Selasa, 23 Juni 2015

Pasar Modal Segera Dijadikan Kendaraan Investasi Dana Pensiun

Image result for dana pensiun

Perkumpulan Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) meyakini pada akhir paruh pertama 2015 dana pensiun mulai marak berinvestasi di pasar modal melalui instrumen saham dan obligasi.

"Dana pensiun memang seharusnya memanfaatkan penurunan tajam IHSG, mumpung harga sedang murah," ucap Ketua Perkumpulan ADPI, Mudjiharno M Sudjono, di Jakarta, Senin (22/6) malam.

Menurut Mudjiharno, pihaknya meyakini bahwa dana pensiun segera menggerojoki pasar modal setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 17 Juni 2015 menurun 5,38 persen (y-t-d) atau minus di atas enam persen dalam sebulan terakhir.

Mudjiharno menambahkan, per 17 Juni 2015, rupiah sudah terdepresiasi sebesar 7,49 persen (y-t-d) terhadap dollar AS, dan tekanan yang sama juga terjadi di pasar obligasi.

Dia mengatakan, keyakinan bahwa dana pensiun akan marak memasuki pasar modal--terutama saham dan obligasi--terkait erat dengan imbauan Perkumpulan ADPI yang menyarankan agar 231 anggotanya segera masuk pasar.

"Kami meminta agar dana pensiun tidak panik terhadap penurunan IHSG, karena secara umum tidak ada kebutuhan likuiditas yang ketat. Bahkan, dana pensiun seharusnya memanfaatkan situasi ini dengan segera masuk pasar modal," paparnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, saat ini Perkumpulan ADPI meminta agar dana pensiun yang memiliki bisnis bersifat jangka panjang untuk menempatkan dana di saham, obligasi, reksa dana, sukuk, KIK EBA dan Surat Berharga Negara.

"Kami juga meminta agar dana pensiun membeli lelang SBN yang dilakukan secara rutin oleh pemerintah, karena risikonya nol dengan jangka waktu yang panjang. Sehingga, mereka juga turut membantu membiayai APBN," ucap Mudjiharno.

Mudjiharno mengungkapkan, hingga akhir Maret 2015, total investasi dana pensiun mencapai Rp187,57 trilun. "Porsi terbesar memang masih ditempatkan di deposito berjangka yang mencapai 29,82 persen," katanya.

Dia merincikan, dari total investasi tersebut, porsi obligasi sebesar 20,81 persen, SBN 16,65 persen, saham 15,86 persen, reksa dana 6,44 persen, sukuk 0,61 persen dan KIK EBA sebesar 0,15 persen.

"Strategi investasi kami ke depan akan mengarahkan investasi di deposito agar masuk ke pasar modal. Banyak instrumen investasi jangka panjang yang lebih menguntungkan di pasar modal," jelas dia.

Dia menegaskan, perlambatan ekonomi, penurunan IHSG dan depresiasi rupiah seharusnya segera direspons oleh dana pensiun dengan berinvestasi di instrumen jangka panjang.

"Dana pensiun jangan malah ikut-ikutan menjual di pasar modal, karena dikhawatirkan memperkeruh suasana. Kalau dana pensiun, BPJS dan asuransi jiwa mulai panik, maka pasar bisa ambruk seperti 1998," tutur Mudjiharno. 



saham . bursajkse

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.