Senin, 22 Juni 2015

Pertumbuhan Ekonomi AS Tidak Mendorong Ekspor di Kawasan Asia

Image result for us economy growth 2015

Eskpor dari China, Jepang, Korea Selatan dan Singapura, tidak bertumbuh sejalan dengan indeks pabrikan AS versi Institute for Supply Management. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa ekspor barang dari Asia sudah tidak lagi tertuju ke sektor manufaktur AS.

Christy Tan, kepala strategi Asia di National Asutralia Bank Ltd menduga, selama masa pemulihan ekonominya AS membeli lebih banyak barang dari negara tetangga seperti Meksiko, bukan lagi dari Asia. Ia berpendapat,booming produksi shale gas menjaga keseimbangan permintaan antara AS dengan negara-negara tetangga.  

Tan menduga, melemahnya keterkaitan pertumbuhan sektor manufaktur AS dengan ekspor Asia terutama karena pemulihan ekonomi AS ebih berorientasi ke sektor jasa. Selain itu hasil dari peningkatan kemakmuran dan penyerapan tenaga kerja di AS lebih banyak digunakan untuk membayar utang ketimbang untuk konsumsi.

"Jelas sekali Asia tertinggal dari pemulihan AS. Demikian juga jika kita bicara mengenai pemulihan ekspor unggulan, saya khawatir hal itu tidak terjadi di Asia," ujar Tan, seperti dikutipBloomberg, (22/6). "Terjadi pergeseran struktural dalam pemulihan AS, dimana permintaan kini lebih banyak berorientasi domestik," imbuhnya.

Sebelumnya, pertumbuhan ekspor China, Jpeang, Koresel, dan Singapura  tercatat mengalamirebound pada data indeks pabrikan AS versi Institute for Supply Management, pada 2009. Tapi pada lima bulan pertama tahun ini, ekspor dari Korsel, Singapura dan China ke AS tumbuh lebih sedikit dibnading periode yang sama tahun 2007 dan 2010.

Data menunjukkan, pengiriman barang dari China, Januari-Mei 2015, naik 1,12 persen jauh dibawah angka 20 persen pada 2007, sebelum terjadinya krisis keuangan global. Meskipun ekspor China pada Februari lalu meningkat 48 persen dibanding tahun lalu namun terdistorsi oleh waktu pelaksanaan liburan Tahun Baru Cina.

Anjloknya harga komoditas di sejumlah negara - seperti Korea Selatan dengan jumlah kilang minyak yang besar – juga mempengaruhi jumlahnya. Pertumbuhan ekspor yang lebih rendah juga tercermin dari perlambatan perdagangan global secara umum sejak krisis keuangan 2008.

Pemulihan ekonomi AS pun tetap  rendah, dimana tingkat pertumbuhan tahunan pada kuartal pertama  melorot menjadi 0,7 persen akibat cuara buruk, gangguan di pelabuhan dan penguatan dolar yang memangkas ekspor.

Survei Bloomberg menunjukkan, ekonom AS akan cendrung menguat pada kuartal ini. Tapi apakah akan mendorong ekspor dari Asia, masih belum jelas.



saham . bursajkse

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.