Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah terhadap dollar AS menjadi faktor utama yang membentuk tingkat suku bunga acuan berada di level 7,5 persen, padahal ekonomi domestik membutuhkan BI Rate yang lebih rendah.
Penilaian itu dikatakan Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Dody Zulverdi, di Jakarta, Senin (22/6). "Memang kami perlu untuk menurunkan suku bunga, tetapi kami masih menunggu keseimbangan antara global dan rupiah," ujar Dody.
Dody menjelaskan, tingginya level BI Rate di angka 7,5 persen bukan semata-mata untuk menjaga laju inflasi menuju sasaran empat plus-minus satu persen pada 2015 dan 2016. "Tetapi, terutama pada pelemahan nilai tukar rupiah kita," ucapnya.
Dia mengungkapkan, depresiasi rupiah terhadap dollar AS memaksa bank sentral untuk kembali mempertahan BI Rate di level 7,5 persen. "Situasi ekonomi global, terutama pasar keuangan dunia masih belum memiliki kepastian," kata Dody.
Menurut dia, sentimen negatif dari global itu terutama terkait ketidakpastian penyelesaian masalah utang Yunani dan rencana Federal Reserve AS yang akan menaikkan Fed funds rate. "Ini yang memicu ketidakpastian di dalam negeri, sehingga memicu pelemahan rupiah," tuturnya.
Pada dasarnya, ungkap Dody, perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional perlu mendapatkan dukungan dari kebijakan moneter dalam bentuk BI Rate yang lebih rendah.
"Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, maka memang suku bunga harus diturunkan. Tetapi, kami masih menunggu kepastian global, sehingga kami tahan dahulu deh untuk menurunkan suku bunga," papar Dody.
Penilaian itu dikatakan Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Dody Zulverdi, di Jakarta, Senin (22/6). "Memang kami perlu untuk menurunkan suku bunga, tetapi kami masih menunggu keseimbangan antara global dan rupiah," ujar Dody.
Dody menjelaskan, tingginya level BI Rate di angka 7,5 persen bukan semata-mata untuk menjaga laju inflasi menuju sasaran empat plus-minus satu persen pada 2015 dan 2016. "Tetapi, terutama pada pelemahan nilai tukar rupiah kita," ucapnya.
Dia mengungkapkan, depresiasi rupiah terhadap dollar AS memaksa bank sentral untuk kembali mempertahan BI Rate di level 7,5 persen. "Situasi ekonomi global, terutama pasar keuangan dunia masih belum memiliki kepastian," kata Dody.
Menurut dia, sentimen negatif dari global itu terutama terkait ketidakpastian penyelesaian masalah utang Yunani dan rencana Federal Reserve AS yang akan menaikkan Fed funds rate. "Ini yang memicu ketidakpastian di dalam negeri, sehingga memicu pelemahan rupiah," tuturnya.
Pada dasarnya, ungkap Dody, perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional perlu mendapatkan dukungan dari kebijakan moneter dalam bentuk BI Rate yang lebih rendah.
"Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, maka memang suku bunga harus diturunkan. Tetapi, kami masih menunggu kepastian global, sehingga kami tahan dahulu deh untuk menurunkan suku bunga," papar Dody.
saham . bursajkse






0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.