berhasil ditekan menjadi US$3,24 juta dari sebelumnya US$3,30 juta, membuat laba sebelum pajak tercatat naik menjadi US$33,59 juta dari sebelumnya US$24,04 juta, dan laba periode berjalan naik menjadi US$25,06 juta dari sebelumnya US$17,96 juta.

Sementara itu, total aset perseroan sampai dengan Maret 2015 tercatat mencapai US$2,33 miliar atau naik dari periode sebelumnya di akhir tahun 2014 sebesar US$2,26 miliar. Adapun liabilitas dan ekuitas di triwulan I-2015 masing-masing tercatat sebesar US$524,68 juta dan US$1,81 miliar.



















Catatan:

PT Vale Indonesia Tbk (dahulu PT International Nickel Indonesia Tbk) (INCO) didirikan tanggal 25 Juli 1968 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1978. Kantor pusat INCO terletak di Plaza Bapindo, Citibank Tower, Lantai 22, Jln. Jend. Sudirman Kav. 54-55, Jakarta 12190. Pabrik INCO berlokasi di Sorowako, Sulawesi Selatan.

Pemegang saham mayoritas INCO adalah Vale Canada Limited (58,73%) dan Sumitomo Metal Mining Co, Ltd. (20,09%). Vale Canada Limited merupakan induk usaha INCO sedangkan Vale S.A., sebuah perushaaan yang didirikan di Brasil merupakan pengendali utama INCO.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan INCO adalah dalam eksplorasi dan penambangan, pengolahan, penyimpanan, pengangkutan dan pemasaran nikel beserta produk mineral terkait lainnya. Saat ini, INCO memproduksi nikel dalam matte dari bijih lateritik dengan penambangan dan pengolahan terpadu di dekat Sorowako di Pulau Sulawesi.

Pada tahun 1990, INCO memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham INCO (IPO) kepada masyarakat sebanyak 49.681.694 dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dengan harga penawaran Rp9.800,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 16 Mei 1990.

Diketahui, pada tahun ini, perusahaan multinasional Brazil tersebut akan melakukan perluasan tahap pertama fasilitas produksi Soroako. Pembangunan diperkirakan selesai dalam tiga tahun, dengan peningkatan kapasitas produksi menjadi 90.000 ton nikel.

saham . bursajkse