Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah menyiapkan berbagai langkah strategis agar industri galangan kapal nasional bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, salah satunya dengan meningkatkan utilisasi.
Kepala BKPM, Franky Sibarani, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (22/6), mengatakan diproyeksikan kebutuhan kapal di Indonesia mencapai 1.000 unit per tahun, sementara kemampuan galangan kapal dalam negeri saat ini baru mencapai 30% dari jumlah tersebut.
"BKPM akan mendorong investor yang baru masuk dan membutuhkan kapal untuk membeli dari industri galangan kapal nasional. Untuk mendorong peningkatan utilisasi industri galangan kapal nasional adalah kerjasama dengan asosiasi industri kapal nasional untuk mengidentifikasi dan mendata kapal-kapal yang dibutuhkan, tapi belum dapat diproduksi oleh industri galangan kapal dalam negeri," kata Franky.
Data kebutuhan kapal di Tanah Air tersebut, kata dia, menjadi basis BKPM dalam melakukan pemasaran investasi untuk sektor perkapalan. Pihaknya akan menarik investasi sektor perkapalan hanya untuk jenis kapal yang tidak bisa diproduksi dalam negeri dan investasi sektor perkapalan yang terintegrasi dengan industri komponen kapal.
Mengingat, Franky menyebutkan, hingga saat ini 70% komponen perkapalan masih impor. Melalui dua jenis investasi tersebut, ia mengklaim dapat memperkuat industri perkapalan nasional. Karena industri perkapalan memiliki multiplier effect yang cukup besar, baik dalam hal tenaga kerja maupun menggerakkan rantai industri sektor pendukungnya.
Dia mencontohkan industri galangan kapal di Batam pernah menyerap tenaga kerja hingga 250 ribu orang. Kemudian, sebuah perusahaan galangan kapal di Cebu, Filipina dapat menyerap tenaga kerja hingga 11 ribu orang, baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. "Pertumbuhan industri perkapalan nasional juga akan mendorong perkembangan industri lainnya, seperti baja, komponen kapal dan sebagainya," ucapnya.
Data BKPM menunjukkan, sejak Oktober 2014-Mei 2015, terdapat 5(lima) minat investasi sektor perkapalan yakni dari Australia dengan nilai investasi sebesar US$150 Juta, Jepang US$40 Juta, Tiongkok US$5,15 Miliar dan 2(dua) minat investasi dari Korea Selatan dengan nilai investasi US$4 Miliar. Menurut Franky, mereka berminat masuk pada tiga industri inti di sektor perkapalan, yaitu industri pembuatan kapal (ship building), jasa reparasi kapal (ship repair), dan jasa pemotongan kapal (ship breaking).
Kepala BKPM, Franky Sibarani, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (22/6), mengatakan diproyeksikan kebutuhan kapal di Indonesia mencapai 1.000 unit per tahun, sementara kemampuan galangan kapal dalam negeri saat ini baru mencapai 30% dari jumlah tersebut.
"BKPM akan mendorong investor yang baru masuk dan membutuhkan kapal untuk membeli dari industri galangan kapal nasional. Untuk mendorong peningkatan utilisasi industri galangan kapal nasional adalah kerjasama dengan asosiasi industri kapal nasional untuk mengidentifikasi dan mendata kapal-kapal yang dibutuhkan, tapi belum dapat diproduksi oleh industri galangan kapal dalam negeri," kata Franky.
Data kebutuhan kapal di Tanah Air tersebut, kata dia, menjadi basis BKPM dalam melakukan pemasaran investasi untuk sektor perkapalan. Pihaknya akan menarik investasi sektor perkapalan hanya untuk jenis kapal yang tidak bisa diproduksi dalam negeri dan investasi sektor perkapalan yang terintegrasi dengan industri komponen kapal.
Mengingat, Franky menyebutkan, hingga saat ini 70% komponen perkapalan masih impor. Melalui dua jenis investasi tersebut, ia mengklaim dapat memperkuat industri perkapalan nasional. Karena industri perkapalan memiliki multiplier effect yang cukup besar, baik dalam hal tenaga kerja maupun menggerakkan rantai industri sektor pendukungnya.
Dia mencontohkan industri galangan kapal di Batam pernah menyerap tenaga kerja hingga 250 ribu orang. Kemudian, sebuah perusahaan galangan kapal di Cebu, Filipina dapat menyerap tenaga kerja hingga 11 ribu orang, baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. "Pertumbuhan industri perkapalan nasional juga akan mendorong perkembangan industri lainnya, seperti baja, komponen kapal dan sebagainya," ucapnya.
Data BKPM menunjukkan, sejak Oktober 2014-Mei 2015, terdapat 5(lima) minat investasi sektor perkapalan yakni dari Australia dengan nilai investasi sebesar US$150 Juta, Jepang US$40 Juta, Tiongkok US$5,15 Miliar dan 2(dua) minat investasi dari Korea Selatan dengan nilai investasi US$4 Miliar. Menurut Franky, mereka berminat masuk pada tiga industri inti di sektor perkapalan, yaitu industri pembuatan kapal (ship building), jasa reparasi kapal (ship repair), dan jasa pemotongan kapal (ship breaking).
saham . bursajkse






0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.