Berikut 4 alasan perlambatan menurut sejumlah ekonom yang disurvei Bloomberg:
1. Pengeluaran konsumen berkurang
Belanja konsumen, yang telah menjadi pendorong utama ekspansi ekonomi Indonesia selama ini, menunjukkan tanda-tanda pelemahan karena rupiah melemah, suku bunga tinggi, dan inflasi akibat kenaikan harga BBM.
Perusahaan konsumer seperti PT Indofood Sukses Makmur, PT Gudang Garam, dan PT Astra International mencatat penurunan laba pada kuartal pertama tahun ini, yang mendorong aksi jual saham pekan lalu di tengah kekhawatiran investor tentang prospek ekonomi.
"Konsumsi swasta digunakan untuk menjadi faktor utama untuk mendorong pertumbuhan, tetapi ternyata tidak cukup kuat seperti sebelumnya," kata ekonom Oversea-Chinese Banking Corp Wellian Wiranto.
Penjualan mobil diperkirakan turun antara 5 persen sampai 10 persen tahun ini dari 1,2 juta pada tahun 2014, seperti diakui Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International, beberapa waktu lalu.
2. Ekspor Tertekan
Ekspor komoditas Indonesia terus mengalami penurunan karena melambatnya permintaan di China, pasar ekspor utama Indonesia untuk produk minyak sawit, karet, minyak mentah, batubara, timah, dan sumber daya alam lainnya.
Pemerintah memang berusaha untuk mendorong manufaktur, tetapi agaknya industri yang belum menunjukkan perbaikan. Nilai tukar rupiah yang lemah juga tidak membantu eksportir karena ketergantungan bahan baku impor yang tinggi.
Ekspor pada Maret anjlok 9,75 persen dibanding bulan yang sama tahun lalu, dengan harga minyak dan gas turun 25 persen.
3. Belanja pemerintah belum dimulai
Pemerintah memang berjanji akan membelanjakan puluhan triliun rupiah dari penghematan subsidi BBM untuk membangun infrastruktur, yang diyakini akan memacu pertumbuhan. Tetapi, program itu belum dimulai. Kendala lahan diperkirakan akan menghadang.
"Sangat penting bagi pemerintah untuk memastikan fiskal bekerja dan semua proyek yang direncanakan berjalan," ujar ekonom DBS Group Holdings di Singapura, Gundy Cahyadi.
Menkeu Bambang Brodjonegoro belum lama ini mengakui, pemerintah baru menghabiskan Rp7 triliun untuk infrastruktur dari target Rp290 triliun tahun ini.
4. Kini, investor bersikap menunggu
Data yang baru dirilis akhir bulan lalu menyebut total investasi meningkat 16,9 persen pada kuartal I, menuju rekor Rp124,6 triliun, dibanding kuartal yang sama tahun lalu. Hal ini banyak dibantu pelemahan rupiah.
Namun, untuk dolar, investasi asing langsung justru turun lebih dari 4 persen dibanding kuartal I tahun lalu , meski penurunan menipis jika dibandingkan dengan kuartal terakhir 2014.
"Investor tampaknya menunggu realisasi (perbaikan ekonomi) sekarang," ujar Wiranto, merujuk pada perkiraan pertumbuhan di bawah 5 persen.
belajar saham . bursajkse . pelajari analisa pergerakan investasi bursa IHSG . modal kecil , untung berlipat .






0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.